MAKASSAR – Komitmen TNI Angkatan Laut dalam melindungi dan membantu rakyat kembali diuji. Di bawah amanah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Marlin-877 dikerahkan dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR)
terhadap korban kapal penumpang KLM Nurul Salsa 01 yang karam dan tenggelam di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, Rabu (15/7/2026).
Operasi kemanusiaan ini merupakan implementasi nyata dari kebijakan Kasal yang menekankan TNI AL harus selalu siap siaga dalam Operasi Militer Selain Perang (OMSP), mencakup penanggulangan bencana dan bantuan kemanusiaan.
Kecepatan respons yang diperintahkan langsung oleh Komando Daerah Angkatan Laut VI (Kodaeral VI) Makassar pun membuahkan hasil signifikan.
Kronologi Tenggelamnya KLM Nurul Salsa 01
KLM Nurul Salsa 01 bertolak dari Pelabuhan Pulau Jampea menuju Pelabuhan Benteng, Selayar, pada Rabu dini hari pukul 05.00 WITA.
Sekitar pukul 09.30 WITA, kapal dilaporkan mengalami kerusakan total pada mesin utama di posisi 06° 41’ 750” LS – 120° 22’ 993” BT. Situasi semakin kritis ketika pompa penguras air (alkon) ikut rusak pada pukul 10.00 WITA, sehingga air tak terbendung masuk ke lambung kapal. Akhirnya, pada pukul 16.00 WITA kapal dinyatakan tenggelam di titik 06° 56’ 122” LS – 120° 10’ 188” BT.
Respons Cepat KRI Marlin-877 di Bawah Komando Kodaeral VI
Menerima laporan resmi dari Kantor SAR Makassar pada pukul 15.50 WITA, Kodaeral VI langsung mengerahkan KRI Marlin-877.
Kapal perang jenis Patroli Cepat (PC-60) ini meninggalkan Dermaga Layang Mako Kodaeral VI pada pukul 20.03 WITA dengan membawa personel, peralatan keselamatan, serta dukungan logistik penuh. Lima personel dari Kantor SAR Makassar turut memperkuat tim di atas kapal.
KRI Marlin-877 tiba di perairan Pulau Polassi pada Kamis (16/7/2026) pukul 02.00 WITA dan segera melakukan pengumpulan data serta penyisiran awal. Tepat pukul 07.00 WITA, kapal mencapai titik tenggelam KLM Nurul Salsa 01 dan menggelar pencarian intensif selama dua jam.
Komandan Kodaeral VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, menegaskan filosofi di balik kecepatan gerak prajuritnya.
“Kecepatan respons dan kesiapan personel adalah kunci utama dalam menyelamatkan nyawa di tengah laut. Kami tidak membiarkan waktu berlalu begitu saja,” ujarnya dalam keterangan tertulis.
Data sementara hingga Kamis pukul 11.00 WITA menunjukkan 52 korban telah berhasil dievakuasi. Rinciannya:
6 orang diselamatkan oleh nelayan setempat dan dibawa ke Pulau Polassi. 46 orang dievakuasi oleh KLM Harapan Kita ke Pulau Jampea, terdiri atas 45 korban selamat dan 1 korban meninggal dunia.
Meski demikian, proses pencocokan manifes penumpang dan awak kapal masih menyisakan 16 orang yang belum diketahui keberadaannya. Proses verifikasi terus dilakukan bersama instansi terkait, pemerintah daerah, dan keluarga korban.
KRI Marlin-877 kini telah sandar di Pelabuhan Laut Jampea untuk berkoordinasi dengan unsur SAR lain dan memastikan kondisi para korban.
Tim juga menyiapkan penyisiran lanjutan dengan cakupan lebih luas, mulai dari lokasi awal kerusakan mesin, titik tenggelam, perairan sekitar Pulau Polassi, jalur menuju Jampea, hingga area yang diperkirakan menjadi arah hanyut korban berdasarkan arus dan cuaca.
Dankodaeral VI menegaskan, TNI AL akan terus melaksanakan pencarian hingga seluruh korban ditemukan. Ia juga membuka saluran koordinasi dengan para nelayan dan kapal yang melintas.
“Kami juga membuka saluran koordinasi dengan seluruh nelayan dan kapal yang melintas untuk saling bertukar informasi demi keberhasilan operasi ini,” tambahnya.
Amanah Kasal Laksamana Muhammad Ali: TNI AL Selalu Siap Bantu Rakyat
Operasi SAR ini sekaligus menegaskan kembali amanah Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali yang menekankan kesiapan TNI AL dalam melaksanakan Operasi Militer Selain Perang (OMSP).
Tugas tersebut mencakup penegakan hukum di laut, penanggulangan bencana, bantuan kemanusiaan, serta dukungan keamanan bagi kelancaran logistik dan program strategis nasional.
“TNI AL hadir bukan hanya untuk menjaga kedaulatan, tetapi juga menjadi garda terdepan saat rakyat membutuhkan pertolongan. Inilah bentuk nyata kehadiran negara di tengah kesulitan,” menjadi prinsip yang dipegang dalam setiap gelar operasi kemanusiaan seperti ini.
Pihak TNI AL mengimbau masyarakat yang memiliki informasi terkait penumpang kapal agar segera melapor kepada petugas di lokasi agar proses evakuasi dan verifikasi berjalan cepat dan akurat.
(Gas/pen)














