NTT – TNI Angkatan Laut (TNI AL) kembali menunjukkan komitmennya dalam misi kemanusiaan dengan mengerahkan kekuatan udaranya untuk mendukung penanggulangan bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Di bawah kendali operasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), satu unit helikopter TNI AL diterjunkan untuk mendistribusikan bantuan logistik dan mendukung misi Search and Rescue (SAR) ke wilayah-wilayah terdampak yang sulit dijangkau jalur darat.
Pengerahan unsur udara ini merupakan instruksi langsung Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali sebagai wujud nyata kehadiran negara di tengah masyarakat yang tertimpa musibah.
Unsur udara yang dikerahkan dalam operasi kemanusiaan ini adalah Helikopter Bell 412 dengan registrasi HU-4206 yang berada di bawah komando Skuadron Udara 400 Wing Udara 2 Puspenerbal.
Helikopter tersebut diawaki oleh dua penerbang andal TNI AL, yaitu Lettu Laut (P) I Wayan Agus Angga Pramana sebagai pilot dan Letda Laut (P) Dava Fikri Jovanda sebagai copilot.
Misi kemanusiaan ini dilaksanakan pada Minggu, 16 Agustus 2026. Helikopter lepas landas dari Labuan Bajo menuju titik distribusi pertama di wilayah Reo, Kabupaten Manggarai, kemudian melanjutkan penerbangan ke titik kedua di Nagekeo. Pemilihan rute ini dilakukan untuk memastikan bantuan cepat sampai ke masyarakat yang berada di kawasan terpencil dan mengalami isolasi akibat dampak gempa.
Distribusi bantuan dilakukan dengan metode air-drop atau penurunan bantuan dari udara. Metode ini dipilih karena efektif untuk menjangkau daerah-daerah yang akses jalur daratnya terputus akibat kerusakan infrastruktur pascabencana.
104 Paket Sembako Bantuan Presiden Disalurkan Melalui Udara
Dalam misi tersebut, TNI AL berhasil mendistribusikan sebanyak 104 paket bahan pokok (sembako) yang merupakan bantuan dari Presiden Republik Indonesia. Bantuan tersebut disalurkan langsung kepada warga di wilayah Reo dan Nagekeo yang menjadi prioritas penanganan darurat.
Selain membawa bantuan logistik, pengerahan Helikopter Bell 412 HU-4206 juga memiliki fungsi strategis dalam mendukung misi SAR. Kemampuan manuver dan mobilitas udara helikopter memungkinkan tim untuk melakukan pemetaan cepat wilayah terdampak, menjangkau korban di area terisolasi, serta memperkuat koordinasi penanganan darurat antara TNI AL, BNPB, pemerintah daerah, dan unsur terkait lainnya.
Setelah memastikan seluruh bantuan tersalurkan dengan aman dan lancar, helikopter kembali ke Labuan Bajo dan melaksanakan Remain Over Night (RON) untuk menjaga kesiapan operasional dalam misi lanjutan.
Pengerahan unsur udara dalam penanggulangan bencana ini merupakan bagian dari pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) yang menjadi salah satu tugas pokok TNI.
Kehadiran helikopter TNI AL di Flores dan Nagekeo menjadi bukti nyata bahwa TNI AL tidak hanya hadir dalam menjaga kedaulatan maritim, tetapi juga responsif terhadap kebutuhan masyarakat dalam situasi darurat.
“Pengerahan unsur udara ini adalah wujud komitmen TNI AL untuk terus hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan, khususnya dalam kondisi darurat bencana,” ujar perwakilan Dinas Penerangan TNI AL.
Langkah cepat ini sejalan dengan amanah Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali yang menekankan agar TNI AL senantiasa memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan negara.
Dalam berbagai kesempatan, Kasal menegaskan bahwa TNI AL harus menjadi garda terdepan dalam membantu penanggulangan bencana, terutama di wilayah kepulauan seperti NTT yang memiliki tantangan geografis cukup kompleks.
Dengan dukungan kekuatan udara dan personel yang terlatih, TNI AL siap terus bersinergi dengan BNPB dan pemerintah daerah untuk mempercepat pemulihan wilayah terdampak gempa di NTT.
(GRD/pen)














