JAKARTA — Di sebuah resepsi pernikahan di Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, pertemuan dua sosok istimewa membuat acara itu tak lagi biasa. Pada 15 Februari 2025 yang lalu, Presiden Republik Indonesia kedelapan, Prabowo Subianto, hadir sebagai tamu pribadi di pernikahan anak sahabatnya. Di tengah kerumunan, seorang pensiunan jenderal bertubuh tegap menunggu dengan sabar.
Ketika Presiden menghampirinya, ia menepuk pundak pria itu dan bertanya dengan nada yang hanya dimiliki dua sahabat lama: “Bagaimana kabarmu, Tang? ” ujar Tatang yang juga pembina dari ormas Setya Kita Pancasila.

Pria yang ditanya adalah Mayor Jenderal TNI (Purn.) Tatang Zaenudin. Ia menegakkan badan dan menjawab: “Baik, Komandan. ”
Momen itu terekam oleh mereka yang hadir. Bagi Tatang, ini adalah “kenangan terindah yang tak terlukiskan kata-kata.”
Kesaksian dari Seorang yang “Tahu Betul”
Tatang Zaenudin, kini 67 tahun, bukan pensiunan jenderal sembarangan. Dalam riwayat hidupnya, ada satu bab yang bersinggungan langsung dengan Prabowo Subianto: pada 1997, ia menjabat sebagai Kepala Dinas Administrasi (Dandenma) Kopassus, dan komandan saat itu adalah Prabowo Subianto.
Artinya, selama periode Prabowo memimpin pasukan elite terbaik Indonesia itu, Tatang berada pada posisi yang memungkinkannya mengamati langsung keputusan-keputusan harian sang komandan.
Karena itulah, ketika Tatang menilai pribadi Prabowo, ucapannya membawa bobot tersendiri bobot seorang yang “tahu betul,” bukan sekadar pengamat dari luar.
Di berbagai kesempatan, Tatang berulang kali menyebut satu detail: Prabowo tegas dalam memberikan penghargaan dan hukuman yang berprestasi pasti diberi reward, yang bertindak negatif pasti diberi funishment.
“Beliau adalah tipe komandan yang menganggap anggotanya seperti anak sendiri,” kata Tatang dalam keterangan persnya, Februari 2025. “Tapi saat harus tegas, beliau lebih tegas dari siapa pun.”
Kesaksian Tatang bukanlah kesaksian tunggal dimana Jenderal (Purn.) Agum Gumelar mantan Danjen Kopassus, yang dalam struktur militer adalah “atasan lama” Prabowo pernah mengenang masa ketika Prabowo menjabat Komandan Grup-3. Saat itu Prabowo bertugas di Batujajar, dan Agum yang datang meninjau terkejut: fasilitas latihan direnovasi total, kesejahteraan pelatih dan prajurit meningkat nyata.
“Prabowo sendiri yang mendorong perubahan itu,” kata Agum. “Ia peduli pada kehidupan prajurit, dan melakukannya dengan sangat baik.”
Detail lain yang disebut Tatang bahkan lebih konkret: Prabowo pernah mengorbankan harta pribadinya untuk membangun kesatuan dan kesejahteraan prajuritnya. Klaim ini disebut berulang di berbagai sumber, meski sulit diverifikasi secara independen, Tatang bersikeras itulah yang ia lihat dengan mata kepala sendiri.
Dalam wacana politik Indonesia, dukungan terbuka dari mantan bawahan di dunia militer bukanlah hal langka. Namun penilaian Tatang mengandung satu dimensi yang patut dicatat.
“Satu-satunya pemimpin yang saya kenal dan saya tahu tidak korupsi,” begitu Tatang menggambarkan Prabowo. Di sebuah negara yang masalah korupsi telah lama menghantui kehidupan publik, pernyataan seperti ini entah sebagai fakta atau persepsi pribadi memiliki makna politik tersendiri.
Tatang juga mengungkap satu momen yang terdokumentasi: pada 2017, Prabowo di kediamannya di Hambalang memberikan sebuah buku bertanda tangan berjudul Paradoks Indonesia, disertai pesan: “Jangan pernah berhenti membela merah putih. ” Buku itu ditandatangani pada 13 Juli 2017. Tatang mengaku masih mengingat tanggal itu hingga kini.
Kisah Tatang sendiri adalah miniatur sejarah militer Indonesia.
Lulus Akademi Militer pada 1981, sebagian besar karier militernya dijalani di Kopassus. Pengalaman operasinya mencakup Operasi Timor-Timur 1984 dan 1987, Operasi Irian Jaya 1991, serta Operasi Timor-Timur 1999. Titik-titik lokasi dan waktu ini menandai fase-fase berbeda dalam sejarah panjang institusi keamanan Indonesia.
Pada 2013, karier Tatang mengalami tikungan tak biasa: ia beralih dari dunia militer ke Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), menjabat Direktur Operasi dan Pelatihan, lalu Deputi Bidang Operasi SAR.
Di Basarnas inilah Tatang menghadapi salah satu peristiwa yang paling menyita perhatian publik: jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 pada 28 Desember 2014. S
ebagai Deputi Operasi, ia berdiri di garis terdepan informasi, mengimbau masyarakat agar tidak mempercayai informasi yang belum terverifikasi, sekaligus mengakui realitas pahit pencarian “Kepingan pesawat juga belum ada yang ditemukan. Kemungkinan lain masih ada, ya kami berharap juga ada keajaiban. ”
Kalimat itu merekam posisi seorang komandan SAR di antara harapan dan ketidakpastian.
Pertemuan 2025 itu terjadi dalam konteks tertentu. Prabowo baru menjabat presiden kurang dari setahun, dan pernyataan publik Tatang muncul terkonsentrasi di periode ini.
Dari sudut nilai berita murni, pujian seorang mantan bawahan terhadap seorang presiden petahana bukanlah hal baru. Namun narasi Tatang menawarkan sudut pandang yang memiliki kedalaman biografis tentang seorang komandan yang pernah berinteraksi dengannya setiap hari di tahun-tahun Kopassus, bagaimana hubungan itu dipahami dan diceritakan oleh pelakunya, dan bagaimana kesetiaan yang terbentuk di masa lalu terus hidup di masa kini.
Tatang mengatakan ia yakin Prabowo akan membuat Indonesia “kembali jaya, aman sentosa, dan rakyatnya sejahtera.” Ini adalah seorang mantan prajurit yang menyatakan keyakinan, bukan sedang melakukan analisis politik. Tetapi keyakinan itu sendiri adalah bagian dari sejarah.














