GURINDAM.ID – Estafet kepemimpinan nasional telah beralih. Dari tangan Presiden Joko Widodo, komando tertinggi TNI kini berada di bawah kendali Presiden Prabowo Subianto.
Namun, di tengah transisi strategis tersebut, TNI Angkatan Laut (AL) tetap kokoh dalam genggaman seorang patriot sejati: Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, S.E., M.M., M.Tr.Opsla.
Dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 28 Desember 2022, Laksamana Ali kini mendapat kepercayaan penuh dari Presiden Prabowo untuk melanjutkan estafet modernisasi alutsista dan penguatan kedaulatan maritim sebagai bagian dari visi besar menuju Indonesia Emas 2045.
Di tengah pusaran dinamika geopolitik kawasan dan semakin kompleksnya ancaman maritim, sosok pemimpin visioner di jajaran TNI AL menjadi kebutuhan mutlak.
Kepemimpinan itu kini hadir dan terus terasah dalam diri Laksamana Ali. Di bawah arahan Presiden Prabowo Subianto, yang sejak awal menekankan pentingnya pertahanan negara yang mandiri dan kuat, sang Kasal menjelma menjadi arsitek utama modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL.
TNI AL tidak hanya bertransformasi menjadi kekuatan yang modern dan berdaya gentar tinggi, tetapi juga kian kokoh dalam mengawal setiap jengkal laut Nusantara, dari pulau terluar hingga jantung poros maritim dunia.
Presiden Prabowo Subianto, dalam berbagai kesempatan, menegaskan bahwa pemerintahan baru akan melanjutkan dan memperkuat program strategis yang telah dirintis pendahulunya.
Sikap ini membawa angin segar bagi TNI AL. Program-program ambisius yang telah disusun Laksamana Ali sejak era Presiden Jokowi kini menemukan momentum akselerasi. Sinergi pemerintah baru dengan visi Kasal menciptakan landasan kokoh bagi terwujudnya postur armada yang ideal, tangguh, dan disegani di kawasan.

Perjalanan Karier Sang Patriot Bangsa: Dari AAL Hingga Jenderal Bintang Empat
Lahir di Bandung pada 9 April 1967, Laksamana Muhammad Ali adalah perwira tinggi TNI AL lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) Angkatan 35 tahun 1989. Sejak awal kariernya, ia telah menunjukkan kualitas kepemimpinan yang tangguh dan loyalitas tanpa henti, dimulai dari penugasan perdananya sebagai Perwira Departemen Operasi di KRI Sigalu-857 pada 1990, hingga mengabdi sebagai Perwira Terpedo di KRI Pasopati serta Asisten Perwira Divisi Ekasen di KRI Nanggala-401.
Karier militernya terus menanjak seiring dengan penempatan di berbagai posisi strategis. Ia pernah dipercaya sebagai Komandan KRI Nanggala, sebuah kapal selam legendaris, serta menjadi Ajudan Wakil Presiden RI ke-11 Boediono pada 2012-2014.
Jabatan-jabatan penting seperti Kepala Staf Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Wilayah Barat, Gubernur Akademi Angkatan Laut (AAL), Panglima Komando Armada (Pangkoarmada) I, dan Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) I turut melengkapi rekam jejaknya.
Pengalaman internasionalnya juga tak kalah mentereng. Laksamana Ali pernah menempuh pendidikan International Principal Warfare Officer (PWO) di Inggris pada 1998 dan International Submarine Warfare pada 1999.
Kombinasi pengalaman operasional, kepemimpinan strategis, dan pendidikan militer global ini menjadikannya sosok yang paling tepat untuk memimpin TNI AL di era yang penuh tantangan—dan kini, di bawah Panglima Tertinggi yang baru, ia tetap menjadi pilihan tak tergantikan.

Visi dan Prioritas: Menjawab Panggilan Kedaulatan di Bawah Komando Baru
Pelantikan Laksamana Muhammad Ali sebagai Kasal ke-28 tidak terlepas dari pesan tegas Presiden Joko Widodo saat itu.
“Konsentrasi utama dari KSAL yang baru adalah untuk meningkatkan kedaulatan negara di laut, terutama yang berkaitan dengan perbatasan dan pulau-pulau terdepan,” demikian arahan Presiden Jokowi yang langsung dijawab dengan komitmen tinggi. Kini, di era Presiden Prabowo Subianto, amanat tersebut semakin relevan dan diselaraskan dengan kebijakan pertahanan nasional yang menekankan pengamanan teritorial dan kemandirian strategis.
Presiden Prabowo, yang juga memiliki latar belakang militer kuat, memberikan porsi perhatian besar pada pengembangan postur TNI AL. “Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, kami menerima arahan yang sangat jelas untuk terus memperkuat armada dan mengamankan setiap jengkal perairan Indonesia. Ini adalah kelanjutan sekaligus penguatan dari visi sebelumnya,” ujar Laksamana Ali dalam sebuah kesempatan.
Visi ini ia tuangkan ke dalam strategi nyata. Pengamanan terhadap pulau-pulau terluar, terutama di kawasan strategis seperti Laut Natuna Utara, menjadi fokus utama.
Setiap pulau terdepan adalah benteng kedaulatan yang harus dijaga secara permanen. Oleh karena itu, TNI AL di bawah kendalinya terus memperkuat gelar pasukan pengamanan perbatasan (Pamtas) laut, termasuk meningkatkan personel dan memodernisasi infrastruktur di pos-pos pengamanan.
Arahan Presiden Prabowo untuk memperkuat kehadiran negara di pulau-pulau terluar menjadi bahan bakar semangat baru bagi para prajurit Jalasena.
Modernisasi alutsista bukan sekadar jargon, melainkan napas perjuangan TNI AL di era kepemimpinan Laksamana Muhammad Ali, yang kini kian deras berkat dukungan politik anggaran dari pemerintahan Presiden Prabowo. Ia meyakini bahwa kedaulatan hanya bisa ditegakkan dengan kekuatan tempur yang modern, mandiri, dan adaptif terhadap ancaman masa depan.
Salah satu tonggak utama modernisasi ini adalah pembangunan kapal perang di dalam negeri. Pada September 2024, Laksamana Ali memimpin langsung upacara shipnaming dan launching dua kapal perang jenis Offshore Patrol Vessel (OPV) 90 meter buatan PT. Daya Radar Utama di Lampung.
Dua kapal yang diberi nama KRI Raja Haji Fisabilillah-391 dan KRI Lukas Rumkorem-392 ini dilengkapi meriam 76 mm, rudal permukaan, dan sistem tempur canggih, menandai kebangkitan galangan kapal nasional dalam memproduksi kapal perang modern.
Kebijakan ini sangat sejalan dengan instruksi Presiden Prabowo yang menginginkan penguatan industri pertahanan dalam negeri sebagai tulang punggung kekuatan TNI.
“Ini adalah bukti nyata komitmen TNI AL dalam menjaga kedaulatan dan keamanan wilayah perairan Indonesia. Program ini sejalan dengan rencana strategis jangka panjang untuk mewujudkan TNI AL yang modern dan berdaya gentar di kawasan, sebagaimana menjadi fokus pemerintahan saat ini,” tegas Laksamana Ali.
Namun, ambisi modernisasi Laksamana Ali tidak berhenti di situ. Pada Juli 2025, ia memimpin peresmian KRI Brawijaya-320, sebuah fregat canggih jenis PPA produksi Fincantieri, langsung di galangan kapal di Muggiano, Italia.
Kapal perang dengan panjang 143 meter dan kecepatan maksimal 32 knot ini memiliki kemampuan Anti Air Warfare (AAW) serta sistem tempur terintegrasi canggih. Kehadirannya merupakan lompatan besar dalam memperkuat pertahanan maritim Indonesia. “Kapal ini sangat tepat dimiliki oleh Indonesia yang memiliki wilayah laut yang sangat luas,” ujar Kasal.
Tak hanya di permukaan, kedalaman laut pun menjadi perhatian serius. Di bawah arahan Laksamana Ali, dan dengan dukungan penuh Presiden Prabowo, TNI AL secara resmi mengamankan kontrak pengadaan dua kapal selam Scorpene Evolved dari Naval Group, Prancis, yang telah efektif per 23 Juli 2025.
Kapal selam canggih ini, yang dibangun dengan skema kerja sama transfer teknologi bersama PT PAL Indonesia, akan menjadi tulang punggung armada bawah laut Indonesia dengan kemampuan menyelam hingga 300 meter dan beroperasi hingga 80 hari.
“Pemerintahan Presiden Prabowo sangat mendukung program strategis ini. Transfer teknologi menjadi kunci agar kita tidak hanya membeli, tapi juga mampu membangun sendiri,” ungkap Laksamana Ali, menunjukkan kesiapan matang pengawak alutsista kelas dunia ini.
Seluruh upaya modernisasi ini telah mengantarkan kekuatan armada TNI AL mencapai 165 kapal perang (KRI) per akhir 2024, dengan target penambahan kapal baru terus berlanjut di bawah komando baru.
Keberhasilan modernisasi alutsista berjalan seiring dengan pengamanan pulau-pulau terluar yang menjadi garda terdepan kedaulatan NKRI. Laksamana Ali memahami bahwa pulau terluar bukan hanya titik koordinat di peta, melainkan simbol harga diri bangsa yang harus dijaga. Presiden Prabowo, dengan pengalamannya di bidang pertahanan, menaruh atensi khusus pada pengamanan wilayah perbatasan sebagai langkah preventif terhadap infiltrasi asing.
