Dari Laut ke Algoritma: Mengenal Lebih Dekat Doktor AI Pertama dari Tubuh TNI AL

Foto ilustrasi Artifisial inteligen Gurindam media
Foto ilustrasi Artifisial inteligen Gurindam media

JAKARTA — Ketika seorang perwira tinggi TNI Angkatan Laut dengan lompatan lebih dalam mengandalkan peta laut dan kompas dalam mengawal kedaulatan, melainkan meracik di depan layar menganalisis aliran data AIS, menyetel model deep learning, hingga turun langsung mengajari ratusan personel penerangan tentang kecerdasan buatan, maka perubahan yang sedang terjadi di tubuh TNI AL jauh melampaui sekadar modernisasi alutsista.

Laksamana Pertama TNI Dr. Arif Badrudin, M.Mgt., Stud., kini menjadi sorotan. Bukan hanya karena jabatannya sebagai Kepala Staf Komando Armada I (Kaskoarmada I), tetapi karena latar belakang akademiknya yang jarang dimiliki perwira tinggi, doktor di bidang kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) dengan aplikasi Kabuzen menjadi magnet utama karya sang Doktor.

Sebagaimana amanat yang disampaikan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali  dikitup Gurindam id menyatakan, penguasaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) bukan lagi sekadar pilihan bagi militer.

Pimpinan tertinggi matra laut tersebut menilai teknologi pintar ini sudah menjadi kebutuhan mendesak demi memenangkan peperangan maritim modern.

Pernyataan keras itu mengemuka saat dirinya memberikan taklimat utama (keynote speech) dalam seminar internasional Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) 2026. Forum ilmiah

Tonggak Sejarah di Kampus Bela Negara

Pada Senin, 19 Januari 2026, Aula Merah Putih Kampus Bela Negara, Sentul, Bogor, menjadi saksi lahirnya sumber daya manusia unggul di bidang teknologi pertahanan.

Arif Badruddin resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Pertahanan ke-75 Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Sidang Promosi Terbuka Program Doktor (S3) Konsentrasi Teknologi Pertahanan Cohort-4.

Disertasi yang dipaparkannya berjudul:

“Model Ekosistem Kecerdasan Artifisial guna Membangun Talenta Kecerdasan Artifisial yang Kompeten untuk Meningkatkan Ketangguhan TNI Angkatan Laut.”

Penelitian ini menjawab tantangan strategis TNI AL dalam mengamankan wilayah laut yurisdiksi nasional yang luas dan dinamis, yang setiap hari dilintasi ribuan kapal dengan potensi ancaman yang beragam. Judul itu bukan sekadar retorika akademik  ia adalah peta jalan transformasi.

MNCC: Ketika AI Membaca Laut Lebih Cepat dari Manusia

Dalam berbagai paparannya, Kaskoarmada I memperkenalkan MNCC (Maritime Network Command Centre) — sebuah sistem yang dirancang untuk mengidentifikasi potensi pelanggaran di laut secara cepat, real time, dan akurat dengan memanfaatkan AI.

Cara kerjanya menggabungkan tiga lapis kecerdasan:

1. Parameter perilaku pelanggaran yang disusun berdasarkan aturan, ketentuan perundang-undangan, dan past history pelanggaran di perairan yurisdiksi nasional.

2. Analisis data AIS (Automatic Identification System) yang dipancarkan ribuan kapal setiap detiknya.

3. Deep learning yang mempercepat proses analisis untuk menghasilkan prediksi pelanggaran di berbagai wilayah perairan.

Bayangkan: pekerjaan yang dahulu membutuhkan tim ahli khusus berhari-hari bahkan berminggu-minggu hanya untuk membaca satu tabel data, kini dapat diselesaikan dalam hitungan detik. AI menemukan pola yang sulit dikenali manusia, memprediksi ancaman, dan mempercepat pengambilan keputusan strategis.

Membuat penelitian Arif Badrudin berbeda adalah pendekatannya yang kuantitatif dan terukur. Ia tidak berhenti pada narasi “AI itu penting”, tetapi menguji secara empiris bagaimana pelatihan AI mengubah kompetensi personel TNI AL.

Melalui penelitiannya, personel TNI AL dilatih dalam empat bidang utama: Data Engineering, Machine Learning, Data Science, dan Software Engineering. Hasilnya diuji dengan Paired t-test dan temuannya signifikan:

Keempat pelatihan menghasilkan peningkatan kompetensi yang signifikan secara statistik (p < 0,05), dengan Machine Learning sebagai bidang dengan lonjakan terbesar.

Temuan ini punya implikasi besar: bahkan di dalam institusi militer yang tradisional sekalipun, pelatihan AI yang terstruktur mampu menghasilkan tambahan daya tempur yang terukur dalam waktu relatif singkat. Ini menjadi dasar empiris bagi TNI AL untuk membangun kader AI secara masif.

Dari Markas ke Seluruh Indonesia: Pelatihan Lintas Komando

Ilmu itu tidak berhenti di ruang sidang. Pada Selasa, 2 Juni 2026, Arif Badrudin memimpin pelatihan AI secara daring dari Markas Komando Armada I. Sasaran pelatihan kali ini adalah jajaran penerangan Koarmada I, Koarmada II, Koarmada III, serta Kodaeral I hingga XIV sebuah jangkauan yang mencakup seluruh Nusantara.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di bidang informasi dan komunikasi publik dalam menghadapi perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Dalam paparannya, Kaskoarmada I menegaskan bahwa kecerdasan buatan telah menjadi salah satu teknologi yang berperan penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk bidang komunikasi dan penyebaran informasi.

Personel penerangan dituntut untuk terus meningkatkan kompetensi dan kemampuan adaptasi agar dapat memanfaatkan teknologi secara efektif, profesional, dan bertanggung jawab.

Pelatihan juga menyoroti pentingnya etika penggunaan teknologi digital, akurasi informasi, serta kemampuan verifikasi data di tengah derasnya arus informasi. Hal ini dinilai krusial untuk mendukung tugas penerangan TNI AL dalam menyampaikan informasi yang cepat, tepat, dan dapat dipercaya kepada masyarakat.

Dalam pelatihan tersebut, Arif Badrudin memetakan pemanfaatan AI dalam tugas penerangan ke dalam tiga lapisan strategis:

Pertama, real-time situational awareness. AI digunakan untuk analisis sentimen, pelacakan opini publik, dan peringatan dini terhadap disinformasi memindahkan fokus dari “reaktif membantah” menjadi “proaktif mencegah”.

Kedua, percepatan produksi konten. AI membantu pembuatan infografis, naskah video, dan materi multimedia, memangkas siklus publikasi dari jam ke menit.

Ketiga, verifikasi dan kontra-narasi. Menghadapi ancaman deepfake dan media sintetis, AI digunakan untuk verifikasi silang agar informasi yang dirilis tidak dapat dibantah.

Namun, ia juga menekankan prinsip yang tidak boleh dilanggar, “Etika, akurasi, dan verifikasi data tetap menjadi panglima.”

Praktik Arif Badrudin perlu dibaca dalam konteks yang lebih besar. Saat ini, kekuatan suatu negara tidak lagi semata-mata diukur dari jumlah tentara, luas wilayah, atau kecanggihan persenjataan. Persaingan antarnegara kini juga dibentuk oleh kemampuan menguasai data, mengelola informasi, membangun teknologi, dan mengembangkan AI.

Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, dan Ukraina telah memasukkan AI ke dalam kepentingan pertahanan dan keamanan mereka.

Indonesia menghadapi tantangan ganda: bukan hanya soal kesenjangan teknologi, tetapi juga dilema kedaulatan digital jika algoritma inti, infrastruktur komputasi, dan jalur data bergantung pada pihak luar, maka “kekuatan AI” bisa berubah menjadi kerentanan strategis.

Model MNCC dan Ekosistem KA yang dikembangkan Arif menawarkan jalan Indonesia: tidak mengejar kemandirian penuh di semua lini, tetapi memastikan kendali pada simpul-simpul kritis.

MNCC berjalan di atas lingkungan data milik TNI AL sendiri, data AIS berasal dari jaringan sensor di perairan yurisdiksi nasional, dan model prediksinya dilatih dengan regulasi serta studi kasus domestik artinya, meski platform komputasi bawahnya menggunakan produk eksternal, logika keputusan dan kedaulatan data tetap di tangan sendiri.

Arif Badrudin bukan perwira yang tiba-tiba terjun ke dunia AI. Ia adalah alumnus Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-XL tahun 1994, dengan jejak penugasan yang lengkap, pernah menjabat sebagai Komandan Lanal Ranai, Komandan KRI, Wakapusinfomar TNI, dan sejak 27 Juni 2022 dipercaya sebagai Kadisdikal. Kini, ia mengemban amanat sebagai Kaskoarmada I.

Perjalanan dari dek kapal perang ke laboratorium algoritma adalah cerminan pergeseran TNI AL dari platform-centric warfare menuju network-centric warfare. Seorang perwira yang dahulu mengawal kedaulatan dengan meriam dan radar, kini mengawalnya dengan data dan model prediktif.

Hingga berita ini diturunkan redaksi Gurindam.id, pelatihan AI yang dipimpin Arif Badrudin telah menjangkau seluruh komando utama operasi TNI AL. Ke depan, model Ekosistem KA yang lahir dari disertasinya berpeluang diintegrasikan ke dalam kurikulum Seskoal dan pendidikan tinggi TNI AL lainnya, membentuk rantai kurikulum AI dari pendidikan pembentukan hingga pendidikan strategis.

Sebagaimana disampaikannya saat sidang promosi di Unhan, “Menghadapi ribuan kapal yang melintas setiap hari dengan potensi ancaman beragam, TNI AL membutuhkan kecepatan pengumpulan data, ketepatan analisis, dan efektivitas keputusan taktis.”

Dan AI, kata dia, sedang menjadi saraf pusat yang menghubungkan ketiganya.

Ketika meja seorang jenderal laut mulai diisi peta penempatan kapal dan model machine learning secara bersamaan, transformasi digital sebuah angkatan laut telah melewati garis start. Indonesia, melalui sosok seperti Arif Badrudin, sedang upayakan bahwa ia tidak sekadar menjadi penonton di panggung persaingan AI global.

Sumber: Universitas Pertahanan RI, Markas Komando Armada I/ Gurindam.id

Foto ilustrasi Artifisial inteligen Gurindam media
Foto ilustrasi Artifisial inteligen Gurindam media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *