3 Makna Persatuan Menurut Delli A. Singgih: Kekuatan, Keadilan Sosial, dan Cermin Akhlak Pancasila

Setya Kita Pancasila
Setya Kita Pancasila

JAKARTA– Ketua Dewan Penasehat Setya Kita Pancasila, Delli A. Singgih, menegaskan bahwa persatuan bukan sekadar slogan, melainkan nafas dan pondasi utama dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia. Pernyataan ini disampaikan bertepatan dengan momentum peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 12 Rabi’ul Awal 1448 H, sebagai pengingat untuk meneladani akhlak Rasulullah dalam menjaga ukhuwah dan persatuan umat.

Dalam pernyataan resminya, Delli A. Singgih mengingatkan bahwa di tengah dinamika zaman dan derasnya arus informasi, nilai persatuan harus terus dijaga, dirawat, dan diamalkan dalam setiap sendi kehidupan berbangsa.

“Persatuan adalah rumah besar kita. Di dalamnya ada keberagaman suku, agama, ras, dan golongan. Kalau rumah ini retak, maka semua yang ada di dalamnya akan runtuh,” tegas Delli A. Singgih.

Dalam pernyataannya, Delli A. Singgih memaparkan tiga makna utama persatuan yang harus dipahami oleh seluruh elemen bangsa:

1. Persatuan Adalah Kekuatan

Menurutnya, bangsa yang bersatu tidak akan mudah dipecah belah oleh isu adu domba. Persatuan menjadi tameng dari segala bentuk perpecahan dan radikalisme.

2. Persatuan Adalah Jalan Mewujudkan Keadilan Sosial

Dengan bersatu, sumber daya bangsa bisa dikelola bersama untuk kesejahteraan seluruh rakyat. Inilah semangat sila ke-5 Pancasila: Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

3. Persatuan Adalah Cermin Akhlak Pancasila

“Menjaga persatuan artinya kita menghargai perbedaan. Saling tolong, saling hormat. Itu adalah cerminan sila ke-2 dan ke-3 Pancasila,” ujarnya.

Delli A. Singgih mengajak seluruh kader dan simpatisan Setya Kita Pancasila untuk menjadi “perekat bangsa” di lingkungan masing-masing.

“Jangan jadi pemecah. Jadilah penengah. Jangan menyebarkan kebencian. Tebarlah kasih. Karena Setya Kita Pancasila lahir untuk mengawal persatuan, sampai titik darah penghabisan,” pungkasnya.

Di momentum Maulid Nabi ini, beliau juga mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk meneladani akhlak Rasulullah: jujur, adil, toleran, dan cinta kasih. Karena dari sanalah lahir persatuan yang kokoh.

Pernyataan ini menjadi pengingat penting bahwa di usia Indonesia yang terus bertumbuh, menjaga persatuan adalah tugas kita bersama. Selamat Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H

“Teladani Akhlak Rasulullah, Kuatkan Persatuan, Amalkan Pancasila”

(Bro/rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *