JAKARTA – Ada yang berbeda dari upacara peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Tentara Nasional Indonesia di Lapangan Prima, Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (5/10/2026) pagi. Langit Jakarta yang biasanya terik, seolah ikut khidmat menyaksikan momen bersejarah ketika Presiden Prabowo Subianto menyematkan Bintang Mahaputera Adipradana di dada Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf Angkatan Laut.
Di hadapan ribuan pasukan yang berdiri tegak, di hadapan para pendahulu bangsa Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden ke-7 Joko Widodo yang duduk berdampingan serta di hadapan seluruh rakyat Indonesia yang menyaksikan lewat layar kaca, seorang putra Bandung yang memulai kariernya di lorong sempit kapal selam itu menerima salah satu penghargaan tertinggi negara.
Bagi sebagian orang, tanda kehormatan mungkin sekadar selempang dan lencana. Namun bagi Laksamana Ali, bintang itu adalah akumulasi dari 37 tahun pengabdian yang tidak pernah meminta sorotan. Ia adalah sosok yang lebih banyak menghabiskan waktunya di bawah permukaan laut dibanding di panggung kehormatan.
Laksamana TNI Muhammad Ali bukanlah perwira yang tiba-tiba muncul di puncak. Lahir di Bandung, 9 April 1967, ia menempuh jalan panjang yang penuh liku sejak dilantik sebagai Perwira TNI Angkatan Laut dengan pangkat Letnan Dua pada 22 Juli 1989.
Kariernya dimulai dari bawah. Sebagai Perwira Departemen Operasi KRI Sigalu-857 pada 1990, Ali muda belajar arti disiplin di kapal patroli cepat. Namun takdir membawanya ke dunia yang lebih sunyi dan menantang: kapal selam. Pada 1992, ia berpindah ke KRI Nanggala-402 sebagai Asisten Perwira Divisi Ekasen.
Di lorong baja yang sempit, tanpa sinar matahari, tanpa sinyal, Ali menempa diri. Dari Perwira Torpedo di KRI Pasopati, kembali ke Nanggala sebagai Perwira Komunikasi, hingga akhirnya dipercaya menjadi Komandan KRI Nanggala-402 pada 2004.
Menjadi komandan kapal selam bukanlah jabatan biasa. Itu adalah kepercayaan absolut atas nyawa ratusan pelaut, atas kerahasiaan negara, atas kemampuan mengambil keputusan dalam sepersekian detik di kedalaman ratusan meter.
Jejak pendidikannya pun berbicara tentang keseriusan. Ali menempuh Kursus Ausbildung Waffengerat U Boote 206 di Jerman, pendidikan Internasional Principal Warfare Officer di Inggris, hingga International Submarine Warfare, juga di Inggris . Ia adalah salah satu dari sedikit perwira Indonesia yang benar-benar menguasai seluk-beluk peperangan bawah laut dari sumbernya langsung.
Namun Ali juga bukan prajurit yang hanya bisa bertempur. Ia menyelesaikan S1 Ekonomi dan S2 Manajemen dan Serta Doktor Universitas Trisakti Jakarta, menjadikannya perwira yang memahami bahwa kekuatan militer tidak bisa dipisahkan dari ketahanan ekonomi bangsa.
Ketika Sekretaris Militer Presiden, Mayjen TNI Wahyu Yudhayana, membacakan Keputusan Presiden RI Nomor 87/TK Tahun 2026, suasana Lapangan Prima berubah hening.
Nama demi nama disebut. Hingga tibalah pada satu nama Laksamana TNI Muhammad Ali, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, dianugerahi Tanda Kehormatan Bintang Mahaputera Adipradana.
Presiden Prabowo, yang juga bertindak sebagai inspektur upacara, menyematkan sendiri tanda kehormatan itu. Tidak ada senyum berlebihan, tidak ada gestur dramatis. Hanya tatapan hormat antara dua putra terbaik bangsa: satu sebagai pemimpin negara, satu sebagai penjaga lautnya.
Dalam amanatnya, Presiden Prabowo menyampaikan pesan yang sederhana namun menghunjam. “Atas nama pemerintah, negara, bangsa, dan rakyat Indonesia, dan atas nama pribadi saya menyampaikan selamat hari ulang tahun yang ke-81 Tentara Nasional Indonesia. Dirgahayu TNI” ucap Presiden, seperti dikutip dari kanal resmi Sekretariat Presiden.
