Islam: Agama yang Paling Disalahpahami

imam Shamsi Ali Presiden Nusantara Foundation dan Pembina Gurindam.id
imam Shamsi Ali Presiden Nusantara Foundation dan Pembina Gurindam.id

Oleh: Shamsi Ali Al-Nuyorki

GURINDAM.ID – Tak dapat disangkal bahwa Islam adalah agama yang paling disalahpahami oleh banyak orang. Ironisnya, hal ini terjadi di tengah perkembangannya yang terus meningkat dan tak terbendung, serta di era kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi.

Ada banyak faktor yang menyebabkan kesalahpahaman ini. Salah satunya adalah kesengajaan pihak-pihak yang tidak menyukai, bahkan takut terhadap perkembangan Islam. Dengan segala fasilitas yang mereka miliki, termasuk media, mereka membangun narasi tentang Islam secara buruk, berbahaya, dan penuh permusuhan.

Beberapa Karakteristik Utama Islam

Membicarakan Islam ibarat menimba air laut: begitu dalam, luas, dan tidak akan pernah selesai dibahas oleh siapa pun, kapan pun. Karena itu, tulisan ini hanya sebagai pancingan agar pembaca terdorong mencari dan menggali lebih jauh tentang agama ini. Tidak seorang pun, seahli apa pun, akan mampu memahami seluruh aspek agama ini secara tuntas.

Pada catatan kali ini, saya hanya menyampaikan beberapa karakter utama Islam yang kiranya dapat menjadi pintu masuk untuk menggali lebih dalam.

1. Islam adalah Agama Rabbani

Kata “Rabbani” memiliki beragam makna. Namun ada dua hal yang ingin saya garis bawahi:

Pertama, Islam adalah agama yang diturunkan Allah sebagai pedoman hidup bagi manusia. Islam bukan agama ciptaan atau inovasi manusia. Nabi Muhammad hanya menerima wahyu dan menyampaikannya. Beliau tidak berposisi sebagai inovator agama.

Kedua, karena bukan ciptaan manusia, Islam bersifat permanen dan otentik. Dasar-dasar Islam—baik akidah, ibadah, maupun moralitas—bersifat tetap dan tidak mengalami perubahan seiring perjalanan waktu dan perubahan keadaan.

2. Islam sebagai Petunjuk Hidup yang Sempurna dan Menyeluruh

Islam adalah petunjuk hidup yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam menolak pembagian hidup ke dalam “ruang-ruang” yang terpisah. Tidak ada bagian khusus “untuk Tuhan” dan bagian lain “terserah manusia”.

Selain lengkap, Islam juga merupakan satu kesatuan ajaran yang saling terkait. Akidah berdampak pada ibadah dan muamalah. Ibadah tidak terpisah dari kehidupan sosial. Islam mengatur perilaku di masjid, sekaligus mengatur perilaku di pasar.

3. Islam adalah Agama yang Sangat Rasional

Meskipun rasionalitas manusia terbatas untuk memahami seluruh detail ajarannya, Islam bersifat sangat rasional. Mulai dari ajaran teologi tentang Ketuhanan yang jelas dan tegas, ibadah yang terpandu dengan dasar wahyu—bukan inovasi manusia—hingga muamalah yang memiliki petunjuk jelas.

Wajar jika kata kedua terbanyak dalam Al-Qur’an setelah “Allah” dan sifat-sifat-Nya adalah kata-kata yang berkaitan dengan “akal dan pemikiran”. Karena itu, ilmu dan pemahaman (al-fiqh) menjadi jalan kemuliaan (Allah mengangkat derajat orang berilmu) dan jalan kebaikan (siapa yang dikehendaki Allah kebaikan akan diberi pemahaman agama).

Karen Armstrong, seorang ahli agama-agama, pernah berkata: “Agama yang paling rasional adalah Islam.” Beliau lalu menambahkan: “Meskipun masih banyak umat Islam yang kurang rasional.”

4. Islam adalah Agama yang Praktis dan Mudah

Islam bukan sekadar perasaan batin atau emosi. Islam adalah keyakinan yang tertanam dalam hati dan berdampak pada cara pandang serta perilaku manusia. Karena itu, Islam bersifat praktis dalam petunjuknya, bahkan pada setiap rincian kehidupan. Seorang Muslim akan dipandu Islam selama 24 jam, sejak bangun tidur hingga kembali tidur.

Karakter praktis Islam juga diwujudkan dalam kemudahan dan fleksibilitas. Islam bukan agama yang sulit dan kaku. Semua amalan Islam mudah dan memiliki “muru’ah” atau penyesuaian-penyesuaian tanpa melanggar prinsip dasar. Bahkan ketika menghadapi kesulitan, Islam mencari jalan keluar yang paling mudah tanpa melanggar prinsip-prinsipnya.

5. Islam Menjaga Keseimbangan dan Moderasi

Islam menekankan setiap aspek kehidupan tanpa mengorbankan aspek lain. Islam hadir untuk memenuhi seluruh aspek kehidupan secara lengkap dan seimbang. Penekanan pada kehidupan akhirat, misalnya, tidak menjadi alasan untuk meninggalkan kehidupan dunia.

Kata “seimbang” ini berimplikasi pada karakter Islam yang moderat. Hilangnya keseimbangan membuka pintu ekstremisme di satu sisi dan kelalaian di sisi lain. Komitmen pada Islam tidak mengurangi nilai kebaikan sosial kepada siapa pun, termasuk kepada mereka yang berbeda keyakinan. Maka Islam hadir dengan ajaran toleransi tinggi.

6. Islam adalah Agama yang Sarat Nilai Spiritual

Islam sering dipersepsikan sebagai agama yang sarat hukum dan minim spiritualitas. Akibatnya, Islam dituduh sebagai agama yang “less compassionate” atau kurang kasih sayang. Islam dituduh agama yang sarat kekerasan.

Padahal, Islam paling identik dengan nilai-nilai spiritual. Segala sesuatu dalam Islam terkait dengan nilai ruhiyah. Bukankah sholat yang esensinya zikir dan amalan batin dilakukan lima kali sehari semalam sebagai kewajiban? Belum lagi sholat-sholat sunah: Dhuha, hingga Tahajud dan Witir, semuanya pada hakikatnya amalan ruhiyah.

Bahkan amalan yang dikategorikan “duniawi” pun tidak lepas dari nilai ruhiyah. Makan dan minum meminta keberkahan, tidur dengan menyebut nama-Nya: “bismika Allahumma ahya wa amut”, bahkan pernikahan, semuanya dikaitkan dengan keberkahan yang esensinya bersifat spiritual.

7. Islam Memiliki Karakter Universal.

Universalitas Islam mencakup minimal tiga hal utama:

Pertama, ajarannya universal. Konsep teologisnya tidak dibatasi hal-hal sempit seperti ras, kelas sosial, dan lain-lain. Allah adalah Tuhan seluruh alam (Rabb al-‘alamin, Rabb an-nas).

Kedua, nilai dan moralitasnya universal. Apa yang baik atau buruk di Timur, pasti baik atau buruk pula di Barat. Menjaga keutuhan keluarga adalah baik di mana pun. Karena itu, hubungan di luar nikah ditolak Islam, baik di Timur maupun di Barat.

Ketiga, karena Islam bersifat universal, umat Islam menjadi umat yang berkarakter universal. Semua manusia dari latar belakang apa pun menjadi bagian umat ini dan memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi “terbaik” dan termulia di sisi Allah.

Umat ini satu dengan segala keragaman yang ada, namun sejajar dalam kesempatan meraih kemuliaan. Hanya satu kriteria yang menentukan siapa paling mulia di sisi Allah: ketakwaan. Kriteria itu hanya ditentukan oleh “hati” (iman) dan “karakter” (amal dan perilaku).

Demikian beberapa karakter dasar Islam yang perlu diketahui. Semoga catatan ringan ini menjadi jalan bagi mereka yang ingin tahu dan sadar. Islam adalah agama dan jalan hidup untuk semua manusia. Islam adalah jalan menuju kesuksesan, di dunia dan akhirat.

New York, 12 Juni 2026

(Ringkasan khutbah Jumat di Kota New York, 12 Juni 2026).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *