BANJARMASIN – Air mata kembali menetes di dermaga. Setelah dua belas hari bergelut dengan gelapnya dasar laut dan derasnya arus, kabar yang ditunggu sekaligus ditakutkan itu akhirnya datang. Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi 14 jenazah korban tenggelamnya KM Virgo Transport 8.
Sebuah pukulan berat, namun sekaligus penutup penantian panjang bagi keluarga yang selama ini menggantungkan doa di ujung bibir.
Di balik keberhasilan evakuasi ini, terdapat kisah heroisme yang mengharukan. Penyelam TNI Angkatan Laut dari Satuan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba) serta Satuan Komando Pasukan Katak (Satkopaska) Koarmada II, bahu-membahu dengan penyelam Basarnas dan Potensi SAR (Possi).
Mereka bukan sekadar petugas, melainkan malaikat penyelamat yang rela mempertaruhkan nyawa demi mengembalikan jasad para korban kepada keluarga tercinta.
Operasi evakuasi hari itu terbagi dalam tiga tahap penyelaman yang menegangkan. Pada penyelaman tahap pertama pukul 09.33 hingga 10.05 WITA, empat penyelam TNI AL—Lettu Rajab, Serda Sumarjoko, Serda Rahmat Mardiono, dan Klk Febriansyah menunjukkan profesionalisme luar biasa. Dengan penuh perhitungan dan kehati-hatian terhadap kondisi tubuh korban, mereka berhasil mengevakuasi tujuh jenazah laki-laki dari ruangan buritan lambung kanan kapal.
Namun, laut tidak selalu bersahabat. Pada penyelaman tahap kedua pukul 11.52 hingga 12.19 WITA, Sertu Bambang Irawan, Sertu Nugroho, Serka Khoirul Anwar, dan Serda Sandi harus bekerja ekstra keras.
Mereka terpaksa memecahkan kaca bagian buritan lambung kanan kapal untuk membuka akses menuju korban. Satu jenazah laki-laki berhasil dievakuasi dalam operasi yang penuh ketegangan ini.
Penyelaman tahap ketiga menjadi puncak dari operasi kemanusiaan tersebut. Selama 33 menit, tepatnya pukul 14.36 hingga 15.09 WITA, lima penyelam TNI AL—Kpt Ronzy, Sertu Sutrisno, Serka Agung, Sertu Rossi, dan Serka Supriyatna—berhasil menemukan dan mengevakuasi enam jenazah laki-laki dari dalam ruangan buritan lambung kanan KM Virgo Transport 8. Total 14 jenazah telah ditemukan hari itu.
Tiga jenazah dievakuasi ke KRI I Gusti Ngurah Rai-332, kemudian diterbangkan menggunakan Heli HS-1311 menuju Lanud Sjamsudin Noor Banjarmasin untuk proses penanganan selanjutnya.
Sementara 11 jenazah lainnya dibawa ke KN SAR Pacitan untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut sesuai prosedur. Setiap jenazah diperlakukan dengan penuh hormat, seolah mereka adalah anggota keluarga sendiri.
Dalam proses pencarian dan evakuasi ini, TNI Angkatan Laut mengerahkan kekuatan besar. KRI I Gusti Ngurah Rai-332, KRI Sultan Iskandar Muda-367, dan heli HS-1311 dikerahkan.
Sebanyak 45 prajurit diterjunkan, terdiri dari 35 prajurit Satkoppeba dan 10 prajurit Satkopaska Koarmada II. Rinciannya, 12 prajurit Satkoppeba di KRI GNR-332, 2 prajurit Satkoppeba di KRI SIM-367, serta 9 prajurit Satkoppeba dan 3 prajurit Satkopaska di KN Pacitan.
Kekuatan terus bertambah dengan penambahan 12 prajurit Satkoppeba dan 7 prajurit Satkopaska Koarmada II di KRI HIU-634 yang hari ini bergabung. Seluruh proses pencarian dan evakuasi dilaksanakan dengan mengedepankan sinergi, kehati-hatian, serta keselamatan seluruh personel yang terlibat dalam operasi kemanusiaan tersebut.
Bagi keluarga korban, kabar ini adalah akhir dari penantian yang menyiksa. Meski harus menerima kenyataan pahit, setidaknya mereka bisa memeluk kembali jasad orang-orang tercinta untuk dimakamkan dengan layak.
Bagi para penyelam, ini adalah bukti nyata bahwa tugas mereka bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa untuk membantu sesama.
Di tengah deru ombak dan dinginnya air laut, dedikasi para prajurit TNI AL, Basarnas, dan Possi menjadi cahaya harapan. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang bekerja dalam sunyi, demi kemanusiaan. Semoga seluruh korban mendapatkan tempat terbaik di sisi-Nya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.
(GRD/pen)














