JAKARTA – Kedatangan Kapal Republik Indonesia (KRI) Canopus-936 di Markas Komando Lintas Laut Militer (Mako Kolinlamil), Jakarta, Senin (11/5), bukan sekadar seremoni penyambutan alutsista baru.
Di balik momen bersejarah ini, tampak jelas keteguhan dan kebijaksanaan seorang pemimpin militer yang memandang jauh ke depan, Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali. Sosoknya merepresentasikan pemimpin yang arif. Di tengah euforia hadirnya kapal bantu hidrografi dan oseanografi (BHO) modern buatan kerja sama Indonesia-Jerman itu, Kasal justru menyoroti satu hal fundamental yang sering terlewat: kemandirian bangsa.
Dengan senyum khas dan gaya komunikasi yang teduh namun tegas, ia menyampaikan visi strategis yang membumi.
“Kapal ini cukup canggih dan dilengkapi sensor bawah air dengan teknologi tinggi. Mudah-mudahan ke depan kita bisa membangun kapal serupa secara mandiri sepenuhnya di Indonesia,” ujar Laksamana TNI Muhammad Ali.

Pernyataan ini bukan retorika kosong. Kasal membeberkan fakta konkret bahwa tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) KRI Canopus-936 telah melampaui 60 persen.
Angka ini adalah loncatan besar yang lahir dari proses pembangunan oleh perusahaan Indonesia di Batam yang bersinergi dengan galangan kapal Abeking dan Rasmussen di Bremen, Jerman. Di mata Kasal, keberhasilan ini adalah batu loncatan, bukan garis finis.
Arif Membaca Masa Depan Riset
Kebijaksanaan Laksamana Muhammad Ali terlihat dari cara ia menempatkan alutsista dalam ekosistem yang lebih luas. Ia tidak hanya melihat KRI Canopus-936 sebagai aset tempur atau survei TNI AL semata, melainkan sebagai laboratorium terapung bagi kemajuan bangsa.
Di hadapan Dirjen Riset dan Pengembangan (Risbang) Kemdiktisaintek Fauzan Adziman yang hadir dalam penyambutan, serta jajaran kementerian dan BRIN, Kasal membuka pintu lebar-lebar untuk kolaborasi.
Ia paham betul, kapal dengan teknologi remotely operated vehicle (ROV), autonomous underwater vehicle (AUV), dan sensor canggih ini adalah kunci emas bagi perguruan tinggi dan peneliti nasional untuk mendalami riset kelautan, mulai dari pemetaan sumber daya mineral hingga mitigasi bencana.
Inilah ciri pemimpin arif: ia tidak menimbun kekuatan untuk institusinya sendiri, melainkan mendistribusikannya untuk kepentingan nasional yang lebih besar.
Di bawah komandonya, TNI AL menjadi inklusif, menjadi katalisator bagi ekosistem riset yang melibatkan Kemdiktisaintek, KKP, hingga BRIN demi ketahanan pangan, energi, dan maritim.
Aspek kebijaksanaan lain tercermin dari perhatiannya pada sumber daya manusia. KRI Canopus-936 memang canggih, tetapi bagi Muhammad Ali, secanggih apa pun teknologi, ia tak berarti tanpa awak yang mumpuni.
Pengawak KRI Canopus-936 telah ditempa pelatihan intensif selama tujuh bulan di Jerman, plus pendidikan lanjutan di sekolah hidrografi TNI AL.
Investasi besar pada manusia ini adalah bukti visi Kasal, teknologi boleh dibeli, tetapi keahlian harus ditanam dan ditularkan. Ini adalah jalan sunyi menuju kemandirian sejati yang ia canangkan.
“Bangun kapal serupa secara mandiri sepenuhnya di Indonesia,” tegasnya. Kalimat itu bukan hanya target industri, melainkan target peradaban maritim.
KRI Canopus-936, yang menempuh 57 hari pelayaran dari Jerman ke Jakarta, kini bersandar sebagai simbol. Bagi TNI AL, ia adalah alat pertahanan dan SAR kapal selam.
Namun bagi publik, kapal ini adalah monumen kebijaksanaan Laksamana TNI Muhammad Ali seorang pemimpin yang memilih jalan kolaborasi alih-alih eksklusivitas, dan memilih investasi jangka panjang alih-alih pencitraan sesaat.
Dengan kearifan khasnya, Kasal Muhammad Ali menunjukan bahwa kedaulatan maritim bukan hanya tentang menjaga laut dari kapal asing, tetapi juga tentang menaklukkan kedalaman laut dengan otak dan tangan anak bangsa sendiri.
(GRD/pro)













