Dari Diskusi Kandidat Bupati Lingga, Eddy Rasmadi, SE: Jadi Cakada Setidaknya Punya 4 Modal

Mencerdaskan & Memuliakan - Juli 18, 2020
Dari Diskusi Kandidat Bupati Lingga, Eddy Rasmadi, SE: Jadi Cakada Setidaknya Punya 4 Modal
Diskusi ringan Zakaria, bersama Kandidat Bupati Lingga, Eddy Rasmadi, SE, di sebuah caffe di Batam, Jum’at (17/7/2020) - (Gurindam.id)
Editor Zakaria

Kabupaten Lingga masuk arena sebagai salah satu daerah di Indonesia mengikuti pertarungan Pilkada Serentak 9 Desember 2020 mendatang.

Tidak terasa masyarakat Tanah Bunda Melayu itu akan kembali menggelar pesta demokrasi, setelah pada 2019 pemilihan anggota legislatif serta presiden dan wakil presiden berjalan dengan lancar.

Pada tahun ini tepatnya 9 Desember akan kembali diselenggarakan proses pengisian jabatan politik di tingkat daerah secara serentak, baik itu Provinsi Kepulauan Riau maupun 6 kabupaten dan kota yang ada di Kepri.

Sama halnya dengan pemilu-pemilu sebelumnya, gegap gempita Pilkada 2020 sudah mulai terasa, hal tersebut tentu dapat dipengaruhi oleh berbagai hal, seperti peluang koalisi partai politik yang berbeda dengan pilkada sebelumnya maupun peluang munculnya aktor-aktor baru dalam panggung politik di Indonesia.

Layaknya sebuah kontestasi dan kompetisi, masing-masing aktor politik dalam Pilkada 2020 perlu menyusun strategi sedini mungkin, meskipun belum mendapatkan rekomendasi dari partai politik pengusung dan belum secara resmi mendaftarkan diri di KPU provinsi, kabupaten, atau kota.

Namun, tampaknya penyusunan strategi telah dimulai oleh beberapa aktor politik, misalnya Soerya Respationo maju Pilgub Kepri, Apri Sujadi yang akan maju dalam Pilbup Bintan, tak terkecuali, aktor baru Eddy Rasmadi, SE, yang akan maju untuk Pilbup Kabupaten Lingga.

Eddy Rasmadi, SE, Kandidat Bupati Lingga

Mereka terlihat sering blusukan ke tengah-tengah masyarakat untuk menyerap aspirasi serta meninjau permasalahan-permasalahan yang mungkin masih menjadi problem bagi masyarakat. Hal tersebut diabadikan dalam foto-foto yang diunggah di akun medsosnya.

Tentu hal tersebut sah-sah saja untuk dilakukan sebagai bentuk dari strategi, selagi tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan mengenai pelaksanaan kampanye politik itu, sebagai bagian dari fenomena persiapan menuju Pilkada 2020 dapat ditinjau dalam perspektif sosiolog mengenai hakikat field (ranah) dan optimalisasi kapital (modal) dalam kehidupan sosial.

Baca Juga  Dunia Merindukan Muhammad SAW

Sebab, pada dasarnya dalam kehidupan sosial terdapat berbagai macam ranah, salah satunya adalah ranah politik yang dalam hal ini manifetasinya adalah Pilkada Serentak 2020.

Karakteristik umum dari setiap ranah dalam kehidupan sosial adalah sebagai arena pertarungan (arenas of struggle) guna mendapatkan apa yang disebut Bourdieu asal Prancis sebagai social position (posisi sosial).
Berangkat dari karakteristik tersebut, Pilkada 2020 sebagai bagian dari ranah politik tentu juga merupakan arena pertarungan guna mencapai posisi sosial dalam bentuk menjadi kepala daerah, baik di provinsi, kabupaten, kota.

Pertarungan tersebut secara formal akan dimulai ketika KPU telah menetapkan pasangan calon kepala daerah yang akan berkontestasi dan kemudian memulai masa kampanye. Namun, masing-masing aktor politik yang berpotensi maju dalam Pilkada 2020 dapat memulai menyusun strategi serta menyiapkan berbagai macam modal yang akan menunjang mereka ketika pertarungan politik dimulai.

Tentu pertarungan yang akan terjadi adalah pertarungan gagasan dan program-program unggulan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Aspek-aspek destruktif seperti black campaign, money politics, maupun hoax hendaknya tidak ikut berkelindan saat pertarungan berlangsung.

Mungkin saja hal-hal negatif tersebut dapat menunjang pertarungan sehingga posisi sosial dapat lebih mudah tercapai, namun secara sosiologis dapat memecah-belah masyarakat sehingga terjadi konflik, baik vertikal maupun horizontal. Keberadaan konflik destruktif yang masif di tengah-tengah masyarakat dapat mengacaukan keteraturan sosial, sehingga ketenteraman dan harmonisasi kehidupan masyarakat menjadi terganggu.

Setidaknya ada empat modal yang harus dimiliki oleh seorang Calon Kepala Daerah (Cakada) untuk bisa ikut dalam pertarungan Pilkada. Pertama, economy capital (modal ekonomi). Dapat berwujud pendapatan maupun aset keuangan. Kekuatan finansial menjadi unsur yang paling mudah diidentifikasi dalam setiap kontestasi politik.

