Ny. Fera Muhammad Ali Pimpin Parade Surya Senja, Simbol Regenerasi dan Kehangatan Keluarga Besar TNI AL

Ibu Taruna AAL Ny. Fera Muhammad Ali pimpin Parade Surya Senja 2026 di Surabaya. Serah terima genderang suling jadi simbol estafet kepemimpinan Taruna, dihadiri Kasal Laksamana Muhammad Ali.
Ibu Taruna AAL Ny. Fera Muhammad Ali pimpin Parade Surya Senja 2026 di Surabaya. Serah terima genderang suling jadi simbol estafet kepemimpinan Taruna, dihadiri Kasal Laksamana Muhammad Ali.

SURABAYA — Mentari sore perlahan merunduk di langit Surabaya, mewarnai lapangan Arafuru Kesatrian AAL Bumimoro dengan semburat jingga keemasan.

Di tengah hamparan rumput yang rapi, Rabu (8/7/2026), berlangsung sebuah seremoni yang bukan sekadar rutinitas militer, melainkan perayaan ikatan batin antara TNI Angkatan Laut dan masyarakat: Parade Surya Senja (PSS) 2026.

Yang membuat sore itu terasa berbeda adalah sosok yang memimpin jalannya acara. Dialah Ibu Taruna AAL, Ny. Fera Muhammad Ali. Dengan anggun namun penuh wibawa, ia mengawal setiap prosesi, menjadikan gelaran tahunan ini tak hanya milik para Taruna, tetapi juga milik keluarga, masyarakat, dan masa depan bahari Indonesia.

Parade Surya Senja sendiri merupakan tradisi khas Akademi Angkatan Laut yang digelar menjelang berakhirnya masa pendidikan Taruna Tingkat III Angkatan ke-72.

Lebih dari sekadar unjuk kebolehan, kegiatan ini adalah jembatan emosional yang mempertemukan disiplin militer dengan apresiasi publik. Terbukti, masyarakat umum memadati area Lapangan Arafuru sejak jauh-jauh hari.

Tampak hadir langsung Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali mendampingi sang istri. Di sisi lain, Gubernur AAL Laksamana Muda TNI Sigit Santoso dan Ibu Asuh Taruna AAL Ny. Listi Sigit Santoso turut menyaksikan dengan mata berbinar. Kehadiran para petinggi dan pendamping ini seolah menegaskan bahwa di balik kekuatan armada perang, ada kehangatan keluarga yang menopang.

Puncak acara adalah momen hening penuh makna: prosesi serah terima jabatan Penatarama Genderang Suling Gita Jala Taruna. Tongkat komando musik militer itu berpindah dari Sermatar (P) Muhammad Reza Pahlevi kepada Sertar (P) Ahmad Reyhan Akbar.

Bukan sekadar pergantian personel, inilah simbol estafet kepemimpinan—dari angkatan senior ke junior, dari kakak ke adik, dari generasi ke generasi yang disaksikan langsung oleh Ibu Taruna AAL.

Suasana berubah menjadi panggung ekspresi ketika para Taruna menyuguhkan beragam atraksi memukau. Bela diri militer menunjukkan ketangkasan prajurit masa depan; kolone senapan menggetarkan hati dengan ketepatan setiap gerakan. Tak ketinggalan, kolaborasi tari tradisional dan brass band memadukan kekuatan dan seni, sementara Genderang Suling Gita Jala Taruna membahana mengiringi langkah-langkah tegap.

Di sisi lapangan, deretan tenda bazar UMKM menjadi bukti nyata bahwa Parade Surya Senja bukanlah menara gading. Warga sekitar dan pelaku usaha lokal mendapat panggung untuk unjuk produk, menciptakan jembatan ekonomi langsung antara TNI AL dan rakyat.

Laksamana TNI Muhammad Ali, melalui keterangan resmi Dispenal, menekankan bahwa kegiatan ini sejalan dengan visi besarnya: membangun prajurit Jalasena yang profesional, berkarakter, dan membanggakan.

Namun lebih dari itu, katanya, acara ini adalah perekat kemanunggalan TNI Angkatan Laut dengan masyarakat edukatif, inspiratif, dan menanamkan kecintaan mendalam pada dunia maritim.

Sore itu, di bawah pimpinan Ibu Taruna AAL Ny. Fera Muhammad Ali, Parade Surya Senja menjelma bukan hanya seremoni penutupan pendidikan. Ia adalah cerita tentang warisan, tentang tangan-tangan lembut yang menopang tegarnya bahu-bahu prajurit, dan tentang janji abadi untuk terus merapatkan barisan bersama rakyat.

(Ger/pen)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *