TEGAL– Mengemban amanah pucuk pimpinan tertinggi TNI Angkatan Laut untuk senantiasa hadir di tengah masyarakat, prajurit Pangkalan TNI AL (Lanal) Tegal kembali menunjukkan tajinya.
Kali ini, bukan menghadapi ancaman di medan laga, melainkan berpacu dengan waktu memadamkan si jago merah yang melahap sebuah kapal nelayan di perairan Pelabuhan Perikanan TPI Jongor.
Kepulan asap hitam membubung tinggi di langit Kelurahan Tegalsari, Kecamatan Tegal Barat, Kamis pagi menjelang siang. Sebuah kapal Jaring Tarik Berkantong (JTB) bernama KM Usaha 3 GT 146 mendadak terbakar. Informasi yang dihimpun di lapangan menyebutkan, api diduga kuat berasal dari korsleting listrik yang memercik dari kamar nahkoda.
Begitu menerima informasi darurat pada pukul 11.00 WIB, para prajurit Lanal Tegal tak menunggu lama. Di bawah komando yang solid, tim reaksi cepat meluncur ke lokasi. Detik-detik menegangkan terjadi saat si jago merah berpotensi merembet ke puluhan kapal lain yang sandar berdempetan di sekitar area pelabuhan.
“Prioritas kami adalah mencegah api meluas ke kapal lain dan memastikan tidak ada korban jiwa. Ini adalah perintah langsung dari pimpinan, bahwa prajurit TNI AL harus sigap 24 jam untuk membantu masyarakat maritim,” tegas salah satu perwira jaga Lanal Tegal di sela-sela penanganan.
Momen heroik tercipta saat terjadi sinergi sempurna antara tiga pilar maritim dan darat. Prajurit Lanal Tegal bahu-membahu dengan personel Polresta Tegal, anggota Koramil Tegal Barat, serta armada Dinas Pemadam Kebakaran Kota Tegal.
Dengan peralatan seadanya dan strategi pemadaman laut yang mumpuni, mereka berhasil mengepung sumber api.
Berkat penanganan cepat dan profesional itu, titik api berhasil dilumpuhkan sebelum menimbulkan malapetaka yang lebih besar. Yang paling melegakan, nihil korban jiwa dalam musibah ini. Seluruh awak kapal berhasil menyelamatkan diri.
Apa yang dilakukan oleh prajurit Lanal Tegal pagi ini bukanlah aksi dadakan. Ini adalah bukti implementasi instruksi tegas dari pucuk pimpinan tertinggi TNI Angkatan Laut, yang menekankan bahwa Alutsista dan kesiapan prajurit bukan hanya untuk perang, melainkan juga untuk operasi kemanusiaan dan bantuan bencana.
Di era kepemimpinan Laksamana Muhammad Ali, TNI AL terus mempertajam doktrin “Every Soldier is a Lifeguard”. Filosofi ini menempatkan prajurit matra laut sebagai ujung tombak penyelamat di wilayah maritim, dari Sabang sampai Merauke, termasuk di pesisir Tegal yang padat aktivitas perikanan.
“Dengan kejadian ini, kami berharap masyarakat pesisir, khususnya para pemilik kapal, lebih cermat memeriksa instalasi listrik. Keamanan maritim bukan hanya soal patroli, tapi juga mencegah insiden teknis yang bisa merenggut mata pencaharian nelayan,” imbuh perwakilan Lanal Tegal.
Hingga berita ini diturunkan, situasi di TPI Jongor telah kembali kondusif. Aktivitas bongkar muat ikan kembali normal, meski sisa-sisa dinding kapal yang hangus masih terlihat menjadi monumen betapa cepatnya api melahap harapan jika kesiagaan diabaikan.
Kehadiran tegas namun humanis dari Lanal Tegal hari ini menjadi penegas bahwa di balik postur tubuh gagah dan wajah sangar seorang prajurit berseragam loreng kebanggaan, tersimpan hati yang tulus menjaga detak nadi kehidupan bahari Indonesia.
(GRD/pen)














