TOKYO – Mengusung semangat visi besar Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali, TNI Angkatan Laut dan Japan Maritime Self Defence Force (JMSDF) kembali meneguhkan jalinan strategis di Tokyo.
Pertemuan bilateral Navy to Navy Staff Talks ke-8 yang digelar pada Selasa (4/8) ini tidak sekadar seremoni, melainkan menjadi lompatan konkret untuk menjawab tantangan keamanan maritim modern.
Mewakili Asisten Operasi (Asops) Kasal Laksda TNI Yayan Sofiyan, Pati Sahli Kasal Tingkat III Bidang Dokstraopslat, Laksda TNI Monang Hatorangan Sitompul, menegaskan bahwa forum ini menjadi titik tajam untuk mengakselerasi kerja sama yang sudah solid.
Suasana diplomasi pertahanan semakin hangat saat Ketua Delegasi JMSDF, Rear Admiral Hirata Toshiyuki (Director General Operations and Programs Department), menyampaikan optimisme serupa untuk menjaga kestabilan di perairan regional.
Salah satu hasil paling visioner dari diskusi bilateral ini adalah komitmen penataan ulang skema latihan bersama. Menghadapi spektrum ancaman peperangan modern yang semakin dinamis serta urgensi penanganan bencana alam, kedua angkatan laut sepakat menjadikan Latihan Garuda-Samurai sebagai batu loncatan (leap forward).
Reformasi latihan ini dirancang untuk mempertajam interoperabilitas prajurit Jalasena dengan para Samurai Laut Jepang, tidak hanya dalam taktik tempur laut berteknologi tinggi, tetapi juga dalam misi kemanusiaan. Langkah ini menjadi bukti keseriusan TNI AL di bawah kepemimpinan Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali untuk selalu adaptif terhadap perkembangan zaman.
Group Sailing: Membumikan Diplomasi “Seaman Brotherhood”
Tidak berhenti pada latihan perang, visi Seaman Brotherhood yang kerap ditekankan oleh Kasal Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali turut menjadi roh dalam kerja sama ini. Kedua belah pihak sepakat untuk melaksanakan pelayaran bersama (group sailing) dengan melibatkan negara-negara sahabat di kawasan.
Rute pelayaran ini akan dikolaborasikan setiap kali ada pergerakan kapal menuju negara penyelenggara latihan multilateral.
Konsep ini bukan sekadar unjuk kekuatan, melainkan diplomasi lunak untuk merajut persaudaraan, membangun rasa saling percaya, dan menjaga stabilitas arsitektur keamanan laut di kawasan Indo-Pasifik.
(Gas/pen)














