KRI Gajah Mada Kasal Muhammad Ali Gaungkan Sumpah Palapa Kraton Majapahit

Bersama Kasal Dr Muhammad Ali, Prabowo menyaksikan secara langsung kekuatan maritim TNI Angkatan Laut yang ditampilkan dalam Sailing Pass puluhan kapal perang di atas Kapal Markas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992.
Bersama Kasal Dr Muhammad Ali, Prabowo menyaksikan secara langsung kekuatan maritim TNI Angkatan Laut yang ditampilkan dalam Sailing Pass puluhan kapal perang di atas Kapal Markas KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992.

GURINDAMKRI Gajah Mada, resmi memulai pelayaran perdananya meninggalkan Pelabuhan Italia menuju Tanah Air. Ini bukan sekadar perpindahan armada; ini adalah momen spiritual di mana sejarah Majapahit dibangkitkan kembali ke permukaan laut modern.

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali, dalam pidato yang menggugah di Kraton Majapahit, Jakarta Timur, menegaskan bahwa kapal induk yang sebelumnya bernama ITS Garibaldi ini adalah wujud nyata dari tekad bangsa untuk mempersatukan Nusantara lewat kekuatan laut.

Dengan rute pelayaran penuh tantangan melintasi Terusan Suez dan Laut Merah, KRI Gajah Mada membawa serta doa 280 juta rakyat Indonesia.

Laksamana Muhammad Ali mengumumkan bahwa kapal tersebut masih berbendera Italia dan menyandang nama ITS Garibaldi. Namun, sesaat setelah memasuki perairan kedaulatan Indonesia, identitasnya akan “disunat” secara simbolis menjadi KRI Gajah Mada.

“Malam ini jam 22.00, KRI Gajah Mada akan meninggalkan Italia. Namanya masih ITS Garibaldi. Tapi sesampainya di Indonesia nanti, ia akan lahir kembali sebagai KRI Gajah Mada. Mohon doanya, semoga selamat dalam perjalanan,” ujar Kasal.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyerahkan cenderamata kepada Ketua Kraton Majapahit Jakarta , AM Hendropriyono Foto Kilat. com
Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyerahkan cenderamata kepada Ketua Kraton Majapahit Jakarta , AM Hendropriyono Foto Kilat. com

Pelayaran yang diperkirakan memakan waktu hampir tiga minggu ini diproyeksikan tiba di perairan Indonesia pada pertengahan September 2026. Ini bukan sekadar perjalanan fisik melintasi benua, melainkan napak tilas membawa pulang roh kejayaan maritim yang pernah membuat Nusantara disegani dunia.

Momen paling bersejarah akan terjadi pada akhir September 2026. Laksamana Ali mengonfirmasi bahwa Presiden Republik Indonesia dijadwalkan hadir langsung di atas geladak kapal induk tersebut untuk memimpin prosesi pergantian bendera dan nama.

“Rencana Bapak Presiden Prabowo akan hadir di onboard kapal induk Gajah Mada. Kapal itu nanti akan memiliki semangat yang luar biasa untuk menyatukan Nusantara,” tegas Kasal Ali.

Pernyataan ini sontak membangkitkan memori kolektif bangsa akan keperkasaan Mahapatih Gajah Mada yang mengucapkan Sumpah Palapa untuk mempersatukan Nusantara.

Bedanya, jika dulu Gajah Mada menggunakan kapal kayu dan armada layar, kini Indonesia menggunakan kapal induk lintas matra yang mampu menjadi pangkalan bergerak bagi helikopter TNI Angkatan Darat dan TNI Angkatan Udara.

Pemilihan lokasi pengumuman di Kraton Majapahit bukanlah kebetulan. Ini adalah pesan tegas dari Kasal Muhammad Ali bahwa pertahanan negara tidak bisa dipisahkan dari akar sejarah.

