BEIJING – Ketegangan geopolitik di kawasan Indo-Pasifik kembali memanas. China dan Rusia akan menggelar latihan angkatan laut gabungan tahunan Joint Sea-2026 bulan ini, diikuti patroli maritim bersama di Samudra Pasifik.
Hal ini menandakan semakin eratnya kerja sama militer antara dua kekuatan besar tersebut di tengah rivalitas dengan Barat.
Kementerian Pertahanan China mengumumkan latihan tersebut pada Minggu (5 Juli 2026). Latihan akan berlangsung di perairan dan wilayah udara lepas pantai Qingdao, pelabuhan militer strategis di timur China.
Setelah latihan selesai, pasukan kedua negara akan melanjutkan dengan patroli maritim gabungan di wilayah Samudra Pasifik yang tidak diumumkan secara spesifik.
Menurut pernyataan resmi Beijing, latihan dan patroli ini bertujuan untuk “bersama-sama menanggapi tantangan keamanan dan menjaga perdamaian serta stabilitas regional”.
Meski demikian, banyak pengamat melihat kegiatan ini sebagai demonstrasi kekuatan di tengah ketegangan global, khususnya sejak invasi Rusia ke Ukraina.
Hubungan militer Moskow-Beijing telah semakin intensif dalam beberapa tahun terakhir. Latihan “Joint Sea” telah rutin digelar sejak 2012. Tahun lalu, latihan serupa dilakukan di dekat Vladivostok, Rusia, dan juga diikuti patroli bersama di Pasifik.
Latihan Joint Sea-2026 digelar sekitar dua bulan setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengunjungi China. Saat itu, Putin menyatakan hubungan kedua negara telah mencapai “tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya”. Sementara Presiden China Xi Jinping menyebut kemitraan mereka sebagai “tak tergoyahkan”.
Kedekatan ekonomi, diplomatik, dan militer antara Rusia dan China semakin mengkhawatirkan negara-negara Barat. Banyak yang melihat Beijing sebagai pendukung tidak langsung bagi operasi militer Moskow di Ukraina, meski China secara resmi menyatakan diri netral dan kerap menyerukan perdamaian.
Amerika Serikat beserta sekutunya di kawasan Indo-Pasifik memantau perkembangan ini dengan cermat. Latihan gabungan semacam ini kerap dipandang sebagai upaya kedua negara untuk menantang dominasi pengaruh Washington di Asia-Pasifik.
Meski demikian, hingga kini Kementerian Pertahanan China belum merinci skala kekuatan yang akan dikerahkan dalam Joint Sea-2026, termasuk jumlah kapal perang, pesawat tempur, atau personel yang terlibat.
Sumber: GRD/vet














