Prabowo Putin Kian Mesra, Latma Orruda 2026 Jadi Bukti Politik Bebas Aktif Indonesia

Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggelar pertemuan dengan Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kremlin pada Senin, 13 April 2026. (Foto: BPMI Setpres)
Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menggelar pertemuan dengan Presiden Federasi Rusia, Vladimir Putin, di Istana Kremlin pada Senin, 13 April 2026. (Foto: BPMI Setpres)

GURINDAM.ID — Kedekatan Presiden RI Prabowo Subianto dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang terlihat hangat dalam kunjungan resmi ke Istana Kremlin, Moskow, 13 April 2026, bukan sekadar seremoni. Sapaan “sahabat” dari Putin menjadi penanda menguatnya kemitraan strategis kedua negara yang kini terwujud dalam Latihan Bersama (Latma) Orruda 2026 antara TNI AL dan Russian Navy di Vladivostok.

Di tengah rivalitas geopolitik global yang kian tajam, latihan ini ditegaskan sebagai penegasan politik luar negeri bebas aktif, bukan keberpihakan.

Latma Orruda 2026 resmi dibuka pada Sabtu (25/7) oleh Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali bersama Panglima Armada Pasifik Rusia Admiral Viktor Nikolayevich Liina. TNI AL menerjunkan KRI I Gusti Ngurah Rai-332, satu helikopter Panther, tim Komando Pasukan Katak (Kopaska), dan 145 personel yang akan menjalani fase pelabuhan hingga fase laut.

Di sela latihan, kedua pimpinan angkatan laut menggelar pertemuan bilateral membahas pengembangan kerja sama strategis jangka panjang. Agenda itu mencakup Passing Exercise (Passex), peningkatan interoperabilitas, pertukaran tenaga ahli di bidang peperangan bawah laut (underwater warfare), hingga rencana perluasan cakupan latihan bersama di masa mendatang.

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah

Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai, momentum Orruda 2026 sarat makna karena terjadi saat konstelasi keamanan global sedang bergeser drastis.

“Kawasan Indo-Pasifik kini menjadi pusat persaingan kekuatan besar. AS memperkuat aliansi dengan Jepang, Australia, Korsel, sementara Rusia dan China kian erat di sektor maritim. Indonesia harus menjaga keseimbangan,” ujarnya, Selasa (28/7/2026).

Ia menekankan, latihan bersama Rusia ini adalah implementasi nyata prinsip bebas aktif, aktif membangun kerja sama pertahanan dengan semua negara tanpa terikat blok tertentu. “Latihan ini tidak berarti Indonesia memihak. Justru menunjukkan keterbukaan dan kemandirian politik luar negeri kita,” tegas Amir.

Fondasi Panjang, Dari Kunjungan ke Latihan Kompleks

Hubungan pertahanan Indonesia-Rusia disebut Amir telah melalui tahapan wajar dalam diplomasi militer. Sebelum Orruda 2026, kapal perang dan kapal selam Rusia telah lebih dulu melakukan kunjungan persahabatan ke Indonesia membangun kepercayaan (confidence building measures) sebelum intensitas ditingkatkan ke latihan bersama yang lebih kompleks. “Pola ini normal dalam kerja sama militer internasional: dari dialog, kunjungan, hingga latihan bersama,” katanya.

Salah satu sorotan utama adalah pembahasan kerja sama underwater warfare. Amir menilai kemampuan peperangan bawah laut akan menjadi penentu kekuatan maritim masa depan, seiring meningkatnya ancaman kapal selam, wahana bawah air nirawak, dan sensor bawah laut.

“Sebagai negara kepulauan terbesar, Indonesia berkepentingan besar belajar dari pengalaman Rusia yang maju di teknologi kapal selam,” jelasnya.

Selain itu, materi latihan menghadapi wahana tanpa awak (drone laut) dinilai sangat relevan. Konflik-konflik terbaru menunjukkan tren penggunaan drone laut untuk pengintaian, sabotase, hingga serangan langsung. “Ini adaptasi terhadap perubahan karakter perang modern. Bukan sekadar teknis, melainkan strategis,” tambah Amir.

Jalesveva
Jalesveva Jayamahe

KSAL Laksamana Muhammad Ali menegaskan, Latma Orruda bertujuan meningkatkan deterrence effect atau efek daya tangkal. Amir memaknai hal itu sebagai kesiapan yang membuat potensi ancaman berpikir ulang, tanpa harus mencari musuh. “Semakin profesional prajurit kita dan semakin luas pengalaman internasionalnya, kredibilitas pertahanan Indonesia meningkat,” ucapnya.

Ia juga menyebut penggunaan kapal perang dalam misi ini sebagai bentuk naval diplomacy. “Ketika KRI bersandar di Vladivostok dengan bendera Merah Putih, itu adalah pesan kehadiran Indonesia sebagai negara maritim yang aktif membangun stabilitas kawasan. Diplomasi ini bekerja lewat kerja sama praktis antar-prajurit,” paparnya.

Amir menutup dengan menegaskan bahwa latihan dengan Rusia harus dilihat dalam kerangka hubungan luar negeri Indonesia secara utuh. TNI AL selama ini juga rutin berlatih dengan AS, Australia, Jepang, India, Singapura, Korea Selatan, dan negara-negara ASEAN.

“Kekuatan diplomasi Indonesia justru pada kemampuannya menjalin hubungan baik dengan semua pihak. Itulah esensi bebas aktif: independen, tidak menutup diri, dan selalu mengutamakan kepentingan nasional,” pungkasnya.

Dengan wilayah laut yang menjadi jalur perdagangan dunia, Latma Orruda 2026 menjadi penegasan bahwa Indonesia terus memperkuat kapasitas maritimnya di tengah pusaran rivalitas global tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa yang bebas menentukan arah.

(GRD/FER)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *