SEMARANG – Kamis pagi (7/5/2026) di Gedung Mandalika, Markas Komando Pangkalan TNI AL (Mako Lanal) Semarang, tak terdengar aba-aba tempur, namun semangat membela kedaulatan negara tetap membara. Kali ini, medan juangnya bukan perairan, melainkan edukasi ekonomi dan literasi keuangan.
Komandan Pangkalan TNI AL (Danlanal) Semarang, Kolonel Marinir Sabprowanto, S.H., M.Sc., memimpin langsung ratusan prajuritnya untuk menjadi pelopor cinta, bangga, dan paham Rupiah.
Mengenakan seragam kebanggaannya, Kolonel Sabprowanto membuka kegiatan bertajuk “Edukasi Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) Rupiah serta Penggunaan QRIS”. Ini adalah buah sinergi erat antara Lanal Semarang dan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah.
Suasana di dalam gedung terlihat berbeda; para prajurit, PNS, dan anggota Jalasenastri sekitar puluhan orang duduk antusias layaknya mahasiswa yang haus ilmu.
Hadir mendampingi, Asisten Direktur Bank Indonesia Jawa Tengah, Anang Dwi MA beserta jajaran yang siap berbagi wawasan. Tampak pula Pgs. Palaksa Lanal Semarang, para Pejabat Utama, serta Ketua Cabang 4 Daerah Kodaeral V Gabungan Jalasenastri Koarmada RI, Ny. Ella Sabprowanto, yang kompak hadir bersama para pengurus dan anggota, menambah semarak kebersamaan di Mako Lanal.
Mata Uang Adalah Simbol Kedaulatan
Dalam sambutannya, Kolonel Sabprowanto menyulut semangat cinta Tanah Air dengan cara yang elegan. Suaranya lantang namun penuh keayahan saat menyampaikan bahwa Rupiah bukan sekadar alat tukar.
“Kegiatan ini adalah momen penting bagi kita semua untuk menambah pengetahuan, sehingga menumbuhkan rasa cinta dan bangga terhadap Rupiah sebagai mata uang negara. Harapannya, kita bisa menjadi pelopor bagi masyarakat sekitar dalam mendukung terwujudnya rasa cinta terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui eksistensi simbol uang Rupiah,” tegas Danlanal, disambut anggukan semangat dari para peserta.
Sesi inti pun bergulir. Bukan ceramah kaku, melainkan dialog interaktif. Tim dari BI Jateng membongkar rahasia keaslian Rupiah, mengajarkan teknik 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang) dengan cara yang mudah dicerna.
Suasana semakin hidup saat materi bergeser ke sistem pembayaran digital, khususnya QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard).
Para prajurit muda dan anggota Jalasenastri terlihat serius mencatat, sebagian mengacungkan tangan untuk bertanya tentang keamanan transaksi non-tunai.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) turut ambil bagian, memperkaya sesi dengan pemaparan tentang pentingnya inklusi keuangan dan cara mengelola dana yang sehat. Antusiasme itu bukan basa-basi; tawa kecil dan diskusi serius mewarnai sesi tanya-jawab, menandakan materi benar-benar menyentuh kebutuhan mereka.
Kolonel Marinir Sabprowanto tampak puas melihat prajuritnya aktif berdiskusi. Kegiatan ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan misi strategis untuk menciptakan agen perubahan.
Lanal Semarang ingin para personelnya tidak hanya siap tempur di laut, tetapi juga tangguh secara ekonomi dan mampu mengedukasi keluarga serta lingkungan sekitar.
Melalui kegiatan ini, Lanal Semarang membuktikan bahwa menjaga kedaulatan NKRI bisa dimulai dari hal sederhana, menghargai Rupiah di dompet sendiri, bertransaksi secara modern dan aman, serta bijak mengatur keuangan keluarga.
Sebuah langkah kecil dari markas di pesisir utara Jawa ini, yang diharapkan menjadi riak besar literasi keuangan bagi masyarakat luas.
(Gas/pen)














