KARIMUN – Komitmen TNI Angkatan Laut di bawah kepemimpinan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali dalam menjaga kedaulatan dan kekayaan laut Nusantara kembali terbukti.
Tim gabungan Lanal Tg. Balai Karimun dan Satgas Operasi Cakra-26 K Sat Intelmar Pusintelal sukses menggagalkan penyelundupan 1,9 ton pasir timah di Perairan Pongkar, Kabupaten Karimun, Senin (20/7/2026) dini hari.
Operasi yang bermula dari pengintaian intensif di sekitar Perairan Pelambung ini membuahkan hasil ketika petugas mendeteksi sebuah speedboat fiber bermesin ganda 200 PK melaju mencurigakan menuju Dermaga Tikus pukul 01.25 WIB.
Tanpa membuang waktu, tim Quick Response Region Naval Command IV langsung melakukan pengejaran, penangkapan, dan penggeledahan.
Dari pemeriksaan awal, terungkap speedboat tersebut hendak mengangkut pasir timah untuk dikirim secara ilegal ke Malaysia. Petugas mengamankan satu unit speedboat, seorang tersangka utama, tiga anak buah kapal (ABK), seorang nahkoda, serta 50 karung pasir timah dengan total berat sekitar 1,9 ton. Seluruh pelaku dan barang bukti digelandang ke Mako Lanal Tg. Balai Karimun guna menjalani proses hukum lebih lanjut.
Selain timah, sejumlah barang bukti pendukung turut disita: telepon genggam, dokumen identitas, kartu ATM, tas, dompet, kacamata, dan perlengkapan lain yang diduga kuat berkaitan dengan jaringan penyelundupan terorganisir.
Kerugian Negara dan Kandungan Mineral Tinggi
Berdasarkan pendalaman, pasir timah itu rencananya dijual dengan harga sekitar Rp800.000 per kilogram di pasar gelap Malaysia. Dengan muatan 1,9 ton, nilai totalnya menembus Rp1,52 miliar uang yang seharusnya menjadi pendapatan negara dan kesejahteraan rakyat.
Hasil uji laboratorium di perwakilan PT Timah Kundur menunjukkan seluruh sampel memiliki rata-rata kandungan timah (Sn) sangat tinggi, berkisar 40–50 persen. Material ini diduga kuat merupakan hasil tambang yang belum melalui proses pencucian atau pengolahan awal.
Keberhasilan ini menegaskan kembali penekanan Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali bahwa TNI AL akan terus meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat sinergi lintas instansi, serta mengoptimalkan pengawasan di seluruh wilayah yurisdiksi Indonesia.
Langkah tersebut selaras dengan program prioritas Presiden RI dalam pemberantasan penyelundupan, pengamanan sumber daya alam strategis, dan penguatan ekonomi nasional.
“Menjaga laut Nusantara bukan sekadar tugas, melainkan amanah yang harus dijalankan tanpa kompromi. Setiap butir pasir timah adalah aset bangsa yang wajib kita lindungi dari tangan-tangan predator ekonomi,” demikian pesan tegas Kasal yang menjadi roh di balik setiap operasi TNI AL.
Dinas Penerangan Angkatan Laut memastikan proses hukum terhadap para tersangka akan berjalan transparan, sekaligus memperdalam penyelidikan untuk membongkar jaringan lebih besar yang kerap memanfaatkan jalur tikus di perairan Karimun. Masyarakat pun diimbau terus berperan aktif melaporkan aktivitas mencurigakan di wilayah pesisir.
(Gas/pen)














