JAKARTA – Dalam langkah strategis menghadapi derasnya arus transformasi digital, TNI Angkatan Laut menggelar pelatihan intensif bertajuk “Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Komunikasi Publik”. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Staf Komando Armada I (Kaskoarmada I), Laksamana Pertama TNI Dr. Arif Badrudin, M.Mgt., Stud., secara daring dari Markas Komando Armada I pada Selasa (2/6/2026).
Pelatihan ini bukan sekadar pembekalan teknis, melainkan sebuah komitmen modernisasi TNI AL. Peserta yang hadir secara virtual meliputi seluruh jajaran penerangan dari Koarmada I, II, III, hingga Kodaeral I sampai XIV di seluruh Indonesia. Tujuannya menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang adaptif, responsif, dan profesional dalam mengelola informasi di era digital.
Dalam paparannya, Laksamana Pertama Arif Badrudin menekankan bahwa Artificial Intelligence telah menjadi teknologi kunci yang mempengaruhi lanskap komunikasi global. Ia menegaskan, bagi personel penerangan, AI harus dipandang sebagai force multiplier atau kekuatan pengganda.
“Kecerdasan buatan memungkinkan kita menganalisis sentimen publik secara real-time, mendeteksi disinformasi lebih dini, hingga memproduksi konten informatif yang presisi. Namun, secanggih apapun teknologi, etika, akurasi, dan verifikasi data tetap menjadi panglima. Jangan sampai kita kehilangan esensi kepercayaan publik,” tegasnya di hadapan para peserta.
Pelatihan yang berlangsung interaktif ini menyoroti tiga pilar utama yang menjadi bekal penting bagi prajurit penerangan TNI AL:
1. Pemanfaatan Strategis AI: Peserta dibekali kemampuan untuk mengoptimalkan AI dalam pembuatan konten publikasi, analisis data media, serta otomatisasi tugas-tugas kehumasan guna mempercepat penyebaran informasi positif.
2. Verifikasi dan Akurasi: Di tengah maraknya hoaks dan deepfake, materi ini menjadi krusial. Personel dilatih menggunakan tools berbasis AI untuk memverifikasi keaslian gambar, video, dan narasi sebelum disampaikan ke publik.
3. Etika Digital dan Tanggung Jawab: Ditekankan bahwa penggunaan AI dalam komunikasi publik harus berlandaskan transparansi dan akuntabilitas, sesuai dengan nilai-nilai profesionalisme TNI AL.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi. Sesi diskusi dan tanya jawab dimanfaatkan oleh peserta dari berbagai wilayah untuk mendiskusikan tantangan unik di satuan mereka masing-masing. Mulai dari strategi diseminasi informasi di wilayah kepulauan hingga penanganan krisis komunikasi berbasis data.
Melalui pelatihan ini, TNI AL membuktikan bahwa institusi pertahanan negara pun mampu bergerak lincah dan adaptif terhadap kemajuan zaman. Jajaran penerangan Koarmada dan Kodaeral kini diharapkan tidak hanya mahir menggunakan AI, tetapi juga menjadi benteng terdepan dalam menjaga ekosistem informasi publik yang sehat, cepat, dan tepercaya.
Dengan peningkatan kapasitas ini, TNI Angkatan Laut siap memperkuat profesionalisme dan akuntabilitas publik di era transformasi digital.
(Gas/pen)














