Dari Sriwijaya ke Laut Biru: Mimpi Kekuatan Maritim Terbangun Kembali

Kapal induk
Kapal induk

JAKARTA – Ketika bendera Merah Putih perlahan naik di pelabuhan Tanjung Priok, sebuah memori maritim yang tertidur selama seribu tahun kembali terbangun. Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali, berdiri di Dermaga 107 dan mengumumkan sebuah keputusan bersejarah: kapal induk pertama Indonesia akan dinamai KRI Sriwijaya-100.

Suara kasal Muhammad Ali mantap dan penuh keyakinan. Nama “Sriwijaya” yang dipilihnya bukan sekadar simbol sejarah biasa, melainkan akar terdalam dari identitas maritim Indonesia. “Sriwijaya adalah kerajaan maritim tertua di Indonesia, lebih tua dari Majapahit. Itulah alasan kami memilihnya,” ujarnya.

Dalam narasi resmi, Sriwijaya digambarkan sebagai salah satu kerajaan maritim terbesar di Asia Tenggara pada masanya.

Berpusat di sekitar Palembang dan berkembang sejak abad ke-7 hingga abad ke-13 Masehi, Sriwijaya tumbuh sebagai kekuatan politik, perdagangan, dan keagamaan yang berpengaruh luas.

Letaknya yang strategis memungkinkan Sriwijaya menguasai jalur perdagangan penting, khususnya di kawasan Selat Malaka. Jaringan kekuasaannya menjangkau Sumatera, Semenanjung Malaya, Jawa, hingga kawasan Asia Tenggara lainnya.

Kejayaan Sriwijaya kemudian menempatkannya sebagai simbol penting dalam historiografi maritim Indonesia. Penguasaannya atas jalur perdagangan laut dan kemampuannya membangun jaringan antardaerah menunjukkan peran besar Sriwijaya dalam membentuk konektivitas wilayah Kepulauan Nusantara pada masa lampau.

Setelah Indonesia merdeka, sejarah Sriwijaya semakin sering dihadirkan dalam narasi pembangunan identitas nasional, terutama sebagai salah satu landasan historis bagi gagasan Indonesia sebagai negara kepulauan dan konsep Wawasan Nusantara.

Kapal induk yang membawa harapan besar ini sendiri adalah seorang “veteran” dari Semenanjung Apennina. Sebelumnya, kapal ini adalah ITS Giuseppe Garibaldi milik Angkatan Laut Italia, yang mulai bertugas pada 1985 dan pensiun pada 2024 sebelum diserahkan kepada Indonesia melalui program bantuan antarpemerintah.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 6.870 mil laut, melintasi Terusan Suez, Laut Merah, dan Samudra Hindia, kapal ini tiba di Jakarta pada 18 September 2026. Kedatangannya dikawal oleh fregat terbaru TNI AL, KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, melalui alur laut kepulauan Indonesia.

Kapal ini memiliki bobot penuh sekitar 13.850 ton, panjang 180,2 meter, dan kecepatan maksimum sekitar 30 knot. Kapal ini mampu mengoperasikan helikopter serta pesawat short take-off and vertical landing (STOVL).

Meskipun memiliki spesifikasi teknis yang mengesankan, pemerintah Indonesia menegaskan posisinya dengan jelas: kapal ini terlebih dahulu merupakan platform udara dan kemanusiaan yang bergerak, bukan alat proyeksi kekuatan ofensif.

Laksamana Ali menekankan bahwa kapal induk ini akan Operasi Militer Selain Perang (OMSP), terutama penanggulangan bencana. “Negara kita sering dilanda bencana,” ujarnya. “Kami sangat membutuhkan platform yang dapat membawa banyak helikopter untuk mengirimkan bantuan logistik ke daerah terpencil dengan cepat.”

Indonesia belum memiliki pesawat tempur STOVL dan dalam waktu dekat tidak berencana membelinya. Penggunaan paling realistis kapal ini adalah sebagai pangkalan helikopter dan drone di laut untuk misi pengawasan, pengintaian, bantuan kemanusiaan, dan komando kendali.

Bagi Indonesia, bergabungnya KRI Sriwijaya-100 ke jajaran armada memiliki makna politik dan simbolis yang jauh lebih besar daripada perubahan militer yang instan.

Mantan Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana (Purn) Marsetio, dalam sebuah tulisannya menyebut bahwa kapal induk ini, bersama fregat dan kapal selam, merupakan deklarasi Indonesia menuju “angkatan laut laut biru.” Nama “Sriwijaya” dipilih untuk menandai niat merebut kembali kejayaan maritim.

Ketika kapal yang dinamai menurut penguasa laut seribu tahun lalu itu berlayar memasuki Laut Jawa, yang dibawanya adalah imajinasi ulang sebuah negara kepulauan modern tentang posisi historisnya: dari jaringan perdagangan muson Sriwijaya, hingga jejak laut biru hari ini, Indonesia sedang menulis narasi maritim yang melampaui ruang dan waktu  dengan baja dan tekad.

(GRD/bro)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *