Dari Ruang Transit Hingga Panggung Dunia: Jejak Pemikiran Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali Menyiapkan Armada Digital

Jalesveva Jayamahe
Jalesveva Jayamahe

SURABAYA – Dalam agenda yang padat dan strategis, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla., menunjukkan kepemimpinan visionernya di dua panggung intelektual berbeda.

Dari kuliah umum daring hingga seminar internasional, Kasal menegaskan bahwa masa depan pertahanan maritim Indonesia tidak hanya bergantung pada alutsista canggih, tetapi juga pada ketajaman otak manusia dan penguasaan kecerdasan buatan.

Dari Ruang Transit Laut Baltik GSB Kodiklatal, Surabaya, Selasa (12/5/2026), Kasal menyapa para Perwira Siswa (Pasis) Dikreg Seskoal Angkatan ke-65 dan mahasiswa Universitas Pertahanan RI Program Studi Keamanan Maritim secara daring. Ini bukan sekadar sesi perkuliahan biasa; ini adalah suntikan doktrin strategis.

Di hadapan para calon pemimpin armada, Kasal menekankan pentingnya kesiapan sumber daya manusia yang adaptif. Ia membeberkan betapa vitalnya penguasaan terhadap chokepoint titik-titik sempit strategis dunia sebagai kunci stabilitas ekonomi dan geopolitik.

“Penguasaan terhadap chokepoint memiliki peran strategis dalam menentukan stabilitas ekonomi dan kepentingan suatu negara. Pahami ini, karena di sanalah letak kekuatan tawar kita di mata dunia,” tegas Kasal, memantik kesadaran para perwira muda akan posisi strategis Indonesia di peta maritim global.

Pesan kuat ini menjadi fondasi awal sebelum Kasal melangkah ke panggung yang lebih besar di hari yang berbeda: perang asimetris berbasis teknologi digital.

Seminar STTAL Tahun Anggaran 2026 yang mengangkat tema “Artificial Intelligence and Asymmetric Maritime Warfare: Transforming Naval Strategy, Security and Operational Superiority in the Digital Era”, bertempat di Gedung Marore, Kampus Prajurit Teknokrat Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL), Surabaya, Kamis (4/6/2026).
Artificial Intelligence and Asymmetric Maritime Warfare: Transforming Naval Strategy, Security and Operational Superiority in the Digital Era”, bertempat di Gedung Marore, Kampus Prajurit Teknokrat Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL), Surabaya, Kamis (4/6/2026).

Panggung STTAL: Saat AI Jadi Panglima Perang Masa Depan

Dua minggu berselang, tepatnya Kamis (4/6/2026), gaung pemikiran Kasal kembali menggetarkan Gedung Marore, Kampus Prajurit Teknokrat STTAL, Surabaya. Kali ini, dalam International Seminar STTAL 2026 bertema “Artificial Intelligence and Asymmetric Maritime Warfare: Transforming Naval Strategy, Security and Operational Superiority in the Digital Era”.

Seminar internasional ini menghadirkan tiga pembicara utama, yaitu Kepala Staf Koarmada I Laksamana Pertama TNI Dr. Arif Badrudin, M.Mgt., Stud., Professor of International Security Studies CISA Prof. Geoffrey F. Gresh, Ph.D., serta pakar teknologi informasi Prof. Dr. Eng. Hilman F. Pardede, S.T., M.Eng.

Dalam keynote speech-nya, Kasal menegaskan bahwa paradigma perang konvensional sudah mati. “Artificial Intelligence telah menjadi faktor strategis dalam transformasi peperangan maritim modern, khususnya dalam menghadapi ancaman asimetris yang semakin kompleks dan sulit diprediksi,” ujarnya.

Kasal menyoroti pergeseran pola tempur yang kini mengandalkan sistem tanpa awak, operasi siber, hingga disinformasi. Oleh karena itu, ia memerintahkan seluruh lembaga pendidikan TNI AL untuk bergerak lebih cepat.

“Penguasaan AI dan teknologi digital adalah kebutuhan strategis. Jika kita terlambat, kita akan kalah sebelum perang dimulai,” tegasnya, mengutip dinamika ketegangan Global kian dinamis yang kian menghangat.

Komandan STTAL Laksamana Pertama TNI Ardiansyah turut memperkuat pernyataan Kasal. Ia menjelaskan bahwa konferensi ini menjadi wadah peleburan ide antara birokrat militer, peneliti, dan akademisi untuk menciptakan solusi inovatif menghadapi ancaman asimetris.

Seminar ini menghasilkan rekomendasi strategis untuk mendukung transformasi TNI AL menuju angkatan laut modern yang unggul.

Benang merahnya jelas: Teknologi tanpa SDM yang mumpuni hanyalah besi tua, dan SDM tanpa teknologi hanyalah keberanian buta.

Dari kuliah umum di ruang digital hingga diskusi AI tingkat internasional, Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali berhasil menyulut diskursus publik, Mampukah Indonesia menjadi macan laut digital di era asymmetric warfare?

(GRD/pen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *