JAKARTA – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menorehkan rekor baru dalam sejarah diplomasi Indonesia. Sejak dilantik sebagai Presiden ke-8 RI pada 20 Oktober 2024, intensitas lawatan kenegaraan Prabowo terus menjadi sorotan. Hingga awal Juni 2026, atau dalam kurun waktu sekitar 20 bulan masa pemerintahannya, Kepala Negara tercatat telah melakukan 53 kali kunjungan ke luar negeri.
Berdasarkan data yang dihimpun, Prabowo langsung “tancap gas” dengan menuntaskan enam kunjungan di penghujung tahun 2024. Intensitas tersebut meningkat signifikan sepanjang tahun 2025 dengan total 35 kunjungan, dan pada tahun 2026 ini telah bertambah 12 kunjungan, di mana tiga di antaranya dilakukan ke Paris, Prancis.
Menanggapi intensitas perjalanan yang menyedot perhatian publik ini, Pengamat Pertahanan dan Keamanan sekaligus Kandidat Doktor Ilmu Ketahanan Nasional Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Septiawan, menilai langkah tersebut sebagai implementasi doktrin “Diplomasi Total” yang menggabungkan pendekatan ekonomi, pertahanan, dan pengaruh politik.
Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Ini Strategi Geopolitik
Iwan Septiawan menjelaskan bahwa frekuensi kunjungan yang tinggi ini bukan hanya soal kehadiran fisik di forum internasional, melainkan strategi terukur untuk menempatkan Indonesia di pusat gravitasi kekuatan global yang baru.
“Apa yang dilakukan Presiden Prabowo adalah representasi dari omnidirectional foreign policy yang adaptif terhadap dinamika global. Di tengah rivalitas Amerika Serikat dan China, serta ketidakpastian geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah, Indonesia memilih untuk hadir di semua lini. Ini bukan hanya menjual potensi ekonomi, tetapi juga menjamin keamanan rantai pasok dan memperkuat diplomasi pertahanan,” ujar Iwan.
Kunjungan ke negara-negara non-tradisional seperti Azerbaijan, Uzbekistan, Kazakhstan, serta negara-negara Afrika seperti Nigeria, Aljazair, dan Ethiopia, dinilai Iwan sebagai langkah jemput bola yang brilian.
Pemerintah menegaskan bahwa 53 lawatan tersebut difokuskan pada pengamanan kepentingan nasional, terutama di sektor hilirisasi industri, ketahanan pangan, dan energi. Dalam setiap kunjungan, Presiden Prabowo secara konsisten mempromosikan Indonesia sebagai destinasi investasi strategis.
“Kita tidak bisa lagi berdiplomasi dengan cara biasa. Jika kita ingin investasi triliun masuk, kita harus menjemputnya langsung. Kunjungan ini adalah upaya meyakinkan para pemilik modal bahwa Indonesia adalah mitra yang stabil dan aman,” demikian kutipan pernyataan Presiden Prabowo yang kerap disampaikan dalam keterangan pers disampiakan Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Teddy Indra Wijaya.
Teddy Indra Wijaya menyampaikan sejumlah hasil yang diraih Indonesia selama satu setengah tahun pertama pemerintah Presiden Prabowo Subianto melalui aktivitas diplomasi dan kunjungan luar Negeri, Investasi Capai Rp2.430 T.
Di sektor ekonomi, Teddy menyatakan total investasi yang masuk ke Indonesia selama satu setengah tahun terakhir mencapai sekitar Rp2.430 triliun berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Menurut Teddy, salah satu capaian penting negeri yang berhasil diraih Indonesia adalah bergabung dengan kelompok BRICS. la menilai keanggotaan Indonesia dalam blok ekonomi tersebut memperkuat posisi nasional di tengah situasi global yang dipenuhi ketidakpastian akibat berbagai konflik internasional.
Intensitas pertemuan dengan para pemimpin negara kaya sumber daya dan teknologi, seperti di Timur Tengah (UEA, Qatar, Arab Saudi) dan Asia Timur (China, Jepang, Korea Selatan), berhasil membuka negosiasi percepatan perjanjian perdagangan bebas (FTA) dan komitmen pendanaan proyek strategis.
Jangkauan diplomasi Prabowo sangat luas, meliputi 53 negara di enam benua. Berikut adalah peta sebaran kunjungan yang menunjukkan keseimbangan baru dalam politik luar negeri Indonesia:
Asia (Fokus Utama): Malaysia, China, India, Jepang, Korea Selatan, Pakistan, Vietnam, Filipina, Thailand, Brunei Darussalam, Singapura, Kamboja, Laos, Myanmar, Kazakhstan, Uzbekistan, Azerbaijan.
Timur Tengah & Afrika (Poros Baru): Arab Saudi, UEA, Turki, Mesir, Qatar, Yordania, Oman, Bahrain, Kuwait, Afrika Selatan, Nigeria, Maroko, Aljazair, Etiopia.
Eropa & Amerika (Mitra Klasik & Strategis): Rusia, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Portugal, Italia, Swiss, Austria, Polandia, Hungaria, Ceko, Belarusia, Belgia, Vatikan, Belanda, AS, Kanada, Brasil, Peru.
Perhatian khusus tertuju pada kunjungan ke Prancis yang sudah dilakukan tiga kali pada paruh pertama 2026. Iwan Septiawan menduga ada pembahasan intensif terkait kerja sama alutsista yang lebih adaptif serta potensi investasi besar di sektor transisi energi.
“Paris menjadi salah satu poros yang diulangi kunjungannya, ini menandakan bahwa negosiasi tingkat tinggi sedang berlangsung. Kemungkinan besar terkait penguatan postur pertahanan maritim dan udara, serta tender proyek strategis energi bersih,” tambah Iwan.
Pandangan Iwan, Meski mendapat pujian atas strategi jet diplomacy yang agresif, publik dan parlemen diharapkan tetap mengawal realisasi manfaat ekonomi dari setiap kunjungan tersebut. Pemerintah optimistis bahwa peningkatan investasi, ekspansi pasar ekspor non-tradisional, dan pengaruh politik yang semakin kuat di panggung dunia akan menjadi buah dari 53 kunjungan ini dalam jangka panjang.
(GRD)