Baca Juga  Kunjungi 38 Pulau di Lingga, Isdianto: Lingga Masuk Prioritas Kita

Bukan menjadi rahasia lagi bahwa seseorang yang memutuskan untuk berkontestasi dan berkompetisi dalam dunia politik harus memiliki modal ekonomi yang kuat.

Keterlibatan modal ekonomi akan sangat terlihat dalam masa kampanye, di mana para aktor politik akan melakukan berbagai kegiatan seperti menyelenggarakan kampanye terbuka, mendatangi pusat kegiatan masyarakat, maupun blusukan ke tempat-tempat tertentu. Pengadaan alat peraga kampanye serta berbagai macam aksesoris pasangan calon juga ditunjang oleh kuatnya modal ekonomi.

Kedua, cultural capital (modal budaya), dapat berwujud pengetahuan dan keahlian, biasanya dibuktikan dengan tingkat pendidikan individu. Aktor politik yang memiliki tingkat pendidikan tinggi akan dianggap telah menjadi pribadi yang ideal untuk menjadi pemimpin.

Tingginya tingkat pendidikan juga akan berkorelasi dengan sikap serta perilaku aktor politik dalam berinteraksi dengan masyarakat, aktor politik akan menyesuaikan diri dengan kondisi sosiologis masyarakat tempat ia berkampanye.

Modal budaya juga dapat membantu aktor politik dalam menanggapi berbagai macam problem yang muncul di tengah-tengah masyarakat sebagai bagian dari objek program-program unggulan yang telah direncanakan.

Ketiga, social capital (modal sosial). Dapat berwujud relasi-relasi sosial dengan berbagai pihak, baik itu petinggi partai politik, pengusaha, maupun masyarakat biasa. Modal sosial dapat menjadi sebuah kunci guna mendapatkan suara yang maksimal dari masyarakat.

Kemampuan untuk berkomunikasi serta berelasi dengan berbagai pihak dapat menunjang kebutuhan dalam kampanye politik.

Meskipun memiliki modal ekonomi yang tidak begitu kuat, modal sosial dapat menjadi solusi untuk menambal kekurangan tersebut. Relasi-relasi dengan beberapa pengusaha juga dapat dikonversi menjadi modal ekonomi guna menunjang kegiatan kampanye.

Keempat, symbolic capital (modal simbolik). Berkaitan dengan kehormatan, prestise, dan reputasi. Modal ini dapat dimiliki berdasarkan rekam jejak aktor politik, afiliasinya dengan tokoh tertentu, maupun keturunan tokoh tertentu.

Baca Juga  Didukung Koalisi Besar, Pasangan Ical-Johari Menguat

Aspek ketokohan aktor maupun pihak yang berafiliasi merupakan salah bentuk dari modal simbolik yang dapat dikonversi menjadi modal sosial. Konversi tersebut tentu akan menunjang kegiatan kampanye dan berujung pada mudahnya mendapatkan suara dari masyarakat.

Rekam jejak aktor politik pada pengalaman sebelumnya baik itu sebagai pengusaha sukses maupun pejabat daerah berprestasi juga dapat menjadi kekuatan tersendiri dalam modal simbolik.

Jika keempat tipe modal itu dapat dimiliki serta dioptimalisasi penggunaannya, maka aktor politik dapat memenangkan kontestasi politik dan memperoleh posisi sosial yang menjadi kepala daerah, baik provinsi, kabupaten, atau kota.

Namun perlu diingat bahwa pertarungan yang terjadi dalam ranah politik merupakan pertarungan gagasan dan program unggulan, yang nantinya diharapkan dapat menjawab dan menyelesaikan problem-problem yang ada di tengah-tengah masyarakat.

Kembali pada hadirnya aktor baru dalam arena pilkada 2020, seperti Eddy Rasmadi, SE yang maju lewat Kabupaten Lingga, tentu bisa menjadi perhatian dan pertimbangan, kebetulan beliau adalah sahabat saya juga yang memang sebagai putra Tempatan Singkep, soal pengalaman organisasi dan profesi tidak diragukan lagi, selain kader Demokrat dengan posisi Wakil Bendahara DPD Demokrat Provinsi Kepri dia juga aktif di berbagai asosiasi profesi dan investasi serta bergabung beberapa perusahan termasuk pertambangan dan jasa Bongkar muat dan pengalaman di dinas PU 10 tahun.

Widyanto, kader Demokrat, yang juga hadir dalam diskusi itu, berharap Eddy Rasmadi bisa ikut bertarung di lingga, sebagai Calon Bupati maupun Wakil Bupati, karena Lingga membutuhkan seorang figur pengalaman pro investasi agar Tanah Bunda Melayu bisa lebih maju, berbudaya dan modern serta ikut bersaing dengan daerah-daerah lain di Indonesia terutama menghadirkan investasi dan menambah pendapatan daerah Lingga yang merupakan pusat sejarah Kerajaan Riau Lingga di Kepri. (Zakaria)

Tinggalkan Komentar

Close Ads X