Dalam sambutannya, Kasal Muhammad Ali menekankan bahwa replika Kraton Majapahit yang dibangun oleh Jenderal TNI (Purn) A.M. Hendropriyono adalah “kelas belajar” terbaik bagi generasi muda. Di tempat seluas 5.500 meter persegi ini, nilai-nilai Sumpah Palapa dirawat agar tidak lapuk dimakan zaman.

“Kita harus memberikan pemahaman kepada generasi muda bahwa dulu Mahapatih Gajah Mada bersumpah melalui Sumpah Palapa. Nilai-nilai ini harus terus kita gaungkan agar generasi muda memiliki rasa tanggung jawab menjaga NKRI,” tegas Laksamana Ali.

Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyerahkan cenderamata kepada Ketua Kraton Majapahit Jakarta , AM Hendropriyono (Kilat.com)
Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyerahkan cenderamata kepada Ketua Kraton Majapahit Jakarta , AM Hendropriyono (Kilat.com)

Laut Bukan Pemisah, Melainkan Perekat Bangsa

Dalam sambutannya yang menggetarkan, Kasal Muhammad Ali menyampaikan filosofi mendalam tentang jati diri bangsa Indonesia. Ia menolak narasi bahwa laut adalah jurang pemisah antar-pulau.

“Sebagai bangsa maritim, kita punya tanggung jawab besar. Laut bukanlah pemisah, melainkan perekat persatuan. Menjaga kedaulatan laut sesungguhnya berarti menjaga sejarah, budaya, dan masa depan Indonesia,” ujar Ali lantang.

Pernyataan ini menjadi fondasi doktrin TNI AL ke depan. Kehadiran KRI Gajah Mada bukan hanya untuk pamer kekuatan militer, melainkan untuk memastikan bahwa jalur perdagangan, diplomasi, dan kedaulatan di laut tetap berada dalam genggaman Indonesia.

Jenderal TNI (Purn) A.M. Hendropriyono, sang inisiator Kraton Majapahit, mengungkapkan fakta mengejutkan di balik kunjungan tersebut. Kesadaran sejarah generasi muda sedang mengalami tren kenaikan signifikan.

“Hari ini saja saya menerima permintaan dari 13 sekolah rakyat di seluruh Jawa yang ingin berkunjung ke sini. Ini bukti anak-anak kita lapar akan teladan sejarah,” ungkap Hendropriyono.

Kraton Majapahit yang menampilkan replika Air Terjun Madakaripura Probolinggo, tempat pertapaan terakhir Gajah Mada, kini menjadi destinasi wajib bagi para pelajar. Mulai dari PAUD hingga perguruan tinggi, mereka datang untuk menyaksikan visualisasi kejayaan Nusantara.

Momen sakral tersebut turut dihadiri oleh tokoh-tokoh kunci pertahanan negara. Mantan Panglima TNI yang juga mantan Kasal, Laksamana TNI (Purn) Yudo Margono, mantan Menteri Pertahanan Agum Gumelar, hingga Dirut ANTARA Benny Siga Butarbutar hadir memberikan restu.

Kehadiran mereka menjadi simbol estafet kepemimpinan yang solid. Dari generasi pembangun Kraton hingga generasi pembawa kapal induk, semuanya bermuara pada satu tujuan: Kejayaan Indonesia di Laut.

Penantian 78 Tahun yang Terjawab

Publik Indonesia kini menanti dengan dada berdebar. Perjalanan KRI Gajah Mada melintasi Laut Merah dan Samudra Hindia akan menjadi tontonan strategis dunia. Kapal ini dijadwalkan tiba di Indonesia tepat pada pertengahan September, sebelum akhirnya diresmikan secara kenegaraan.

Dengan hadirnya KRI Gajah Mada, Indonesia menegaskan bahwa mimpi Gajah Mada tidak pernah padam. Ia hanya menunggu waktu untuk kembali berlayar, membawa panji-panji Merah Putih, dan berteriak lantang di tengah samudra: “Nusantara adalah Satu”

Jalesveva Jayamahe 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *