GURINDAM.ID – Menjelang momen bersejarah kedatangannya pada 17 September 2026, satu hal menarik perhatian seluruh bangsa: nama kapal induk pertama milik Indonesia mengalami perubahan yang sarat makna.
Kapal bekas milik Angkatan Laut Italia, ITS Giuseppe Garibaldi (C551), yang kini masih bersandar di Pelabuhan Kolombo, Sri Lanka, semula diperkirakan akan bergelar KRI Gajah Mada. Namun kabar terbaru memastikan nama resminya adalah KRI Sriwijaya.
“Iya, betul,” demikian konfirmasi sumber terpercaya di Jakarta, Jumat (11/9/2026). Pengukuhan nama baru ini direncanakan dilakukan secara resmi tepat saat kapal tiba di perairan Indonesia, dan jika jadwal mengizinkan, akan langsung dikumandangkan oleh Presiden Republik Indonesia.
Perubahan ini sama sekali bukan menurunkan penghormatan terhadap sosok Gajah Mada, tokoh legendaris yang mengucapkan Sumpah Palapa. Sebaliknya, keputusan ini lahir dari pertimbangan mendalam soal kedudukan, kehormatan, dan tata urutan yang berlaku dalam pemberian nama kapal-kapal TNI Angkatan Laut.
Gajah Mada memang pahlawan besar yang tak tergantikan. Namun secara posisi, ia adalah seorang mahapatih panglima perang dan penasihat utama raja, bukan raja itu sendiri. Sementara itu, kapal-kapal fregat yang baru saja diresmikan dan kini menjadi bagian dari kekuatan armada laut Indonesia, KRI Brawijaya (320) dan KRI Prabu Siliwangi (321), keduanya menyandang nama raja-raja besar Nusantara.
Tentu menjadi tidak selaras jika kapal induk, sebagai kapal terbesar, utama, dan panglima tertinggi di laut, justru menyandang nama yang secara simbolis berada di bawah nama-nama raja yang dipakai kapal-kapal pendampingnya. Ketidaksesuaian inilah yang mendorong ditinjaunya kembali pilihan nama tersebut .
Sriwijaya: Simbol Kebesaran Maritim Nusantara
Maka dipilihlah Sriwijaya, nama yang membawa wibawa jauh lebih besar dan sesuai dengan kedudukan kapal induk. Kerajaan Sriwijaya adalah kekuatan maritim terbesar yang pernah tumbuh di bumi Nusantara, berkuasa pada abad ke-7 hingga ke-11, menguasai jalur-jalur perdagangan laut internasional yang menghubungkan benua Asia dengan belahan dunia lain. Nama ini bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan mencerminkan kedaulatan, kejayaan, dan kebesaran yang layak dipikul kapal kebanggaan bangsa.
Mengutip dari artikel dengan kisah mengenai Sriwijaya bagian kedua di majalah National Geographic Indonesia edisi Desember 2013. Perompak Selat Malaka telah eksis sejak masa Sriwijaya. Namun, kerajaan ini memiliki kiat untuk meredamnya.
Lima orang bersenjata memanjat suatu kapal tanker yang mengambang di atas gelombang. Kelima orang itu mengikat semua awak kapal, kemudian memaksa agar muatan kapal dipindahkan ke tangki yang telah mereka siapkan. Peristiwa perompakan itu terjadi di Selat Malaka pada 7 November 2013, menurut laporan International Maritime Bureau (IMB).
Saat ini, setiap hari diperkirakan sekitar 200 kapal berlayar melewati Selat Malaka. Sementara itu, bajak laut menjadi kisah yang terus membayangi jalur pelayaran paling sibuk di dunia itu. Suatu fenomena yang telah berlangsung sejak masa Kerajaan Sriwijaya.
Antara abad ketujuh hingga ke-11 atau hampir empat abad lamanya, Sriwijaya “mengendalikan” Selat Malaka. Mereka menjadi perantara dalam lalu lintas komoditas dari barat dan timur.
Disebut-sebut, salah satu kunci sukses Sriwijaya adalah dengan menggandeng para nomad (orang laut) serta kelompok-kelompok bajak laut. Oleh Sriwijaya, mereka dijadikan semacam garda depan dalam memantau pelayaran. Beberapa manuskrip kuno yang menyiratkan hal ini.
Seorang komisaris perdagangan Cina bernama Chau Ju-kua menulis Chufanchi (Zhu Fan Zhi catatan tentang bangsa-bangsa asing/barbar) pada 1225. Terdapat sekelumit indikasi dalam karya Chau yang diterjemahkan oleh Friedrich Hirth dan WW Rockhill pada 1911.
“Apabila sebuah kapal dagang lewat tanpa singgah, kapal-kapal mereka mengejar untuk menyerang dan semuanya berani mati saat melakukannya. Inilah alasan mengapa negeri ini merupakan sebuah pusat perdagangan yang besar,” tulis Chau.
Kapal tanker melewati Sungai Musi di Palembang, Sumatra Selatan, yang diperkirakan merupakan pusat kendali Sriwijaya pada masa-masa awal (Reynold Sumayku/NGI).
Sementara itu, dalam buku Maritime Trade and State Development in Early Southeast Asia, Kenneth Hall mengutip informasi dari catatan kuno Arab yang ikut menggambarkan bagaimana cara Sriwijaya mengelola Selat Malaka.
Pada pertengahan abad ke-10, tulisnya, Sriwijaya tercatat memungut pajak 20.000 dinar sebelum sebuah kapal dagang Yahudi dapat melanjutkan pelayarannya ke Cina.
Masih dari buku karya Kenneth, disebutkan cuplikan kisah dari ahli geografi dari Arab, Ibnu Rusta. Pada sekitar abad ke-10 Ibnu Rusta melukiskan suatu pulau di Riau (diperkirakan Kepulauan Lingga).
“Pemimpinnya mengepalai pasukan Sriwijaya,” demikian catat Ibnu seperti dikutip Kenneth, “Terkenal akan kamper dan kemampuannya untuk melindungi atau mengganggu kapal-kapal yang melintas.”
Sejak keruntuhan Sriwijaya (abad ke-11 atau ke-12), bajak laut di Selat Malaka bertindak sendiri-sendiri dan tampaknya semakin mengganas. Selat Malaka menjadi rawan bagi pelayaran. Hal inilah yang “dibersihkan” oleh armada Cheng Ho (Zheng He) pada abad ke-15. Namun, pada waktu-waktu kemudian, para perompak terus beraksi. Hingga sekarang.
Menanti Pengumuman Resmi
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi yang disampaikan oleh Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul maupun Kepala Bagian Informasi dan Hubungan Masyarakat Setjen Kementerian Pertahanan Brigjen Rico Ricardo Sirait terkait perubahan penamaan ini. Namun dari informasi yang beredar luas, keputusan tampaknya telah bulat dan tinggal menanti momen pengumuman resminya. Kini seluruh mata bangsa menanti: pada 17 September nanti, nama KRI Sriwijaya akan resmi menyapa perairan Indonesia sebagai lambang kembalinya kejayaan maritim yang dulu disegani dunia.
(MNTP)














