Dua Generasi, Satu Pengabdian: Keteladanan Soedirman dan Gibran untuk Rakyat Indonesia

Indonesia
Indonesia

Oleh: Riky Rinovsky Redaksi Gurindam media group

GURINDAM.ID – Ada hal yang menarik ketika kita merenungkan perjalanan dua sosok yang berbeda generasi ini. Yang satu lahir di Purbalingga tahun 1916, yang satu lagi lahir di Surakarta tahun 1987. Jarak usia mereka terpaut 71 tahun lebih dari tujuh dekade. Namun jika kita telusuri lebih dalam, ada benang merah yang sama-sama menggetarkan hati: semangat berjuang di masa muda untuk negara dan rakyat.

Mari kita sejenak menoleh ke belakang, mengenang sosok yang mungkin bagi generasi milenial dan Gen Z hanya hadir dalam buku sejarah dan gambar uang kertas. Padahal, di balik nama Jenderal Besar Soedirman, tersimpan kisah perjuangan seorang pemuda yang jauh dari kemewahan.

Bayangkanlah seorang anak kecil yang harus direlakan oleh orang tuanya untuk diadopsi sang paman karena kemiskinan. Bayangkanlah seorang anak yang bersekolah di sekolah pribumi, lalu harus berpindah-pindah karena sekolahnya ditutup penjajah Belanda. Itulah Soedirman kecil bukan anak bangsawan, bukan anak pejabat, hanya anak seorang buruh pabrik gula.

Namun dari kesederhanaan itu, tumbuh karakter yang luar biasa. Di sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs Wirotomo Purwokerto, Soedirman muda aktif mempelajari keislaman di bawah bimbingan Raden Muhammad Kholil.

Teman-temannya bahkan menjulukinya “Haji” karena kegigihannya berceramah dan belajar agama. Ia juga ikut mendirikan Hizbul Wathan, organisasi kepanduan Muhammadiyah yang mengajarkan disiplin, kepemimpinan, dan cinta tanah air.

Ketika pamannya wafat pada 1934 dan keluarganya jatuh miskin, Soedirman tidak menyerah. Ia tetap bisa menyelesaikan sekolahnya karena pihak sekolah mengizinkannya belajar tanpa membayar. Inilah pelajaran pertama dari Soedirman ketika keadaan tidak berpihak, kerja keras dan integritas akan membuka jalan.

Setelah lulus, ia sempat belajar di Kweekschool sekolah calon guru milik Muhammadiyah meski harus berhenti karena kekurangan biaya. Soedirman kemudian kembali ke Cilacap dan menjadi guru di Sekolah Dasar Muhammadiyah.

Bayangkan, seorang pemuda yang kelak menjadi Panglima Besar TNI, memulai pengabdiannya sebagai guru SD dengan gaji kecil. Ia mengajarkan moral kepada murid-muridnya melalui kisah para Rasul dan wayang tradisional. Dalam beberapa tahun, ia dipercaya menjadi kepala sekolah meskipun tidak memiliki ijazah guru.

Dari sini kita belajar: gelar formal bukanlah satu-satunya ukuran kapasitas. Dedikasi dan hasil kerja nyatalah yang membuktikan kualitas seseorang.

Ketika Jepang menduduki Indonesia tahun 1942 dan menutup sekolah tempatnya mengajar untuk dijadikan pos militer, Soedirman tidak tinggal diam. Ia melakukan negosiasi dengan militer Jepang hingga akhirnya diberi izin mengajar kembali, meski dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Keberanian bernegosiasi dan mencari solusi di tengah keterbatasan ini karakter yang jarang dibicarakan dari Soedirman, padahal sangat relevan bagi generasi muda saat ini.

Tahun 1944, Soedirman bergabung dengan Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor untuk mendapatkan pelatihan militer. Karena posisinya sebagai tokoh masyarakat, ia langsung diangkat sebagai Komandan Batalyon (Daidanco) di Kroya, Cilacap.

Ketika Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, Soedirman berangkat ke Jakarta menemui Bung Karno dan Bung Hatta. Ia mendapat perintah langsung untuk bergerak melawan pasukan Jepang, dan berhasil melucuti senjata mereka di Banyumas.

Pada usia 29 tahun, Soedirman ditunjuk Presiden Soekarno sebagai Pemimpin Tentara Keamanan Rakyat dengan pangkat Jenderal. Ia menjadi Panglima Besar TKR pertama dan termuda dalam sejarah Indonesia. Usia 29 tahun banyak dari kita di usia itu masih mencari jati diri, sementara Soedirman sudah memikul tanggung jawab mempertahankan kedaulatan seluruh bangsa.

Puncak keteladanan Soedirman terjadi ketika Agresi Militer II Belanda. Yogyakarta dikuasai, Presiden Soekarno dan Muhammad Hatta ditawan. Soedirman saat itu sedang sakit parah paru-parunya hanya tinggal satu yang berfungsi. Namun mendengar keadaan itu, hatinya terdorong untuk melawan.

Dengan ditandu, Soedirman memimpin perang gerilya selama kurang lebih tujuh bulan. Berpindah dari hutan ke hutan, dari gunung ke gunung, dalam keadaan sakit dan lemah, sementara obat pun tidak tersedia. Kepada pasukannya, ia selalu memberi semangat seakan-akan tidak merasakan penyakitnya.

Bayangkan momen itu: seorang pemuda yang seharusnya berbaring di rumah sakit, memilih ditandu menembus hutan demi rakyatnya. Inilah yang membuat Soedirman bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan simbol pengorbanan tanpa syarat.

Jenderal Soedirman wafat pada 29 Januari 1950 di Magelang, pada usia 34 tahun. Ia meninggal tak lama setelah pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 10 Desember 1964, dan dianugerahi pangkat kehormatan Jenderal Besar Bintang Lima pada tahun 1997.

Gibran: Wajah Baru Kepemimpinan Muda

Kini mari kita melangkah ke generasi berikutnya. Gibran Rakabuming Raka menjabat sebagai Wakil Presiden ke-14 Indonesia pada usia 37 tahun, menjadikannya wapres termuda dalam sejarah Indonesia. Seperti Soedirman yang memulai dari ruang kelas sederhana, Gibran memulai dari dunia usaha sebuah latar belakang yang jauh dari elit politik tradisional.

Sebagai Wali Kota Surakarta, Gibran membuktikan kemampuannya melalui berbagai terobosan yang dekat dengan kebutuhan masyarakat. Mulai dari pembangunan infrastruktur, pemberdayaan UMKM, hingga pemanfaatan teknologi untuk pelayanan publik. Ia menghadirkan wajah kepemimpinan baru yang modern, cepat, dan responsif.

Kunjungannya ke Pesantren Walisongo di Lampung dalam acara “Gibran Mendengar” pada 11 Oktober 2023 menunjukkan pendekatan yang membumi mendengar langsung, hadir di tengah rakyat, bukan hanya duduk di ruang rapat ber-AC. Dalam dunia politik yang sering dianggap penuh intrik dan dominasi generasi tua, kehadiran Gibran menjadi bukti nyata bahwa anak muda mampu tampil sebagai pemimpin.

Keberanian Gibran mengambil langkah politik di usia muda memberi inspirasi bagi generasi milenial dan Gen Z bahwa politik bukan hanya panggung orang tua, melainkan ruang bagi semua yang peduli pada bangsa. Dengan pendekatan kreatif, energik, dan gaya komunikasi yang lugas, ia mampu menjembatani harapan masyarakat muda dengan kebijakan nyata.

Pandangan redaksi Gurindam, Apa yang menyatukan Soedirman dan Gibran? Keduanya berjuang di masa muda. Keduanya memilih mengabdi, bukan sekadar menikmati. Keduanya menghadapi tantangan zamannya masing-masing dengan cara yang relevan.

Soedirman berjuang dengan senjata dan strategi gerilya melawan penjajah yang secara militer jauh lebih kuat. Gibran berjuang dengan gagasan dan kebijakan melawan stigma bahwa anak muda tidak layak memimpin. Dua medan yang berbeda, tetapi satu esensi: keberanian untuk mengambil tanggung jawab di usia muda.

Jika Soedirman mengajarkan kita tentang pengorbanan tanpa pamrih, Gibran mengajarkan kita tentang keberanian menembus batas. Jika Soedirman menunjukkan bahwa cinta tanah air diwujudkan dalam tindakan nyata bahkan ketika tubuhnya sendiri sudah tidak mampu Gibran menunjukkan bahwa kepemimpinan muda adalah keniscayaan, bukan anomali.

Pesan untuk Generasi Muda Indonesia

Ada satu kalimat yang selalu relevan dari kisah Soedirman: “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah.” Namun sejarah bukanlah sekadar hafalan tanggal dan nama. Sejarah adalah cermin untuk melihat siapa kita, dari mana kita berasal, dan ke mana kita harus melangkah.

Soedirman wafat di usia 34 tahun, tetapi namanya harum sepanjang masa. Gibran memulai karier politiknya di usia 30-an, dan kini menjabat sebagai orang nomor dua di republik ini. Keduanya membuktikan satu hal: usia bukan penghalang untuk berkontribusi besar bagi bangsa.

Maka untuk generasi muda Indonesia di mana pun berada apakah Anda seorang pelajar, mahasiswa, pekerja, atau pengusaha ingatlah bahwa perjuangan tidak selalu berarti mengangkat senjata. Perjuangan bisa berarti belajar dengan sungguh-sungguh, bekerja dengan jujur, menciptakan lapangan kerja, atau bahkan sekadar menjadi warga negara yang baik dan tidak apatis.

Soedirman pernah menjadi guru SD dengan gaji kecil. Gibran pernah menjadi pengusaha muda yang merintis dari nol. Tidak ada jalan pintas menuju kepemimpinan yang bermakna. Yang ada hanyalah kerja keras, integritas, dan keberanian untuk memulai.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, dan bangsa yang maju adalah bangsa yang memberi ruang bagi generasi mudanya untuk memimpin,” tegas penulis.

(Bro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *