BANDA ACEH– Spirit persatuan Aceh kembali digaungkan melalui sebuah diskusi bersejarah. Komando Aneuk Muda Alam Peudeung Al Asyi (Komandan Al Asyi) bekerja sama dengan Yayasan Sultan Alaidin Mansyursyah menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema “Alam Peudeung Sebagai Pemersatu” di Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Aceh, Kp. Mulia, Banda Aceh, Sabtu (6/6/2026).
Salah satu poin krusial yang mengemuka dalam diskusi ini adalah usulan penetapan 23 Juli sebagai Hari Lahir Alam Peudeung.
Acara yang dimoderatori Ustad Mujiburrijal ini dibuka dengan pemutaran film dokumenter Sejarah Pelantikan Sultan Alaidin Muhammad Daudsyah di Mesjid Tuha Indrapuri, menyuguhkan gambaran historis keagungan Kesultanan Aceh kepada para peserta yang didominasi kalangan mahasiswa.
Narasumber pertama, Tuanku Warul Waliddin selaku Pang Ule Komandan Al Asyi, memaparkan fakta sejarah yang jarang terungkap. Ia menegaskan bahwa pada 23 Juli 1507, Sultan Ali Mughayatsyah mendeklarasikan Alam Peudeung Mirah sebagai Bendera Kerajaan di Banda Aceh Darussalam.
Momentum ini juga menandai bersatunya seluruh wilayah kerajaan dari Samudera Pasai, Perlak, Pedir, Daya, hingga seluruh Aceh di bawah panji Alam Peudeung Mirah.
“23 Juli 1507 harusnya ditetapkan sebagai Peringatan Hari Lahir Bendera Alam Peudeung sebagai Pemersatu. Ini yang harus menjadi renungan kita semua dalam membangun Aceh di masa depan,” tegas Tuanku Warul. Ia juga mengajak generasi muda Aceh untuk mengambil spirit “Turi Droe Tusoe Droe” dari Alam Peudeung sebagai Spirit Kemajuan Berkelanjutan, selaras dengan 21 Wasiat Sultan Aceh yang menjadi visi pembangunan Aceh.
Manuskrip Aceh: Warisan Dunia yang Perlu Dijaga
Narasumber kedua, Tarmizi A. Hamid atau yang akrab disapa Cek Midi selaku Direktur Rumoh Manuskrip Aceh, mengupas kekayaan intelektual Kesultanan Aceh yang diakui dunia.
“Manuskrip Kesultanan Aceh menjadi acuan di berbagai negeri Islam, dari Brunei, Malaysia, hingga Thailand. Namun banyak yang dicuri dan dibawa ke luar negeri,” ungkapnya. Ia menekankan pentingnya aktualisasi nilai-nilai Alam Peudeung sebagai pemersatu di kalangan generasi muda, khususnya mahasiswa yang hadir sebagai penerus masa depan Aceh.
Tgk. Raja Aulia Habibie, Koordinator BEM Seluruh Indonesia Wilayah Aceh yang hadir sebagai narasumber ketiga, menyambut antusias diskusi ini. “Kegiatan ini sangat mengobati kegelisahan kami sebagai generasi muda Aceh. Selama ini kami hanya mendengar sekilas tentang Alam Peudeung tanpa tahu filosofi dan maknanya. Apa yang disampaikan hari ini sangat mencerahkan,” ujarnya.
Narasumber keempat, Prof. Yusni Sabi, M.A., Ph.D., mendorong agar FGD semacam ini menjadi agenda rutin organisasi kepemudaan. “Generasi Aceh harus mampu membuktikan diri dengan prestasi. Spirit Alam Peudeung adalah semangat pemersatu yang harus dimanifestasikan bagi kemajuan Aceh ke depan,” pesannya.
Diskusi yang dihadiri perwakilan BEM dari UIN Ar-Raniry, USK, Unmuha, YARA, serta berbagai organisasi pemuda ini berlangsung interaktif dan melahirkan beragam pandangan konstruktif tentang masa depan Aceh.
(Rls)














