SURABAYA – Di atas geladak KRI Alugoro-405 yang bersandar di Dermaga Ujung, Koarmada II, Surabaya, Sabtu (12/9/2026), Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali memimpin penyematan Brevet Kehormatan Hiu Kencana. Momen ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan penegasan komitmen seorang pemimpin yang memiliki latar belakang mendalam di dunia kapal selam.
Brevet Hiu Kencana merupakan lambang kehormatan bagi Satuan Kapal Selam TNI AL. Dalam kegiatan tersebut, Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin turut menerima penyematan sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap dedikasi serta pengabdian dalam mendukung penguatan kekuatan bawah air TNI Angkatan Laut.
Selain Wakasal, brevet kehormatan juga disematkan kepada sejumlah pejabat strategis, di antaranya Danpushidrosal, Koorsahli Kasal, Asintel Kasal, dan Askomlek Kasal. Penyematan ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-67 Hiu Kencana yang mengangkat semangat kebersamaan dan kebanggaan terhadap prajurit kapal selam.
Laksamana TNI Dr. H. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr., lahir di Bandung pada 9 April 1967 dan merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-35 tahun 1989. Namun, yang membedakannya dari banyak perwira tinggi TNI AL lainnya adalah jejak pendidikannya yang sangat fokus pada kapal selam.
Ali diketahui pernah menjalani Kursus Ausbildung Waffengerat U Boote 206 di Jerman pada 1997—pelatihan intensif untuk mengoperasikan kapal selam kelas U-206. Tidak berhenti di situ, ia melanjutkan pendidikan Submarine Warfare di Inggris pada 1999, memperdalam taktik dan strategi peperangan bawah air. Kombinasi pendidikan di dua negara dengan tradisi kapal selam kuat Jerman dan Inggris memberinya perspektif unik dalam memahami teknologi dan operasionalisasi kapal selam.
Pengalaman ini menjadi fondasi kuat bagi Ali dalam memimpin TNI AL menghadapi tantangan strategis di domain bawah air. Dalam berbagai kesempatan, ia tidak hanya berbicara sebagai Kepala Staf, tetapi sebagai seorang submariner yang memahami betul kompleksitas operasi kapal selam, mulai dari aspek teknis, taktis, hingga psikologis awak kapal.
Visi Besar: Pengendalian Ruang Maritim Atas dan Bawah Air
Dalam Seminar Nasional HUT Paguyuban Hiu Kencana yang digelar bersama SESKOAL, Ali memaparkan rencana strategis TNI Angkatan Laut tahun 2025–2045 yang berfokus pada kesiapan perang bawah air. Dokumen perencanaan ini menjadi peta jalan yang komprehensif bagi pembangunan kekuatan bawah air Indonesia.
“TNI Angkatan Laut telah menyusun kebijakan perencanaan strategis dengan substansi pembinaan kemampuan peperangan dan pembangunan kekuatan bawah air dalam dokumen Perencanaan TNI Angkatan Laut Tahun 2025 sampai dengan 2045,” kata kasal Ali di Auditorium Yos Soedarso Seskoal, Jakarta.
Fokus utama rencana strategis tersebut mencakup penguatan kemampuan peperangan bawah air, pengamatan terintegrasi dalam C6ISR (Command, Control, Communications, Computers, Cyber, Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance), pemanfaatan wahana tanpa awak, pemetaan bawah air, penyelamatan kapal selam, dan interoperabilitas.
KASAL Muhammad Ali menegaskan, strategi ini diwujudkan melalui penambahan kapal selam generasi baru, helikopter anti-kapal selam, hingga akselerasi kapal selam otonom tanpa awak (KSOT) sebagai force multiplier.
Salah satu tonggak penting dalam pembangunan kekuatan bawah air Indonesia adalah proyek kapal selam Scorpene Evolved. Pada 7 Agustus 2026, Ali menyaksikan langsung prosesi first steel cutting kapal selam tersebut di PT PAL Indonesia, Surabaya.
“Kegiatan ini dilaksanakan setelah 12 bulan sejak penandatanganan kontrak dengan Naval Group dan alhamdulillah berjalan lancar,” ujar kasal Muhammad Ali.
Kapal selam Scorpene Evolved memiliki panjang hampir 72 meter, dirancang untuk menyelam lebih dalam dan bertahan lebih lama di bawah air dibanding varian sebelumnya.
Pembangunannya dijadwalkan selesai dalam 96 bulan atau sekitar delapan tahun. Yang istimewa, proyek ini melibatkan talenta terbaik Indonesia dengan dukungan Naval Group dari Prancis. Ali bahkan menyebut bahwa Scorpene yang dibangun Indonesia adalah varian terbaru dan termutakhir.
“Ini adalah pencapaian signifikan. Ini pertama kalinya kami membangun kapal selam dari awal di Indonesia. Di antara negara-negara ASEAN, kita mungkin yang pertama membangun kapal selam secara domestik,” tegas kasal Muhammad Ali.
