Indonesia Kembali Gelar Naval Diplomacy ke Pasifik, Proyeksi “Jalesveva Jayamahe” untuk Seimbangkan Global

geladak KRI Wahidin Sudirohusodo-991
KRI Wahidin Sudirohusodo-991

JAKARTA – Menggema kembali semboyan legendaris “Jalesveva Jayamahe” (Di Laut Kita Jaya), Indonesia bersiap mengirim armada kapal perangnya dalam misi diplomasi maritim ketiga ke kawasan Pasifik dan Oseania.

Langkah taktis ini bukan sekadar pelayaran muhibah (port visit) rutin, melainkan manuver geopolitik terukur untuk mengisi ruang strategis di “halaman belakang” Indonesia yang kian rawan perebutan pengaruh kekuatan global.

Kepastian misi ini mengemuka dalam rapat koordinasi lintas sektoral yang digelar di atas geladak KRI Wahidin Sudirohusodo-991 di Surabaya, Rabu (3/6).

Dipimpin Deputi Bidang Koordinasi Politik Luar Negeri Kemenko Polkam, Mohammad K. Koba, pertemuan ini menyinergikan kekuatan militer dan korps diplomatik sipil dari Kementerian Luar Negeri serta Komando Armada II.

Agenda utama pertemuan membahas penguatan keterlibatan diplomasi Indonesia di Pasifik sepanjang 2026.

Pemerintah mengoptimalkan naval diplomacy sebagai instrumen soft power, menempatkan KRI Wahidin Sudirohusodo-991 bukan sebagai alat perang, melainkan duta kemanusiaan yang membawa misi kesehatan dan penguatan people-to-people contact.

Strategi RS Apung: Komunikasi Visual Persahabatan

Pemilihan kapal bantu rumah sakit (BRS) sebagai ujung tombak misi merupakan strategi komunikasi visual yang brilian.

Di tengah meningkatnya rivalitas China dan Australia, kehadiran kapal putih dengan palang merah ini mengirimkan pesan tegas: Indonesia datang membawa bantuan dan persahabatan, bukan ancaman.

Pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, menilai langkah ini sebagai diplomasi cerdas. “Ini adalah bagian dari strategi geopolitik Indonesia untuk menunjukkan eksistensi dan kepemimpinannya di kawasan yang sedang menjadi rebutan pengaruh kekuatan besar dunia,” ujarnya, Minggu (7/6).

Dengan rutin mengerahkan kapal perang, Indonesia menegaskan posisinya sebagai kekuatan regional yang sah dan peduli, bukan sekadar tetangga besar yang pasif.

Manuver ini menjadi penyeimbang geopolitik yang membuktikan kapabilitas proyeksi kekuatan (power projection) Indonesia yang damai namun tegas di koridor maritim Pasifik Barat.

Misi Ketiga: Meruntuhkan Tembok Mispersepsi

KRI Wahidin Sudirohusodo-991 bukanlah pendatang baru. Kapal produksi dalam negeri ini telah membuktikan keandalannya dalam dua misi sebelumnya.

Misi perdana pada Oktober 2024 sukses menyambangi Kepulauan Solomon, Fiji, Vanuatu, dan Papua Nugini. Misi kedua pada September 2025 berlayar berduet dengan kapal kombatan KRI RE Martadinata-331 menuju Papua Nugini.

Keberhasilan misi terdahulu mendorong pemerintah melanjutkan strategi ini. Dari perspektif soft power, misi ini merupakan instrumen penetrasi kultural yang efektif. Sentimen negatif dan ketidaktahuan tentang Indonesia di kalangan masyarakat Pasifik coba dikikis langsung.

Ketika masyarakat lokal merasakan pengobatan gratis dan interaksi budaya, narasi abstrak tentang “Kekuatan Indonesia” berubah menjadi realitas konkret. Dikombinasikan dengan dana hibah pembangunan, Indonesia mendefinisikan ulang dirinya sebagai mitra pembangunan utama yang solutif dan memiliki identitas sebagai sesama bangsa maritim.

“Port visit merupakan instrumen diplomasi strategis yang tidak hanya perkuat hubungan antarnegara, tetapi juga perluas pengaruh positif Indonesia di kawasan melalui pendekatan damai, konstruktif, dan berorientasi pada manfaat nyata,” tegas Koba dalam keterangan Humas Kemenko Polkam RI, Kamis (4/6).

Dengan konsistensi misi ini, Indonesia membangun ikatan emosional mendalam di Pasifik dan menegaskan bahwa Jalesveva Jayamahe bukan sekadar slogan, melainkan peta jalan menuju stabilitas kawasan.

(GRD/har)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *