BELAWAN– Laut Utara Pulau Pusung menyimpan cerita muram pada Selasa pagi (10/6). Di bawah guyuran tugas menjaga kedaulatan, prajurit TNI Angkatan Laut yang bertugas di KRI Imam Bonjol-383 (KRI IBL-383) harus berhadapan dengan pemandangan yang merobek hati alat isap sabu masih mengepul di atas kapal yang seharusnya menjadi tumpuan nafkah keluarga.
Ini bukan sekadar operasi penangkapan biasa. Ini adalah potret buram bagaimana lautan lepas, yang seharusnya menjadi ladang penghidupan, justru disulap menjadi ruang gelap penyalahgunaan narkotika.
Bermula dari sapuan radar dan naluri tempur yang tajam di bawah komando Gugus Tempur Laut (Guspurla) Koarmada I, KRI Imam Bonjol-383 menghentikan laju KM Aries Indo XVIII.
Kapal ikan berbendera Merah Putih berukuran 27 GT itu tengah berlayar dari Belawan menuju fishing ground. Di atas kertas, mereka membawa 2 ton ikan campuran. Namun di balik palka dan ruang istirahat, tersimpan “muatan” lain yang siap menghancurkan generasi.
Saat tim pemeriksa menuruni tangga kapal, kecurigaan berubah menjadi kenyataan pahit. Dengan telaten, petugas menemukan 47 bungkus plastik kecil kosong jejak bisu yang bercerita bahwa pesta ini bukan yang pertama kali.
Lebih mengejutkan, satu bungkus plastik berisi serbuk kristal sabu masih tersisa, lengkap dengan tiga alat isap (bong) dan empat botol modifikasi yang menjadi media mereka menghirup racun.
Fakta paling memilukan terkuak dari pengakuan para awak. Enam dari sepuluh Anak Buah Kapal (ABK) yang dipimpin Nahkoda Riski Riyadi Siregar mengaku positif menggunakan sabu selama pelayaran.
Bahkan, salah satu bong ditemukan dalam kondisi masih aktif digunakan tepat sebelum penggerebekan terjadi. Mereka mengonsumsi narkoba saat berlayar dan ketika melaut mencari ikan sebuah tindakan yang tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengundang maut di tengah ganasnya cuaca laut.
Operasi ini adalah bukti bahwa TNI AL tidak hanya berperang melawan ancaman militer asing, tetapi juga melawan “musuh dalam selimut” yang mengancam sumber daya manusia Indonesia.
Dapat dibayangkan, bagaimana kapal berlayar berjam-jam di laut lepas dengan kondisi ABK yang berhalusinasi? Risiko kecelakaan fatal yang bisa menewaskan 10 jiwa di kapal itu sangatlah nyata.
Komandan Guspurla Koarmada I menegaskan bahwa penemuan ini bukan sekadar statistik kriminal. “Ini adalah operasi penyelamatan. Kami tidak hanya menegakkan hukum, tetapi memutus mata rantai kecanduan yang bisa merenggut nyawa saudara kita sendiri di lautan,” tegas pernyataan resmi yang dikutip redaksi.
Langkah tegas langsung diambil. Barang bukti didokumentasikan, dan keenam ABK berikut barang temuan kini telah diamankan untuk proses pendalaman lebih lanjut sesuai hukum yang berlaku di Indonesia.
KRI Imam Bonjol-383 kembali membuktikan bahwa mata dan telinga TNI AL tidak pernah tidur, menjaga setiap inci perairan dari ancaman multidimensi.
Refleksi di Ujung Samudera
Kejadian ini menyisakan tanya yang menusuk: Sudah sejauh mana zat terlarang itu merasuki para penjaga pangan negeri? Di tengah upaya negara menggenjot produktivitas perikanan, kisah KM Aries Indo XVIII adalah tamparan keras bahwa kesejahteraan mental para pelaut kita sedang dalam bahaya.
Untaian terima kasih layak dilayangkan kepada para prajurit KRI Imam Bonjol-383. Di tengah dinginnya angin Utara Sumatera, hati mereka tetap hangat oleh nurani memilih menyelamatkan, bukan sekadar menghukum. Karena di atas geladak kapal itu, 10 jiwa baru saja diselamatkan dari kematian yang datang perlahan.
(GRD/pen)