Namun, Ali menyadari sepenuhnya bahwa pembangunan Scorpene memakan waktu yang tidak singkat. Saat ini, Indonesia hanya memiliki empat kapal selam: KRI Cakra-401, KRI Nagapasa-403, KRI Ardadedali-404, dan KRI Alugoro-405. Jumlah ini jauh dari ideal untuk mengawasi wilayah laut Indonesia yang sangat luas.
Oleh karena itu, Ali mengungkapkan bahwa TNI AL tengah mempertimbangkan pembelian kapal selam interim dari beberapa negara penawar untuk mengisi kekosongan kemampuan selama periode pembangunan Scorpene. Langkah ini dinilai strategis untuk memastikan tidak ada kekosongan pertahanan bawah air yang dapat dimanfaatkan pihak lain.
Lebih visioner, kasal Muhammad Ali juga mendorong pengembangan kapal selam otonom tanpa awak (KSOT) bekerja sama dengan PT PAL Indonesia. Menurutnya, teknologi ini dinilai lebih efektif dan efisien untuk mendukung pengawasan dan pengintaian wilayah laut.
Dalam diskusi di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal), Jakarta, Ali menekankan pentingnya pengembangan drone bawah air untuk pengawasan laut Indonesia.
“Pengembangan teknologi bawah air saat ini makin maju. TNI AL terus mengkaji skema penggunaan drone bawah air untuk mendukung pengawasan dan pengintaian wilayah laut kita,” tegas Kasal Muhammad Ali.
Menurutnya, drone bawah laut sangat efektif dikerahkan untuk pemantauan karena dapat dengan mudah menelusuri titik-titik sempit atau choke point perairan strategis Indonesia seperti ALKI I, II, dan III. Dengan daya jelajah tinggi, drone bawah laut dapat mendeteksi pergerakan kapal asing serta mengantisipasi masuknya kapal ilegal ke wilayah RI.
Selain itu, teknologi ini juga berfungsi untuk memetakan kontur dasar laut Indonesia data yang krusial untuk membaca arus, pasang surut, dan kondisi laut yang dipenuhi karang atau bangkai kapal. Ali berharap TNI AL dan industri pertahanan dalam negeri dapat berkolaborasi mengembangkan teknologi ini demi penguatan pertahanan maritim.
Rangkaian peringatan HUT ke-67 Hiu Kencana yang dipimpin sang KASAL menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan, profesionalisme, dan kesiapsiagaan prajurit kapal selam. Usai kegiatan di KRI Alugoro-405, Kasal bersama para pejabat dan keluarga besar Hiu Kencana melanjutkan kegiatan Temu Kangen Hiu Kencana di Gedung Chandrasa, Koarmada II.
Kegiatan tersebut diisi dengan doa bersama serta pemutaran profil Satuan Kapal Selam dan Puskodalops Koopskasel. Suasana kebersamaan ini mencerminkan semangat korps Hiu Kencana yang solid sebuah tradisi yang telah terpelihara sejak satuan kapal selam TNI AL berdiri 67 tahun silam.
KASAL Muhammad Ali menegaskan, peringatan HUT ke-67 Hiu Kencana menjadi momentum untuk memperkuat semangat kebersamaan, profesionalisme, dan kesiapsiagaan prajurit kapal selam sebagai bagian penting dalam menjaga kedaulatan serta kepentingan nasional di laut. Hal ini sejalan dengan arahannya untuk terus membangun sumber daya manusia yang unggul dan memperkuat kemampuan TNI AL dalam menghadapi tantangan strategis ke depan.
Dalam berbagai kesempatan, Ali konsisten mendorong kemandirian industri pertahanan nasional. Ia mendukung penuh upaya PT PAL menuju produksi dan transfer teknologi secara penuh.
Direktur Utama PT PAL Indonesia, Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., dalam seminar yang sama menegaskan pentingnya penguasaan sistem, bukan sekadar platform. “PT PAL selama ini membahas tentang bagaimana platform kapal, baik itu kapal permukaan, kapal perang, kapal selam, kapal selam otonom, dan sebagainya. Semua itu diisi dengan berbagai sistem dan kita memiliki kendali atas semua potensi dari teknologi hingga kemampuan membangun,” ujarnya.
Pesan ini sejalan dengan visi Ali yang ingin Indonesia tidak hanya menjadi pengguna kapal selam, tetapi juga pengembang dan pemilik teknologi di dalamnya.
Dengan latar belakang pendidikan kapal selam yang mendalam, visi strategis yang komprehensif, serta komitmen pada kemandirian industri pertahanan, Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali membuktikan diri sebagai sosok pemimpin yang tidak hanya memahami kapal selam, tetapi juga mampu membawa TNI AL menuju era baru kekuatan bawah air yang tangguh dan modern.
(Bro/pen)














