TANJUNGPINANG– Perkembangan Artificial Intelligence (AI) membuka peluang baru dalam memperkuat pengawasan dan keamanan maritim Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Kepala Staf Komando Armada I (Koarmada I), Laksamana Pertama TNI Dr. Arif Badrudin, M.Mgt.Stud., saat menjadi narasumber pada Kuliah Umum Jurusan Teknik Elektro dan Informatika, Fakultas Teknik dan Teknologi Kemaritiman (FTTK), Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang, Jumat (2/10/2026).

Mengangkat tema “AI AT THE BORDER. Menjaga Laut, Mengamankan Perbatasan: Peran Artificial Intelligence dalam Keamanan Maritim Indonesia, kegiatan ini berlangsung di Ruang Amphitheater Lantai 4, Gedung B Satu Gurindam, Kampus UMRAH Dompak, dan diikuti lebih dari 100 orang peserta yang terdiri dari mahasiswa dan dosen.
Dalam paparannya, Arif menggambarkan kompleksitas laut Indonesia dengan beragam aktivitas, terutama pelayaran.
Ia menyebut sekitar 8.000 kapal setiap harinya melintas di perairan Indonesia. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri karena kemampuan patroli memiliki keterbatasan jangkauan.
Menurut Arif, AI dapat mengambil peran penting dalam mendukung keamanan maritim. Namun, AI tidak dapat bekerja sendiri karena membutuhkan data yang akurat sebagai dasar deteksi dan analisis.
Sejumlah sumber data dapat dimanfaatkan, seperti Automatic Identification System (AIS), radar, citra satelit, sensor pesisir, dan data geospasial.
“AI tidak bekerja sendiri, ia tetap membutuhkan data-data dari kita. Namun, kita tetap perlu teliti agar tidak memberikan data-data khusus atau data rahasia,” ujar Arif.

Ia menekankan pentingnya verifikasi terhadap hasil deteksi AI. Menurutnya, data yang dihasilkan sistem tetap perlu diteliti dan dianalisis karena tidak seluruh informasi yang diterima selalu sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Arif juga menyinggung penyalahgunaan teknologi. Seperti dari ribuan AIS yang ada dan terdeteksi, terdapat data yang dipalsukan atau tidak sesuai dengan posisi kapal sebenarnya.
“Titik AIS-nya di mana, kapalnya di mana. Nah, ini butuh keakuratan data kita kembali dalam melihat masalah ini,” paparnya.
Arif juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi satelit memungkinkan aktivitas kapal tetap terdeteksi meskipun tidak menggunakan AIS.
Ia mencontohkan pemanfaatan teknologi satelit yang mampu mendeteksi cahaya dari kapal untuk mengetahui aktivitas di laut.
Menurutnya, perkembangan tersebut menunjukkan pentingnya integrasi berbagai sumber data dalam pemantauan maritim.
AI dapat membantu mengolah data tersebut untuk mendukung pengambilan keputusan dan meningkatkan kemampuan pengawasan.
Pada kesempatan itu, Arif juga memperkenalkan aplikasi komando pemantauan aktivitas laut yang dibernama MNCC, Pusat komando Jaringan Maritim, yang dikembangkannya bersama rekannya, kepada mahasiswa dan dosen UMRAH.
Melalaui website tersebut, Arif mempragakan dan memperlihatkan padatnya aktivitas kemaritiman Indonesia, khususnya peredaran kapal-kapal laut. Aplikasi ini juga dapat mendeteksi ancaman dan kerawanan wilayah maritim Indonesia.
Kegiatan ini dibuka oleh Dekan FTTK UMRAH, Martaleli Bettiza, S.Si., M.Sc. Dalam sambutannya, Martaleli menyampaikan bahwa Jurusan Teknik Elektro dan Informatika akan difokuskan pada pengembangan bidang Artificial Intelligence dan Cyber Security.
“Jurusan Teknik Elektro dan Informatika memang akan difokuskan untuk program AI dan cyber security,” ujar Martaleli sebelum membuka kegiatan.
Kuliah umum yang dipandu oleh Koordinator Jurusan Teknik Elektro dan Informatika, Feri Irawan, berlangsung pukul 13.30 hingga 15.30 WIB.
Peserta tampak antusias mengikuti paparan Arif dan tanya jawab mengenai perkembangan dan pemanfaatan teknologi AI serta tantangan keamanan maritim Indonesia.
Kegiatan ditutup dengan penyerahan sertifikat dan plakat kepada narasumber serta foto bersama.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memperoleh perspektif baru dan positif mengenai pemanfaatan AI dan teknologi pendukung lainnya dalam menjawab tantangan pengawasan serta keamanan wilayah maritim Indonesia.
(Hms/GRD)














