JAKARTA– Ekosistem Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) kini memasuki babak baru dengan terbentuknya Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI).
Di bawah komando Abdul Rivai Ras, organisasi ini hadir sebagai wadah resmi non-pemerintah yang dibangun dengan semangat independensi untuk menyatukan langkah para pelaku usaha demi membantu rakyat Indonesia mendapatkan gizi berkualitas.
Pembentukan APPMBGI dinilai sebagai momentum penting dalam memperkuat tata kelola, menjamin keamanan rantai pasok, serta membangun kemitraan strategis guna mendukung keberhasilan program MBG di seluruh Indonesia.
Lebih dari sekadar ajang konsolidasi, asosiasi ini menjadi langkah strategis untuk menyatukan para pengusaha dapur MBG dalam satu visi: menciptakan standar kualitas yang seragam, meningkatkan profesionalisme, serta memastikan distribusi makanan bergizi berjalan optimal ke berbagai pelosok negeri.
Baca selengkapnya:
Sebagai nahkoda organisasi, Ketua Umum APPMBGI, Abdul Rivai Ras, menegaskan bahwa asosiasi ini memainkan peran vital meski tak terikat dalam struktur pemerintahan.
APPMBGI dideklarasikan sebagai lembaga non-profit yang independen, tanpa hubungan struktural dengan Badan Gizi Nasional (BGN). “APPMBGI hadir sebagai organisasi mandiri yang dibangun dari semangat kolektif para pengusaha dapur. Tujuannya untuk memperkuat solidaritas, sekaligus memastikan standar kualitas dapur MBG tetap terjaga,” ujar Abdul Rivai Ras, Senin (27/4).
Prinsip independensi menjadi fondasi utama organisasi ini. Sebagai bentuk komitmen menjaga integritas, Abdul Rivai Ras menekankan bahwa anggota APPMBGI tidak akan menerima fasilitas dari pemerintah, termasuk bantuan kendaraan operasional.
Langkah ini diambil untuk memastikan organisasi bergerak murni berdasarkan kepentingan kolektif anggotanya dan pelayanan kepada masyarakat, bukan karena ketergantungan pada instansi tertentu.
APPMBGI berperan sebagai wadah koordinasi dalam mengatasi berbagai tantangan di lapangan, khususnya yang berkaitan dengan kelancaran rantai pasok bahan pangan.
Selain itu, asosiasi ini juga berfungsi sebagai pusat edukasi, supervisi, serta sosialisasi regulasi kepada para pelaku usaha dapur MBG. Dengan demikian, diharapkan seluruh anggota dapat memenuhi standar dan sertifikasi yang telah ditetapkan, menjamin kualitas dan keamanan pangan yang didistribusikan.
Tak hanya fokus pada aspek teknis di lapangan, di bawah kepemimpinan Abdul Rivai Ras, APPMBGI juga siap mengawal kebijakan nasional terkait program MBG yang merupakan bagian dari visi besar menuju Indonesia Emas 2045.
Meski konstruktif, asosiasi ini tetap membuka ruang bagi kritik terhadap pelaksanaan program sebagai bagian dari upaya perbaikan berkelanjutan.
“Program MBG masih tergolong baru, sehingga perlu terus disempurnakan. Kami siap memberikan masukan demi peningkatan kualitas pelaksanaan di lapangan,” tambahnya.
Untuk menjaga kemandirian gerak, APPMBGI menegaskan tidak menerima pendanaan dari pihak luar. Seluruh operasional organisasi dibiayai secara swadaya melalui kontribusi anggota. Struktur organisasi pun disusun secara kolektif dan demokratis, layaknya asosiasi profesional pada umumnya.
Dengan terbentuknya APPMBGI dan sosok Abdul Rivai Ras di garda terdepan, diharapkan sinergi antar pelaku usaha dapur MBG semakin kokoh.
Langkah kolektif ini menjadi bukti bahwa jalur independen mampu menjadi kekuatan besar untuk membantu rakyat Indonesia, memastikan pemenuhan gizi masyarakat berjalan merata, berkualitas, dan berkelanjutan.
(GRD/RF)