Salah satu contoh nyata adalah pengamanan di kawasan Laut Natuna Utara, yang kerap menjadi sumber ketegangan. Atas arahan langsung Presiden, Laksamana Ali secara agresif meningkatkan patroli dan operasi penegakan hukum di kawasan tersebut.
Kehadiran kapal-kapal patroli baru serta peningkatan frekuensi latihan militer di sekitar Natuna menjadi pesan kuat bahwa Indonesia tidak akan berkompromi terhadap setiap upaya pelanggaran kedaulatan.
Selain itu, Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Kasal menjalin kerja sama dengan Kementerian Kominfo untuk memastikan akses internet bagi personel di pulau terluar guna mendukung kelancaran tugas dan moral prajurit.
“Ini adalah perhatian kita bersama. Wilayah perbatasan adalah garda terdepan masuknya berbagai tindak kejahatan seperti penyelundupan dan pelanggaran batas wilayah NKRI,” ujar Askomlek Kasal Laksamana Muda Tri Harsono, melanjutkan perintah tegas Kasal.

Sebagai pemimpin strategis yang kini didukung penuh oleh Presiden Prabowo Subianto, Laksamana Muhammad Ali memiliki pandangan jauh ke depan. Salah satu rencana ambisius yang tengah dikaji serius adalah akuisisi kapal induk bagi TNI AL.
Rencana akuisisi kapal induk Giuseppe Garibaldi dari Italia adalah wujud visi besar bahwa Indonesia layak memiliki kapal induk yang mampu memproyeksikan kekuatan secara signifikan di masa damai maupun operasi militer. Presiden Prabowo, yang memahami betul pentingnya proyeksi kekuatan maritim, memberikan sinyal dukungan untuk langkah transformatif ini.
“Kapal induk itu bermanfaat bagi operasi militer perang maupun selain perang. Dalam kondisi damai, bisa digunakan untuk membantu masyarakat di pulau-pulau terpencil, mendrop bantuan logistik,” tegas Kasal Ali.
Visi modernisasi ini juga merambah ke ranah teknologi mutakhir. Di Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) Surabaya, Laksamana Ali mendorong percepatan riset dan pengembangan sistem persenjataan tanpa awak seperti Unmanned Aerial Vehicle (UAV), Unmanned Surface Vehicle (USV), dan Unmanned Underwater Vehicle (UUV).
“Sistem swarming adalah solusi taktis yang efektif dan relatif murah. STTAL harus jadi motor penggerak inovasi ini,” katanya. Ini adalah wujud nyata komitmen Kasal dalam memadukan kekuatan konvensional dengan teknologi masa depan, sebuah langkah yang diyakini akan menghemat anggaran jangka panjang dan meningkatkan efektivitas tempur.
Kepemimpinan yang Menginspirasi, Loyalitas Tak Tergoyahkan
Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali bukan hanya pemimpin yang disegani karena ketegasannya, tetapi juga karena kedalaman intelektualnya. Dengan gelar akademik S.E., M.M., M.Tr.Opsla., serta berbagai pendidikan internasional, ia adalah representasi perwira TNI yang modern, profesional, dan berintegritas tinggi.
Dalam setiap amanatnya, ia selalu menekankan pentingnya menjaga integritas dan kerja sama yang baik dengan seluruh instansi terkait demi menjaga kedaulatan wilayah NKRI.
Transisi dari Presiden Jokowi ke Presiden Prabowo tidak menggoyahkan fokusnya. Justru, ia menunjukkan bahwa loyalitas seorang prajurit adalah kepada negara dan bangsa, bukan kepada figur.
“Kita adalah prajurit profesional. Tugas kita jelas: melindungi kedaulatan dan keutuhan NKRI. Siapapun Panglima Tertingginya, tugas itu tetap kita emban dengan sepenuh jiwa dan raga,” tegasnya dalam sebuah amanat di hadapan prajurit.
Laksamana Muhammad Ali mengayomi lebih dari 165 kapal perang, puluhan pangkalan, ratusan pesawat dan kendaraan tempur, serta puluhan ribu prajurit Jalasena Samudra yang siap berkorban jiwa dan raga. Di bawah panji-panji “Jalesveva Jayamahe” di lautan kita jaya, sang Kasal terus melaju, menjembatani dua masa pemerintahan dengan satu tujuan: menjadikan TNI AL sebagai kekuatan maritim yang disegani di kawasan dan dunia.
Penulis: Redaksi Gurindam.id aktif dalam Maritim Nusantara Indonesia Pulau Perbatasan NKRI Mhd Riky Rinovsky













