JAKARTA — Nama Marsekal TNI Yusuf Jauhari, M.Eng. mencuat ke permukaan setelah Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai Wakil Menteri Pertahanan (Wamenhan) Bidang Logistik, Industri Pertahanan, dan Teknologi pada Kamis (15/10/2026).
Di balik jabatan barunya, sosok jenderal bintang tiga TNI Angkatan Udara ini menyimpan rekam jejak panjang yang nyaris seluruh kariernya dihabiskan di jantung pengelolaan pertahanan negara.
Bagi publik, nama Yusuf Jauhari mungkin terdengar asing dibandingkan jenderal-jenderal yang memimpin pasukan tempur. Namun di lingkungan Kementerian Pertahanan (Kemhan), pria kelahiran Semarang, 4 Oktober 1967 ini dikenal sebagai salah satu perwira paling berpengalaman dalam urusan logistik, sarana, dan tata kelola pertahanan.
Karier militer Yusuf dimulai dari Akademi Angkatan Udara (AAU) tahun 1990. Sebagai perwira muda Korps Elektronika, ia meniti karier di satuan radar dan pemeliharaan alutsista, mulai dari Kepala Seksi Teknik Satuan Radar 255 BPP (1998), Komandan Satuan Pemeliharaan 52 Depohar 50 SMO (2004), hingga Komandan Satuan Radar 223 BPP Kosek Hanudnas II (2006).
Pengalaman teknis inilah yang membentuk cara berpikirnya: presisi, terukur, dan berbasis data. Dua gelar akademik menopang karier militernya S-1 dari Universitas Tri Dharma Balikpapan (1996) dan S-2 dari Royal Melbourne Institute of Technology, Australia (2003), salah satu kampus teknik terkemuka di kawasan Asia-Pasifik.
Pada 2012, arah karier Yusuf berbelok ke ranah kebijakan. Ia masuk ke lingkungan Kemhan sebagai Analis Madya Bidang Hubungan Kelembagaan Puskompublik Kemhan, lalu dipercaya memimpin sejumlah posisi strategis: Kepala Bidang Infos dan Pusdatin Kemhan (2014), Kepala Bagian Rumah Tangga Roum Setjen Kemhan (2016), Kepala Pusdatin Kemhan (2017), dan Kepala Biro Umum Setjen Kemhan (2018).
Titik balik karier Yusuf terjadi pada 2020 ketika ia dipercaya memimpin Badan Sarana Pertahanan (Baranahan) Kemhan. Di lembaga inilah ia menangani langsung pengadaan alutsista, sarana pertahanan, dan proyek konstruksi pertahanan nasional.
Ketika Presiden Prabowo menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 85 Tahun 2025 yang mentransformasi Baranahan menjadi Badan Logistik Pertahanan (Baloghan), posisi Yusuf disesuaikan. Ia resmi dilantik sebagai Kabaloghan Kemhan pada September 2025 menjadi pemimpin pertama badan baru yang mengonsolidasikan fungsi logistik pertahanan yang sebelumnya tersebar di berbagai unit.
Badan Logistik Pertahanan memiliki mandat strategis: mengelola pengadaan alutsista, sarana pertahanan, jasa pemeliharaan, hingga barang dan jasa konstruksi pertahanan. Lembaga ini menjadi tulang punggung kesiapan operasional TNI sekaligus motor penguatan industri pertahanan dalam negeri.

Usai dilantik presiden Prabowo dalam kesempatan bersama awak media Yusuf Jauhari mengatakan, pengembangan industri pertahanan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kekuatan militer, tetapi juga mencakup transfer teknologi dan pemanfaatan teknologi pertahanan untuk kepentingan di luar sektor militer.
“Kita mendorong seluruh industri pertahanan untuk berkontribusi dalam memperkuat TNI kita. Dan itu harapannya tidak hanya kekuatan TNI, tapi bagaimana juga ekonomi bergerak,” ujar Yusuf dalam keterangan yang diterima, Kamis (15/10/2026).
Terkait kemandirian logistik alat utama sistem persenjataan (alutsista), Yusuf menyebut diversifikasi sebagai salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu negara pemasok.
Menurutnya, diversifikasi sumber pengadaan memang menambah kompleksitas pengelolaan logistik. Namun, langkah tersebut diperlukan agar kebutuhan pertahanan dapat ditopang oleh berbagai sumber sekaligus meningkatkan peran industri pertahanan dalam negeri.
“Diversifikasi saya kira menjadi suatu opsi buat kita sekarang ini. Karena dengan begitu kita juga berusaha mandiri dan tidak tergantung dengan satu negara,” lanjutnya.
Sepanjang pengabdiannya, Yusuf telah menerima sejumlah tanda jasa kehormatan, di antaranya Satyalancana Dwidya Sistha, Satyalancana Dharma Dirgantara, Satyalancana Kesetiaan XVI Tahun, Satyalancana Kesetiaan XXIV Tahun, Satyalancana Kesetiaan XXXII Tahun, Bintang Swa Bhuwana Paksa Nararya, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Swa Bhuwana Paksa Pratama, Bintang Yudha Dharma Pratama, serta Bintang Dharma.
Deretan bintang ini mencerminkan pengakuan negara atas kontribusinya di bidang logistik dan tata kelola pertahanan bidang yang jarang menjadi sorotan publik, tetapi menentukan kesiapan alutsista dan kekuatan pertahanan nasional.
Amanah Baru di Kursi Wamenhan
Kini, Yusuf mengemban amanah sebagai Wamenhan Bidang Logistik, Industri Pertahanan, dan Teknologi. Lingkup tugasnya mencakup modernisasi alutsista, penguatan kemandirian industri pertahanan dalam negeri, alih teknologi, serta pengelolaan rantai pasok logistik pertahanan.
Penunjukan ini dinilai sebagai langkah logis Presiden Prabowo. Dengan pengalaman lebih dari satu dekade di Kemhan dan kepemimpinan di Baranahan serta Baloghan, Yusuf dianggap memiliki pemahaman utuh tentang kebutuhan logistik dan industrialisasi pertahanan Indonesia.
Di sisi lain, kursi Kabaloghan yang ditinggalkannya masih kosong. Kemhan memastikan pengisian jabatan menunggu mekanisme internal sesuai ketentuan, demi menjaga kesinambungan agenda logistik pertahanan yang sedang berjalan.
Bagi Yusuf Jauhari, ini bukan sekadar promosi jabatan. Ini adalah ujian apakah seorang teknokrat logistik mampu menerjemahkan kebutuhan alutsista TNI menjadi kebijakan industri pertahanan yang berdaulat, efisien, dan berkelanjutan tepat di era ketika Presiden Prabowo menempatkan kemandirian pertahanan sebagai prioritas utama.
(GRD/bro)














