MALANG – Di bawah langit biru Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, pemandangan berbeda tersaji pada Jumat (17/07/2026). Bukan deru pesawat tempur yang mendominasi, melainkan hamparan tanaman dan senyum para petani.
Di sinilah, Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali berdiri mendampingi Presiden Prabowo Subianto, menyaksikan sebuah tonggak sejarah Panen Raya TNI Terintegrasi.
Momen ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah bukti bahwa TNI, yang sering identik dengan senjata dan kapal perang, sesungguhnya adalah “anak kandung rakyat” yang hadir di saat rakyat membutuhkan kepastian pangan.
Selain membuka lahan baru, TNI AL juga mendampingi budidaya kedelai di lahan seluas 2.432 hektar di enam wilayah dengan total produksi mencapai 3.676 ton atau sekitar 0,35 persen dari target produksi kedelai nasional 2026.

Dalam acara yang digelar serentak di 43 titik se-Indonesia ini, TNI AL mendapat mandat mulia dan strategis: mengawal komoditas kedelai.
Di tengah krisis pangan global yang membayangi, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia tidak akan tinggal diam. Di balik sosok Laksamana Muhammad Ali yang mendampingi Presiden, tersirat pesan bahwa laut bukan satu-satunya medan juang ladang dan lumbung pangan juga adalah garis depan pertahanan negara.
Di saat harga kedelai impor kerap membuat pelaku UMKM tempe dan tahu menjerit, TNI AL turun tangan. Mereka tidak hanya mengamankan jalur laut dari penyelundupan, tetapi juga memastikan lahan-lahan pertanian menghasilkan panen berkualitas.
Ini adalah transformasi peran prajurit dari penjaga kedaulatan wilayah menjadi penjaga kedaulatan dapur rakyat.
Presiden Prabowo Subianto, dalam sambutannya, menegaskan bahwa TNI dan Polri adalah bagian tak terpisahkan dari rakyat. “Kesulitan rakyat adalah kesulitan TNI dan Polri,” tegasnya, disambut anggukan mantap dari para prajurit dan petani yang hadir.
Meski sorotan utama pusat kegiatan ada pada panen tebu seluas 800,5 hektare oleh TNI AU, peran TNI AL dalam komoditas kedelai menjadi fondasi penting dalam ekosistem pangan nasional.
Kolaborasi ini membentang dari TNI AD dengan padinya, TNI AU dengan tebu dan bioetanolnya, hingga TNI AL yang mengamankan suplai protein nabati rakyat.
Kegiatan ini menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan lagi urusan satu kementerian. Ini adalah gerakan nasional.
Saat Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto melaporkan potensi hilirisasi tebu yang menghasilkan bioetanol hingga farmasi, di belakangnya ada prajurit-prajurit TNI AL yang di bawah komando Laksamana Muhammad Ali memastikan bahwa kacang kedelai lokal mampu bersaing.
Momen Presiden Prabowo meninjau insinerator dan hasil hilirisasi pertanian, disambut Tari Beskalan Putri, menjadi simbol harmonisasi budaya dan teknologi untuk kesejahteraan. Ada getaran optimisme yang terpancar. Di tengah ketidakpastian global, Indonesia memilih untuk berdikari.
Kehadiran Laksamana Muhammad Ali di sisi Presiden bukanlah sekadar pendampingan protokoler. Itu adalah representasi bahwa laut dan bumi adalah satu kesatuan pertahanan. Jika bumi menghasilkan pangan, maka laut memastikan distribusinya aman.
Hasil panen tebu yang bernilai Rp720 ribu per ton itu, serta puluhan ton kedelai di berbagai daerah, adalah amunisi baru untuk memenangkan perang melawan kelaparan dan kemiskinan.
(GRD/dia)