Presiden juga menyampaikan terima kasih yang tulus kepada seluruh prajurit. “Kepada seluruh prajurit TNI, saya menyampaikan terima kasih atas kesetiaan, pengabdian, dan pengorbanan saudara-saudara dalam menjaga kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah, memperkokoh persatuan bangsa, serta melindungi seluruh rakyat Indonesia” .
HUT ke-81 TNI tahun ini mengusung tema “TNI Kuat Bersama Rakyat, Indonesia Berdaulat Adil dan Makmur” . Tema itu bukan sekadar kalimat kosong. Di tengah berbagai tantangan bangsa dari bencana alam hingga dinamika geopolitik kawasan kehadiran TNI di tengah masyarakat menjadi oase yang menenangkan.
Upacara tahun ini digelar secara sederhana. Tidak ada parade besar-besaran, tidak ada defile alutsista yang megah. Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto menjelaskan bahwa banyak personel masih ditugaskan membantu penanganan bencana di sejumlah daerah . Kesederhanaan itu justru menyentuh. Di saat negara menghadapi kesulitan, TNI memilih untuk hadir bukan sebagai tontonan, melainkan sebagai solusi.
Namun demikian, momen penganugerahan tanda kehormatan tetap berlangsung khidmat. Selain Laksamana Ali, terdapat enam tokoh TNI lain yang menerima penghargaan.
Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago, Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan periode 2025-2026, Jenderal TNI (Purn) Sjafrie Sjamsoeddin selaku Menteri Pertahanan, dan Jenderal TNI Agus Subiyanto selaku Panglima TNI dianugerahi Bintang Mahaputera Adipurna.
Sementara itu, selain Laksamana Muhammad Ali, Bintang Mahaputera Adipradana juga diberikan kepada Jenderal TNI Tandyo Budi Revita selaku Wakil Panglima TNI, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak selaku Kepala Staf TNI Angkatan Darat, dan Marsekal TNI M. Tonny Harjono selaku Kepala Staf TNI Angkatan Udara.
Jejak yang Tak Pernah Padam
Bagi mereka yang mengenal Laksamana Ali dari dekat, penghargaan ini bukanlah kejutan. Ia dikenal sebagai perwira yang tenang, rendah hati, namun tegas dalam mengambil keputusan. Selama menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Laut sejak 28 Desember 2022, ia telah membawa TNI AL menuju modernisasi yang terukur, tanpa kehilangan akar tradisi maritimnya.
Belum lama ini, pada 14 September 2026, Laksamana Ali juga menerima bintang kehormatan Nishan-e-Imtiaz (Military) dari Presiden Pakistan Asif Ali Zardari di Istana Kepresidenan Aiwan-e-Sadr, Islamabad. Penghargaan itu menegaskan bahwa reputasi Ali tidak hanya diakui di dalam negeri, tetapi juga di kancah internasional.
Namun di balik semua penghargaan itu, ada satu hal yang sering ia tekankan: bahwa kekuatan TNI AL bukan terletak pada alutsista semata, melainkan pada manusia-manusia yang mengawakinya. Pada kesetiaan yang tidak pernah menuntut imbalan. Pada keberanian yang tidak pernah mencari panggung.
Ketika upacara ditutup dengan lagu Andhika Bhayangkari dan laporan komandan upacara, Laksamana Ali kembali ke barisan.
Bintang Mahaputera Adipradana yang tersemat di dadanya bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, itu adalah pengingat bahwa masih ada samudra yang harus dijaga, masih ada generasi muda yang harus dibimbing, masih ada kedaulatan yang harus dipertahankan.
Di sudut lain Lapangan Prima, Presiden Prabowo bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan seluruh pimpinan lembaga negara berdiri untuk memberikan penghormatan terakhir sebelum meninggalkan lokasi. Di kejauhan, samudra Indonesia tetap bergelora, seperti 81 tahun lalu ketika para pendahulu memulai perjalanan panjang ini.
Bagi Laksamana TNI Muhammad Ali, bintang itu mungkin akan disimpan rapi di lemari. Namun bagi rakyat Indonesia, kisah tentang seorang anak Bandung yang menjaga laut dari kedalaman gelap hingga puncak kehormatan adalah pengingat abadi: bahwa pengabdian sejati tidak pernah mengenal batas kedalaman, tidak pernah meminta sorotan, dan tidak pernah berhenti sampai akhir.
Dirgahayu TNI. Dirgahayu penjaga samudra.














