GURINDAM.ID – Di tengah percaturan global yang semakin bergolak, sosok Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali menampilkan potret pemimpin yang tak sekadar piawai menggerakkan armada perang, namun juga arif merangkai diplomasi, menegakkan hukum, dan merawat nilai-nilai luhur bangsa.
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali mengimplementasikan strateginya dalam menjaga kedaulatan maritim melalui tiga pilar utama, diplomasi laut untuk mencegah konflik, ketegangan hukum yang tegas namun terukur di perairan perbatasan, serta internalisasi nilai Pancasila sebagai landasan moral prajurit di lapangan.
Baginya, menjaga laut Indonesia adalah ikhtiar multidimensional yang menuntut perpaduan antara kekuatan tempur modern, kepatuhan pada hukum internasional, semangat gotong royong, serta komitmen pada kelestarian lingkungan.
Keyakinan itu ia buktikan dengan menempatkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) sebagai napas strategis TNI AL. Dalam berbagai kesempatan, Laksamana Ali menegaskan bahwa pemahaman dan implementasi UNCLOS tidak bisa ditawar. “UNCLOS menjadi landasan untuk menjaga keberlanjutan ekosistem laut, keanekaragaman hayati, dan melindungi kepentingan nasional,” tegasnya.
Visi ini bukan sekadar pidato, melainkan diwujudkan melalui kerjasama internasional yang intensif dalam pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, penegakan hukum maritim, hingga perlindungan lingkungan laut.
Melalui kerangka UNCLOS, Indonesia di bawah sorotannya mampu bekerja sama dengan berbagai negara untuk memastikan laut tetap menjadi sumber kehidupan dan pilar pembangunan bangsa.
Kearifan Laksamana Ali sebagai pemimpin terlihat jelas pada peringatan Hari Pendidikan TNI AL (Hardikal) Tahun 2026 di Surabaya, Selasa (12/5/2026).
Di hadapan para pendidik, pelatih, dan taruna, ia menyampaikan pesan mendalam: “Pendidikan adalah instrumen strategis untuk mencetak prajurit samudera yang mampu menjaga kedaulatan negara, melindungi kepentingan nasional di laut, serta menghadapi berbagai tantangan global yang semakin kompleks,” sebutnya.
Tema Hardikal, “Mendidik Prajurit Samudera yang Profesional dan Berkarakter”, menjadi cerminan desain besar pembangunan SDM TNI AL.
Laksamana Ali tidak hanya menuntut penguasaan teknologi pertahanan mutakhir, tetapi juga internalisasi karakter dan disiplin. Dalam momen syukur berupa pemotongan tumpeng yang ia serahkan kepada dosen berprestasi dari Seskoal dan Taruni AAL, tergambar jelas bahwa ia menempatkan intelektualitas dan keteladanan sebagai panglima. Dedikasi para pendidik, pengasuh, dan instruktur ia hargai sebagai pilar kejayaan bangsa.
Laksamana Ali berjalan seiring dengan percepatan modernisasi alutsista. Di bawah komandonya, TNI AL melakukan validasi organisasi, membentuk Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral), serta menghadirkan kapal perang terbaru KRI Brawijaya-320.
Kekuatan Marinir pun dipertebal dengan pembentukan satu Brigade Infanteri dan lima Batalion baru.
“Laut adalah masa depan bangsa. TNI AL harus hadir tidak hanya sebagai benteng pertahanan, tetapi juga garda depan penegakan hukum di laut, penjaga keamanan jalur maritim, hingga duta diplomasi pertahanan,” ujar Kasal Muhammad Ali.
Komitmen pada koridor hukum ini selaras dengan pelaksanaan Sarasehan Perwira Korps Hukum TNI AL Wilayah Barat TA 2025.
Di sana, penekanan Kasal kembali bergema: penguasaan dan penerapan UNCLOS 1982 serta ketentuan hukum laut internasional lainnya adalah fondasi agar setiap gerak prajurit Jalasena selalu profesional, sah secara hukum, dan mendukung tugas pokok menjaga kedaulatan.
Tiga kunci keberhasilan yang ia tekankan kepatuhan pada hukum, disiplin, dan penguasaan teknologi mutakhir menjadi pedoman yang meresap ke seluruh jajaran.
Pancasila Sebagai Bintang Penuntun di Lautan Geopolitik
Di titik inilah kebijaksanaan Laksamana Ali menemukan bentuknya yang paling paripurna ia memahami bahwa kekuatan militer dan hukum tidak akan berarti tanpa landasan moral dan ideologi. Pada peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Mabesal, Senin (1/6/2026), dengan tema “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, Kasal menginstruksikan seluruh prajurit untuk mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dalam setiap tugas.
Wakil Inspektur Jenderal AL Laksda Agus Priyatna yang memimpin upacara membacakan amanat bahwa Pancasila adalah bintang penuntun dan jangkar moral.
Semangat gotong royong, toleransi, dan persatuan menjadi pedoman dalam menjaga kedaulatan, sejalan dengan penekanan Kasal agar prajurit TNI AL memegang teguh Pancasila, memperkuat nasionalisme, serta meningkatkan kualitas pengabdian.
Dengan cara inilah, TNI AL tidak hanya menjadi mesin pertahanan, melainkan juga kekuatan pemersatu yang berkontribusi pada perdamaian dunia.
Di tangan Laksamana Dr. Muhammad Ali, TNI AL menjelma menjadi institusi yang utuh: tangguh dalam pertempuran, cerdas dalam diplomasi, tegas dalam penegakan hukum, dan kokoh dalam ideologi. Ia membuktikan bahwa pemimpin bukan hanya mereka yang sanggup melihat jauh ke depan, tetapi juga mereka yang mampu merawat kebijaksanaan bahwa kedaulatan maritim Indonesia hanya bisa dijaga jika ekosistemnya lestari, prajuritnya profesional dan berkarakter, tindakannya berlandaskan hukum, dan jiwanya diikat oleh semangat gotong royong Pancasila.
Masa depan laut Indonesia tidak hanya bergantung pada modernisasi alutsista, melainkan pada kemampuannya merajut harmoni antara kekuatan, pendidikan, hukum, dan nilai-nilai luhur bangsa. Sebuah potret pemimpin arif yang menjadikan samudera sebagai halaman depan peradaban Indonesia yang bermartabat.
(GRD/pen)














