GORONTALO – Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menghadiri Puncak Pekan Nasional (Penas) Petani dan Nelayan XVII 2026 di Sport Center Limboto, Rabu (24/6/2026).
Kehadiran orang nomor satu di TNI AL ini menjadi simbol kuat sinergi matra laut dalam mengawal program prioritas pemerintah swasembada pangan.
Laksamana Muhammad Ali tampak duduk di jajaran bersama Menteri, Panglima TNI, Kapolri, serta kepala staf angkatan lainnya.
Mengawali sambutannya dengan salam lintas agama, Kepala Negara Prabowo Subianto menegaskan bahwa kehadirannya kali ini adalah yang pertama sebagai Kepala Negara, meskipun ia telah puluhan tahun menghadiri Penas sebagai Ketua Umum HKTI.
“Saya sudah hadir banyak sekali Penas. Saya cukup lama menjadi Ketua Umum HKTI yang selalu berjuang bersama KTNA untuk kepentingan tani dan nelayan di seluruh Indonesia,” kenangnya. “Untuk Apa Kita Nyanyi Lagu Kebangsaan?”

Dalam pidato yang berdurasi panjang tersebut, Presiden Prabowo melontarkan kritik pedas terhadap paham neoliberal yang menurutnya pernah menguasai arah pembangunan ekonomi Indonesia.
Ia mengenang momen saat menjadi Ketua Umum HKTI dan berhadapan dengan Menko Perekonomian saat itu, Aburizal Bakrie, terkait rencana impor beras yang akan menghancurkan harga di tingkat petani. Saat itu, seorang penasihat pemerintah disebutnya mengatakan, “Untuk apa kita membela petani Indonesia kalau petani Indonesia tidak efisien? Kalau petani Vietnam lebih efisien, lebih baik kita beli beras dari Vietnam.”
Pernyataan itu rupanya membekas dalam dan menjadi bahan bakar perjuangan politiknya. “Saya kaget dan saya sedih. Saya mengatakan dalam hati saya, ini salah besar. Ini tidak mengerti apa arti negara. Untuk apa kita punya DPR, untuk apa kita punya DPD, untuk apa kita nyanyi lagu kebangsaan, kalau rakyat kita tidak sejahtera? ” tegasnya disambut gemuruh tepuk tangan.
“Saya Kalah Empat Kali, Demi Petani dan Nelayan”
Presiden mengungkapkan, latar belakangnya sebagai mantan prajurit membuatnya memiliki ikatan emosional mendalam dengan petani dan nelayan. “Waktu kita proklamasikan kemerdekaan, belum ada APBN, belum ada gaji. Tentara waktu itu ditopang, didukung, makanan diberi oleh petani dan nelayan kita di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Keyakinan bahwa arah pembangunan ekonomi saat itu keliru mendorongnya untuk terus maju dalam kontestasi politik meski harus menelan kekalahan berulang kali. “Saya ikut pemilu lima kali. Empat kali kalah. Enggak enak kalah itu, lho. Kenapa saya masih terus? Karena saya melihat arah pembangunan ekonomi kita berada di arah yang keliru,” kisahnya.
Peringatan Keras untuk “Maling” Kekayaan Negara
Suasana menjadi semakin cair sekaligus tegang saat Prabowo menyinggung pihak-pihak yang menurutnya tidak menginginkan Indonesia bangkit. Dengan gaya khasnya, ia bahkan meminta awak media untuk menghapus sebagian ucapannya, namun kemudian justru melanjutkan dengan pernyataan yang lebih menohok.
“Sopan-sopan tetap maling, sopan-sopan korupsi. Sok kaya, sok banyak duit, malah duitnya nyolong dari rakyat. Saya sudah lama jadi orang Indonesia, saya kenal semua itu,” tegasnya. Presiden juga menyindir pihak yang membayar aksi demonstrasi. “Siapa yang bayar-bayar demo, saya tahu itu. Ditanya anak-anak demo, enggak ngerti mau demo apa. ‘Kami dibayar Rp200 ribu’.”
Presiden menegaskan bahwa pemerintahannya bertekad menghentikan pencurian kekayaan Indonesia. Ia mengibaratkan dirinya sebagai “manajer” yang memberi arahan, sementara para menteri dan pejabat di belakangnya adalah “pelatih dan striker” yang mengeksekusi di lapangan.
Di tengah nada kritisnya, Presiden Prabowo tak lupa menabuh genderang kemenangan. Ia mengklaim bahwa untuk pertama kalinya sejak 1984, Indonesia kembali mencapai swasembada pangan. “Produksi beras dan jagung kita tertinggi sepanjang negara kita berdiri. Dan ini adalah akibat kerja keras Saudara-saudara sekalian,” ungkapnya.
Ia juga menyoroti peran unik TNI dan Polri yang turut mengawal program pertanian. “Hanya di Indonesia polisi ngurus pertanian. Hanya di Indonesia tentaranya sering ada di sawah. Hanya di Indonesia Angkatan Laut tanam kedelai. Hanya di Indonesia Angkatan Udara tanam tebu. Tapi ini adalah strategis. Ini kenapa Indonesia akan bangkit dengan hebat,” jelasnya.
Terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sempat menuai kritik, Presiden menanggapinya dengan nada tinggi. “Ada yang enggak setuju MBG. Harusnya mereka datang ke sini, tanya petani-nelayan, MBG perlu atau tidak? Katanya ada orang pintar yang mengatakan ada lebih genting dari perut lapar. Saya kira enggak ada lebih genting dari perut lapar. ”
Menutup pidatonya, Presiden mengumumkan bahwa Indonesia akan segera meluncurkan program swasembada energi melalui B50.
“Bulan Juli ini, kita akan launching B50. Solar kita akan diolah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian, kita tidak akan impor solar lagi. Saya perkirakan tiga sampai empat tahun lagi, kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apapun untuk BBM kita. ”
Pidato tersebut sekaligus menjadi penegasan bahwa di bawah kepemimpinannya, negara akan hadir penuh untuk melindungi produsen pangan nasional.
“Sebagai produsen pangan, Saudara-saudara sesungguhnya adalah tulang punggung Republik ini. Pemerintah yang saya pimpin, kami kerja keras, tidak ada hari libur. Kita terus kerja siang, malam, supaya uang rakyat bisa kita jaga, supaya tidak dicuri, supaya kita menjadi tuan di rumah kita sendiri,” pungkasnya.
(GRD)














