Bagaimana Seruan Dasco Mengguncang Pasar Modal RI

JAKARTA — Pasar modal Indonesia akhirnya mendapatkan ruang napas setelah dilanda gejolak akibat badai rating MSCI. Pada perdagangan Kamis (22/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil membalikkan keadaan dengan menguat 1,70% ke level 5.419,00 pada sesi I.

Di tengah drama dari panik menuju stabilisasi ini, seruan “Buy Indonesia” yang disuarakan Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, menjadi jembatan penting antara keyakinan politik dan sentimen pasar.

Dia mengatakan Indonesia mampu melewati tekanan yang terjadi di pasar modal terutama setelah keluarnya dana asing dan rating dari lembaga indeks global.

Di saat pasar dilanda aksi jual dan tekanan dari lembaga pemeringkat, politisi Partai Gerindra itu memilih langkah intervensi yang sarat makna. Melalui akun Instagram pribadinya @sufmi_dasco pada Selasa (20/10/2026), Dasco menyerukan kepada seluruh pihak untuk “Buy Indonesia”.

“Biarpun uang keluar, biarpun rating bertubi-tubi hantam, tetapi dengan fundamental yang kuat dan langkah yang diambil tepat, kita mampu melewati,” ujar Dasco dalam unggahannya.

Ia menegaskan posisi Indonesia yang tegas namun tetap terbuka: “Kita menghormati rating, tetapi kita independen dan bersatu untuk Indonesia.”

Seruan ini bukan sekadar retorika politik. Beberapa hari sebelumnya, saat MSCI mengumumkan kajian penurunan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market yang memicu IHSG anjlok lebih dari 11% dalam sehari, Dasco termasuk pejabat tinggi yang langsung mendatangi Bursa Efek Indonesia (BEI).

Ia mendesak otoritas bursa dan regulator segera melakukan pembenahan untuk menjawab kekhawatiran internasional terkait transparansi struktur kepemilikan saham dan praktik perdagangan.

Optimisme Dasco berbarengan dengan sikap tegas Presiden Prabowo Subianto. Sehari sebelum IHSG reboun, dalam Sidang Kabinet Paripurna di Jakarta (21/10/2026), Kepala Negara menegaskan bahwa Indonesia tidak akan gentar menghadapi ancaman penurunan klasifikasi pasar modal oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Kepastian politik dari level tertinggi ini menjadi katalis penting bagi pasar. Data BEI menunjukkan, meski IHSG sempat dibuka melemah ke posisi 5.247,98 dan menyentuh level terendah 5.185,53, tekanan jual berangsur mereda. Indeks berbalik arah dan mencapai level tertinggi 5.422,59 sebelum sesi pertama berakhir.

Penguatan ini didukung oleh mayoritas saham yang bergerak di zona hijau. Tercatat 550 saham menguat, sementara 131 saham melemah dan sisanya stagnan. Sektor energi memimpin penguatan dengan kenaikan 3,24%, diikuti sektor transportasi (2,60%), barang baku (2,27%), dan infrastruktur (2,20%).

Saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI kembali menjadi buruan utama dengan nilai transaksi terbesar, mencerminkan kepercayaan dana domestik terhadap aset-aset inti.

Meski seruan “Buy Indonesia” dan ketegasan Presiden mampu mendongkrak sentimen jangka pendek, sejumlah pengamat mengingatkan bahwa pemulihan kepercayaan tidak cukup hanya dengan seruan patriotisme.

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada, Mufti Nurlatifah, menilai seruan Dasco berupaya menjaga optimisme publik, namun “jika tidak disertai alasan konkret dan terukur mengapa publik harus optimistis, itu jauh dari cukup.” Ia memperingatkan bahaya mencampuradukkan semangat kebangsaan dengan investasi saham tanpa pertimbangan matang.

Senada, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai seruan patriotik semacam itu berpotensi menyesatkan jika investor institusi terus menarik dana. Menurutnya, risiko kerugian justru akan ditanggung investor ritel.

Fokus jangka panjang pasar tetap tertuju pada keputusan final MSCI. Lembaga itu memperpanjang masa konsultasi hingga April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat Juni tahun yang sama. Artinya, Indonesia memiliki jendela reformasi yang berharga.

Seperti tersirat dalam seruan Dasco, menghormati standar internasional dan menjaga independensi pasar bukanlah hal yang saling bertentangan kuncinya terletak pada kemampuan Indonesia menghadirkan kemajuan substantif dalam transparansi kepemilikan saham dan pengawasan perdagangan yang meyakinkan investor global.

Bagi pasar Indonesia yang baru saja melewati gejolak tajam, “Buy Indonesia” ala Dasco mungkin menjadi penawar sentimen yang tepat waktu. Namun penyembuhan sesungguhnya tetap bergantung pada konsistensi regulator dalam menjalankan reformasi tata kelola dan transparansi di bulan-bulan mendatang.

(GRD/int)

Editor: Suhardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *