SINGKAWANG – Pangkalan TNI Angkatan Laut (Posal) Bengkayang berkolaborasi dengan Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Sedau/Singkawang sukses menggagalkan praktik perikanan destruktif di perairan Kalimantan Barat. Satu unit kapal penangkap ikan kedapatan menggunakan bom ikan dan racun saat bongkar muatan di Dermaga Perikanan Sedau, Singkawang Selatan.
Pengamanan ini bermula dari laporan masyarakat nelayan yang resah dengan maraknya aktivitas penangkapan ikan tidak ramah lingkungan. Tim gabungan segera melakukan pemantauan intensif sebelum akhirnya mengamankan kapal tersebut pada Rabu (6/5).
Dalam pemeriksaan awal, nahkoda kapal mengakui bahwa aksi ilegal dilakukan di sekitar perairan Pulau Serasan dan Pulau Maredam kawasan yang dikenal kaya akan terumbu karang.
“Kami menemukan bukti kuat penggunaan bahan peledak dan zat kimia berbahaya. Modus ini tidak hanya ilegal, tetapi juga memusnahkan habitat ikan secara permanen,” ujar Komandan Posal Bengkayang dalam keterangan resminya, Rabu (6/5). Seluruh Anak Buah Kapal (ABK) beserta muatan kapal langsung digelandang ke Dermaga Satrol Koarmada/Kodaeral XII untuk proses hukum lanjutan.
Ancaman Hukum dan Dampak Ekologis
Tindakan kapal tersebut melanggar Pasal 84 Ayat (1) Undang-Undang Perikanan Nomor 31 Tahun 2004 tentang larangan penggunaan bahan peledak dan kimia. Pelaku terancam pidana penjara serta denda berat mengingat dampaknya yang merusak ekosistem laut jangka panjang.
Destructive fishing seperti bom ikan tidak hanya membunuh ikan target, tetapi juga menghancurkan terumbu karang sebagai rumah biota laut. “Praktik ini adalah kejahatan lingkungan serius. Kami tidak akan berkompromi,” tegas pihak TNI AL.
Aksi cepat ini menegaskan arahan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali untuk memperkuat pengawasan di seluruh wilayah perairan Indonesia. Sinergi dengan komunitas nelayan seperti HNSI menjadi kunci keberhasilan deteksi dini.
“Penangkapan ini adalah pesan keras bagi para pelaku bom ikan: perairan Kalimantan Barat tidak bebas dari patroli. Keamanan laut dan keberlanjutan sumber daya ikan adalah prioritas kami,” tutup pernyataan resmi Dinas Penerangan Angkatan Laut.














