ITALIA – Mengemban amanah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, delegasi TNI Angkatan Laut menggelar kunjungan kerja strategis ke pusat industri penerbangan Italia pada 5 hingga 11 Mei 2026.
Misi ini menjadi langkah progresif dalam memperdalam kajian teknologi penerbangan strategis untuk mendukung penguatan kedaulatan maritim Indonesia.
Delegasi yang dipimpin langsung oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Laut (Wakasal) Laksamana Madya TNI Edwin, S.H., M.Han., M.H., ini menyasar dua nama besar industri kedirgantaraan global, yakni Vulcanair S.A. di Casoria, Naples, serta raksasa helikopter militer Leonardo Helicopters.
Dalam kunjungan ke fasilitas produksi Vulcanair, perhatian delegasi tertuju pada pesawat A-Viator (AP68TP-600). Sebagai pesawat twin turboprop berkonfigurasi sayap tinggi (high-wing), A-Viator menawarkan efisiensi operasional tinggi.
Dengan kapasitas 11 personel (2 pilot dan 9 penumpang) serta dilengkapi retractable landing gear, pesawat ini memiliki performa kecepatan yang mumpuni.
Bagi jajaran TNI AL, platform ini dinilai sangat fleksibel. Tidak hanya ideal untuk pengawasan udara maritim, A-Viator juga mampu mendukung misi pemetaan fotogrametri hingga pengoperasian kamera FLIR untuk misi pengintaian dan deteksi jarak jauh.
Keunggulan pada efisiensi biaya dan kemudahan perawatan menjadi kalkulasi strategis dalam proyeksi peningkatan kekuatan udara TNI AL di masa mendatang.
Rangkaian agenda berlanjut ke Leonardo Helicopters. Di sini, delegasi mendapat paparan teknis komprehensif mengenai dua platform helikopter modern unggulan, yakni AW149 dan NH90 NFH (NATO Frigate Helicopter).
AW149 adalah helikopter militer medium multi-peran berbobot maksimal 8,6 ton. Didesain mampu mengangkut hingga 16 personel bersenjata lengkap dalam segala kondisi cuaca, helikopter ini menawarkan konfigurasi misi yang sangat luas; mulai dari Search and Rescue (SAR), evakuasi medis, hingga close air support.
Sementara itu, NH90 NFH hadir sebagai jawaban atas kebutuhan operasi maritim modern. Diciptakan spesifik untuk peperangan anti kapal selam (Anti-Submarine Warfare/ASW), helikopter ini dibekali sistem dipping sonar SONICS Flash Mk1 dan teknologi pemrosesan sonobuoy mutakhir.
Tidak hanya unggul dalam deteksi, NH90 NFH juga dipersenjatai torpedo MU90 dan rudal anti-kapal Marte ER, menjadikannya garda terdepan dalam sistem pertahanan laut TNI AL.
Kunjungan ini bukan sekadar tinjauan teknis. Sesuai arahan Kasal Laksamana TNI Muhammad Ali, diskusi mendalam diarahkan pada potensi transfer teknologi serta skema dukungan logistik jangka panjang.
Langkah ini adalah wujud konkret due diligence TNI AL dalam memastikan bahwa modernisasi Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) tidak hanya memenuhi kebutuhan operasional, tetapi juga menciptakan kemandirian industri pertahanan.
Wakasal didampingi sejumlah pejabat utama Mabesal dalam misi ini, termasuk Asrena Kasal Laksda TNI Dr. H. Krisno Utomo, Danpuspenerbal Laksda TNI Bayu Alisyahbana, serta para perwira menengah bidang operasi, perencanaan, dan logistik.
Mobilitas delegasi turut difasilitasi oleh Atase Pertahanan RI untuk Roma, Kolonel Laut (P) Profidol Andre Mantiri Dotulung.
Melalui misi diplomasi pertahanan ini, TNI AL menegaskan komitmennya untuk terus beradaptasi dengan dinamika ancaman maritim. Amanah yang diberikan Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali sangat jelas, setiap pengembangan kekuatan pertahanan di masa depan harus memiliki nilai strategis tinggi, bertumpu pada teknologi modern, dan secara presisi mampu menjawab kompleksitas operasi di laut.
(GAS/PEN)













