Usia 83 Tahun, Boediono Masih Dipanggil Istana: Bukti Cinta Negeri Tak Butuh Validasi

Prof. Dr. H. Boediono
Prof. Dr. H. Boediono

JAKARTA – Di usianya yang ke-83 tahun, Prof. Dr. H. Boediono kembali menunjukkan bahwa kecemerlangan dan integritas seorang negarawan sejati tidak akan pernah pudar dimakan zaman. Setelah satu dekade lebih meninggalkan Istana Wakil Presiden, teknokrat yang dijuluki “The man to get the job done” itu justru semakin terang benderang.

Puncaknya, pada 11 Desember 2025 lalu, ia menerima Lifetime Achievement Award dari CNBC Indonesia Awards 2025, sebuah penghargaan prestisius yang menegaskan warisan pemikiran dan kebijakannya bagi perekonomian nasional.

Penghargaan itu seolah menjadi pengingat bahwa jasa tidak selalu harus berteriak. Boediono, yang genap berusia 83 tahun pada 25 Februari 2026, memang bukan tipe pemimpin yang senang tampil di panggung. Namun, setiap kali bangsa menghadapi persimpangan ekonomi, suaranya yang tenang dan berisi data selalu dicari.

Bukan hanya penghargaan. Masih di tahun yang sama, tepatnya pada Maret 2026, sosok asal Blitar itu terlihat memenuhi undangan kenegaraan di Istana Negara.

Kehadirannya bukan sekadar seremoni. Sumber terdekat mengungkapkan, di balik pertemuan tersebut, Boediono memberikan masukan dan analisis mendalam terkait arah kebijakan ekonomi dan situasi nasional.

Pemandangan ini menegaskan bahwa meski tak lagi berstatus pejabat aktif, telinga negara tetap tertuju pada guru besar Fakultas Ekonomi UGM tersebut.

“Beliau memang tidak banyak muncul di media. Tapi secara berkala, berbagai lembaga negara masih rutin meminta pandangan dan analisis ekonomi dari Pak Boed. Integritas dan ketajaman analisisnya tidak tergantikan,” bisik seorang mantan koleganya di Bank Indonesia yang enggan disebutkan namanya.

Jauh dari hingar-bingar politik, pondasi karakter Boediono ditempa di Kota Blitar. Lahir pada 25 Februari 1943, putra keluarga Muhammadiyah ini mengawali pendidikan di SD Muhammadiyah, lalu SMP dan SMA Negeri 1 Blitar. Kesederhanaan lingkungan kota kecil itu membentuk pribadinya yang rendah hati dan anti-kemewahan.

Petualangan intelektualnya membawanya dari UGM menuju University of Western Australia, Monash University, hingga meraih gelar Ph.D. dari Wharton School, University of Pennsylvania. Dan sejarah mencatat, kariernya adalah mimpi para birokrat: dari Menteri Keuangan, Menko Perekonomian, Gubernur Bank Indonesia, hingga Wakil Presiden ke-11 mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Di setiap pos, ia tidak meninggalkan proyek mercusuar, melainkan sistem yang tahan banting seperti independensi Bank Indonesia yang ia jaga mati-matian.

Tidak Suka Basa-basi, Tapi Peduli Mahasiswanya”

Di balik wibawa seorang doktor ekonomi yang seringkali dianggap dingin, tersimpan jiwa humanis yang tulus. Hingga kini, Boediono masih setia mengajar sebagai guru besar di UGM. Baginya, mengajar adalah napas dan cara mencetak generasi penerus yang jujur serta kritis.

“Bagi Pak Boed, jabatan itu dapur, bukan panggung.”

Mahasiswanya kerap bercerita, meski disiplin dan tidak suka basa-basi, Prof. Boediono sangat perhatian pada mereka yang benar-benar ingin belajar. “Beliau tidak akan segan meluangkan waktu di sela-sela kesibukannya yang padat,” ujar seorang mahasiswa bimbingannya.

Di kehidupan pribadi, ia adalah suami setia bagi Herawati, yang dinikahinya sejak 1969, dan ayah bagi Ratriana Ekarini dan Dios Kurniawan. Keluarga adalah alasan ia tetap membumi meski pernah bertengger di puncak kekuasaan.

Warisan Sepanjang Masa

Kini, di tahun 2026, di usianya yang ke-83, Boediono telah membuktikan bahwa sebuah bangsa memerlukan lebih dari sekadar pemimpin yang pandai berorasi. Indonesia membutuhkan sosok yang bekerja dalam senyap, menganalisis dengan dingin, dan mencintai negeri lewat data serta sistem bukan lewat gimik.

Lifetime Achievement Award dari CNBC Indonesia hanyalah salah satu bukti kecil dari rasa terima kasih negeri ini. Bukti sesungguhnya adalah bagaimana negarawan itu masih dipanggil ke istana, dimintai petuahnya, dan menjadi rujukan moral di kala arah angin ekonomi sulit ditebak.

Selamat menempuh babak usia baru, Prof. Boediono. Bangsa ini masih menikmati teduh dari integritas yang engkau rawat dalam senyap.

(GRD)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *