SURABAYA – Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan percepatan revolusi teknologi pertahanan global, TNI Angkatan Laut (AL) mengambil langkah strategis untuk mempertajam naluri tempur dan profesionalisme para perwiranya.
Wakil Komandan Komando Daerah Maritim (Wadan Kodaeral) V, Brigadir Jenderal TNI (Marinir) Suwandi, S.A.P., M.M., menghadiri langsung pengarahan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, di Pusat Latihan Tempur (PTA) Koarmada II, Surabaya, Rabu (13/5/2026).
Pengarahan bertajuk “Transformasi Perwira Menghadapi Dinamika Strategis” ini tidak hanya berlangsung secara fisik, tetapi juga diikuti secara virtual oleh ribuan perwira di seluruh jajaran satuan wilayah Indonesia.
Langkah hibrida ini menegaskan komitmen TNI AL dalam meratakan distribusi doktrin strategis hingga ke ujung-ujung Nusantara.
Dalam arahannya, Kasal menekankan bahwa lanskap ancaman telah bergeser drastis.
“Kita tidak lagi sekadar berbicara perang laut konvensional, tetapi operasi multi-domain (Multi-Domain Operations). Kita harus menguasai teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), drone, dan siber yang kini menjadi tulang punggung peperangan modern,” tegas Laksamana Ali di hadapan para perwira.
Namun, di balik kecanggihan teknologi, Kasal secara khusus menyoroti dan menghidupkan kembali doktrin asimetris khas Indonesia: Perang Gerilya Laut bercirikan Kepulauan.
Menurutnya, karakteristik geografis Indonesia dengan 17.000 lebih pulau bukanlah hambatan, melainkan benteng tak kasat mata yang harus dioptimalkan.
“Konsep peperangan kepulauan adalah DNA pertahanan maritim kita. Kita latih para perwira untuk mampu mengendalikan selat-selat strategis dengan mobilitas dan penyamaran, mengubah laut menjadi labirin mematikan bagi musuh,” paparnya.
Wadan Kodaeral V, Brigjen TNI (Mar) Suwandi, usai pengarahan menyatakan bahwa arahan tersebut menjadi pemantik semangat baru bagi jajaran Komando Daerah Maritim.
“Arahan Kasal sangat visioner. Prajurit Jalasena siap mengimplementasikan konsep perang kepulauan ini, memadukan kemampuan pengawak alutsista modern dengan taktik gerilya laut yang menjadi ciri khas prajurit Indonesia,” ujar para perwira.
Kasal juga menegaskan bahwa pembangunan alutsista canggih harus paralel dengan pembinaan manusia. Profesionalisme, integritas, dan kepemimpinan berbasis keteladanan menjadi pilar utama dalam menciptakan prajurit yang bermental baja dan adaptif.
Sebagai simbol penguatan supremasi hukum di laut, Kasal secara simbolis menyerahkan Buku Panduan Penegakan Hukum dan Kedaulatan serta Aturan Pelibatan (Rules of Engagement) kepada perwakilan perwira.
Pedoman ini menjadi kompas bagi prajurit dalam menjaga keamanan laut agar tetap profesional dan sesuai koridor hukum humaniter internasional.
Mengakhiri arahannya, Kasal menyampaikan pesan penuh optimisme, “Bergerak maju, berinovasi, dan beradaptasi. Jaga soliditas dan profesionalisme demi kejayaan TNI AL dan kedaulatan Bangsa Indonesia.”
Momentum ini menjadi penanda bahwa TNI AL tengah bertransformasi menjadi kekuatan maritim modern yang tidak hanya unggul secara teknologi, namun juga cerdik dalam memanfaatkan karakteristik alam Nusantara sebagai senjata strategis.
(GRD/pen)














