Kld Nav Rama Putra Salbi, Pemuda Natuna Pembawa Mimpi dari Pulau Terluar ke Geladak KRI Bima Suci

KRI Bima Suci-945,
KRI Bima Suci-945,

GURINDAM.ID – Angin pagi di Desa Air Nusa, Kecamatan Serasan Timur, Kabupaten Natuna, selalu membawa aroma asin Laut Natuna Utara. Di antara rimbun kelapa dan debur ombak yang menjadi teman sehari-hari, seorang anak laki-laki sering berdiri di tepian dermaga kecil, memandangi cakrawala dengan mata berbinar.

Ia bukan sekadar menatap laut, tetapi menatap masa depan yang ia yakini ada di seberang sana sebuah masa depan yang kini telah ia genggam dengan gagah di geladak kapal termegah milik TNI Angkatan Laut.

Anak itu bernama Kelasi Dua Navigasi (Kld Nav) Rama Putra Salbi. Kini, namanya terukir dalam daftar awak terpilih KRI Bima Suci-945, kapal layar latih tiang tinggi yang bukan hanya kebanggaan Indonesia, tetapi juga duta diplomasi maritim yang telah mengharumkan nama bangsa ke seluruh penjuru dunia.

Rama Putra Salbi
Rama Putra Salbi

Perjalanan Rama menuju kapal legendaris itu bukanlah kisah biasa. Ia adalah putra dari seorang purnawirawan TNI AL, Sertu Mar (Purn) Abdul Salam, yang pensiun dengan pangkat terakhir Sersan Satu Marinir.

Sang Ibu Bibi Yanti, Di rumah sederhana mereka di Desa Air Nusa, darah pejuang dan disiplin militer mengalir deras dalam didikan sang ayah. Sejak kecil, Rama tidak hanya mendengar cerita tentang kejayaan bahari, tetapi menyaksikan langsung bagaimana cinta Tanah Air dirawat dalam diam, di salah satu pulau terluar yang menjadi beranda depan NKRI.

“Sejak kecil, bapak selalu bilang, ‘Nak, laut kita luas, jangan takut bermimpi besar. Tapi ingat, makin besar mimpi, makin besar pula pengorbanan yang harus kau siapkan.’ Saya pegang teguh pesan itu,” kenang Rama, suaranya bergetar menahan haru saat dihubungi dari kejauhan.

Lulus dari SMA 1 di Kecamatan Serasan, Rama muda tidak memilih jalan yang mudah. Ia menatap lurus cita-cita yang diwariskan ayahnya: menjadi prajurit Jalasena. Proses seleksi yang ketat ia lalui dengan tekad bulat. Setiap kali keraguan datang, bayangan wajah sang ayah yang dulu pernah berdiri dalam seragam loreng kebanggaan menjadi bahan bakar semangatnya.

Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan KRI Bima Suci. Kapal pelatihan sekaligus duta bangsa ini bukan sekadar kapal layar. Ia adalah simbol kejayaan maritim Indonesia.

Setiap inci kayu dan layarnya menyimpan filosofi mendalam tentang karakter, kepemimpinan, dan kecintaan pada negeri. Bertugas di kapal ini berarti menjadi representasi langsung wajah Indonesia di mata dunia.

Foto bersama siswa SMA 1 Serasan Kabupaten Natuna
Foto bersama siswa SMA 1 Serasan Kabupaten Natuna

Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Ranai Natuna, Kolonel Laut (P) Ady Dharmawan, S.IP.,P.S.C menyampaikan rasa bangga yang mendalam atas pencapaian Kld Nav Rama Putra Salbi.

Dalam keterangannya di Mako Lanal Natuna, Jum’at (10/7/2026), ia menegaskan bahwa sosok Rama adalah jawaban atas keraguan yang kerap menghantui generasi muda di daerah perbatasan.

“Rama adalah bukti hidup. Bahwa dari desa kecil di Serasan Timur, dari rumah seorang purnawirawan yang sederhana, bisa lahir seorang kesatria Jalasena yang kini bertugas di ikon maritim Indonesia. Ini adalah motivasi luar biasa bagi anak-anak Natuna. Tidak ada kata ‘terlalu jauh’ atau ‘terlalu kecil’ untuk meraih prestasi setinggi-tingginya,” ujar Kolonel Ady penuh semangat.

Tugas di KRI Bima Suci bukan sekadar kehormatan. Di atas kapal itu, Rama harus menguasai navigasi di perairan internasional, berinteraksi dengan delegasi asing dalam misi muhibah, dan menjaga nama baik Indonesia di setiap pelabuhan yang disinggahi.

Bagi seorang pemuda yang dulu hanya bermain perahu di pantai Serasan, ini adalah lompatan dahsyat yang membuktikan bahwa kualitas manusia Natuna mampu bersaing di pentas global.

“Dulu saya hanya bermimpi melihat KRI Bima Suci dari jauh. Sekarang, saya tidur di kabinnya, berdiri di kemudinya, dan ikut mengibarkan bendera Merah Putih di negara orang. Saya ingin adik-adik di Natuna tahu: selama ada kemauan, garis pantai tidak akan pernah membatasi masa depan kita,” tutur Rama, mengirimkan pesan motivasi yang dalam.

Kisah Rama adalah kisah tentang warisan yang dijaga. Dari sang ayah, Sertu Mar (Purn) Abdul Salam, yang dulu menjaga daratan dan lautan, kini sang anak melanjutkan pengabdian di geladak kapal layar paling megah.

Sebuah siklus pengabdian yang mengharukan, dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari satu pulau kecil di perbatasan menuju samudra luas dunia.

Danlanal Ady menutup pernyataannya dengan seruan yang membakar: “Kami menantikan Rama-Rama lainnya dari Natuna. TNI AL membuka pintu selebar-lebarnya.

Persiapkan diri kalian, asah ilmu, jaga fisik, dan rawat mental. Laut Natuna yang selama ini kita jaga, kelak akan kita serahkan kepada para pemuda terbaiknya. Rama telah menunjukkan jalannya, kini giliran kalian.”

KRI Bima Suci akan terus berlayar, membelah ombak, menyapa negara-negara sahabat. Dan di antara puluhan awaknya, berdiri seorang pemuda dari Desa Air Nusa, Serasan Timur.

Dengan seragam kebanggaan dan tatapan tajam ke depan, Kld Nav Rama Putra Salbi tidak hanya membawa nama keluarganya, tetapi juga membawa serta mimpi seluruh anak Natuna: bahwa dari pulau terluar, lahir putra terbaik yang menjaga tinggi harkat maritim Indonesia di mata dunia.

(RK)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *