Di Atas Geladak KRI Bima Suci, Indonesia dan Korea Selatan Perkuat Aliansi Strategis Maritim di Busan

Foto: Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata bertemu Deputy Commander Republic of Korea Fleet (ROK Fleet) RADM Lee Namgyu di KRI Bima Suci saat sedang bersandar di Busan Naval Base, Korea Selatan, Rabu 3/6/2026 (sumber: Pen Koarmada RI)
Foto: Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) RI Laksamana Madya TNI Denih Hendrata bertemu Deputy Commander Republic of Korea Fleet (ROK Fleet) RADM Lee Namgyu di KRI Bima Suci saat sedang bersandar di Busan Naval Base, Korea Selatan, Rabu 3/6/2026 (sumber: Pen Koarmada RI)

BUSAN – Di tengah semilir angin laut dan gemerlap Pelabuhan Busan, diplomasi maritim Indonesia hadir dalam wujud yang elegan namun penuh wibawa. Kapal latih legendaris TNI Angkatan Laut, KRI Bima Suci, tidak hanya sekadar bersandar, melainkan menjadi panggung penguatan hubungan strategis dua kekuatan maritim di Asia.

Pada 3 Juni 2026, Panglima Komando Armada Republik Indonesia (Pangkoarmada RI), Denih Hendrata, menerima kunjungan kehormatan Deputy Commander Republic of Korea Fleet (ROK Fleet), Lee Namgyu, di atas dek kapal kebanggaan Indonesia tersebut. Pertemuan ini menjadi inti dari Operasi Pelayaran Muhibah Diplomasi Duta Bangsa dan Latihan Praktek Kartika Jala Krida (KJK) 2026, menandai babak baru kerja sama pertahanan bilateral.

“Pertemuan berlangsung di tengah rangkaian Operasi Pelayaran Muhibah Diplomasi Duta Bangsa dan Latihan Praktek Kartika Jala Krida di Busan, Korea Selatan,” ujar Denih Hendrata, menegaskan bahwa misi ini jauh melampaui sekadar latihan rutin para Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL).

Ruang pertemuan di atas KRI Bima Suci menjadi saksi diskusi intensif nan konstruktif antara dua pemimpin armada. Agenda utama yang dibahas meliputi penguatan kerja sama militer yang telah berjalan, rencana kolaborasi konkret di bidang pertahanan maritim, serta pengembangan hubungan bilateral yang lebih erat.

Dalam lanskap geopolitik kawasan yang dinamis, penguatan poros Jakarta-Seoul di bidang maritim menjadi krusial. TNI AL berharap, dialog strategis ini membuka peluang lebih luas, mulai dari latihan bersama yang lebih kompleks, transfer teknologi pertahanan, hingga sinergi dalam menjaga stabilitas keamanan laut di kawasan Indo-Pasifik.

KRI Bima Suci: Dari Alat Latih Menjadi Duta Budaya

Namun, penguatan hubungan ini tidak hanya berbicara soal perangkat keras pertahanan. Denih Hendrata memperkenalkan sisi diplomasi lunak (soft diplomacy) Indonesia. Di atas kapal yang sama, para Taruna AAL dan prajurit KRI Bima Suci menggelar pertunjukan seni budaya yang memukau.

Tarian tradisional, alunan musik Nusantara, hingga keramahan khas Indonesia disuguhkan kepada jajaran Angkatan Laut Korea Selatan. Langkah ini dengan cerdas mengubah kapal perang latih menjadi wahana diplomasi budaya yang efektif, meruntuhkan sekat-sekat formalitas antarnegara melalui interaksi manusia yang hangat.

Usai pertemuan resmi, Lee Namgyu beserta delegasi diajak berkeliling memeriksa dek kapal dan berinteraksi langsung dengan para Taruna peserta KJK 2026. Momen ini menjadi simbol transfer pengetahuan dan persahabatan generasi muda militer kedua negara.

“Saya juga berharap pelayaran muhibah KRI Bima Suci tidak hanya menjadi sarana pendidikan bagi Taruna Akademi Angkatan Laut, tetapi juga berperan sebagai wahana diplomasi maritim yang efektif dalam membangun hubungan baik dengan negara-negara sahabat,” pungkas Denih, menekankan visi besar di balik setiap mil laut yang ditempuh KRI Bima Suci.

Dengan layar yang terkembang dan misi yang jelas, kehadiran KRI Bima Suci di Busan menjadi bukti bahwa diplomasi pertahanan dapat berjalan beriringan dengan diplomasi budaya, menciptakan fondasi kerja sama yang kokoh antara Indonesia dan Korea Selatan di masa depan.

(Pen/GRD)

Editor: Riky Rinovsky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *