JAKARTA– Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menghadap Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Selasa (9/6), untuk melaporkan capaian konkret Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) atau quick win di sektor kesehatan.
Laporan tersebut menyoroti tiga pilar utama yang kini telah menjangkau puluhan juta masyarakat: Cek Kesehatan Gratis (CKG), penanggulangan Tuberkulosis (TBC), serta peningkatan kualitas 66 RSUD di daerah tertinggal.
Dalam paparannya, Menkes menyampaikan bahwa program CKG telah menjadi salah satu intervensi kesehatan masyarakat terbesar di Indonesia. Sepanjang tahun 2025, lebih dari 70 juta penduduk telah berhasil diperiksa. Memasuki tahun 2026, cakupan terus meluas dengan 42,3 juta peserta tercatat di 38 provinsi.
Menkes menegaskan bahwa mulai tahun ini, fokus program CKG bergeser dari sekadar skrining massal ke arah kuratif. Masyarakat yang terdiagnosa penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes melitus akan langsung ditindaklanjuti.
“Tidak hanya berhenti pada deteksi dini, petugas Puskesmas kini memprioritaskan pengobatan dan monitoring secara gratis, termasuk pemberian obat, bagi peserta yang membutuhkan,” ujar Budi.
Terobosan TBC: Kasus Turun, Layanan Dipercepat
Untuk PHTC kedua, penanggulangan TBC menunjukkan tren positif. Berkat strategi deteksi agresif yang diintegrasikan dengan program CKG, estimasi jumlah kasus TBC pada tahun ini berhasil ditekan menjadi 1,08 juta kasus, turun drastis dari proyeksi 10,9 juta kasus.
Inovasi layanan diperkuat dengan skema One-Stop Service (OSS). Melalui OSS, masyarakat kini dapat menjalani seluruh rangkaian skrining, diagnosis, hingga pengobatan TBC di satu Puskesmas pada hari yang sama, memangkas birokrasi dan risiko pasien putus berobat.
Pada pilar ketiga, Kemenkes mencatat progres fisik peningkatan layanan rumah sakit daerah. Dari target 66 RSUD di daerah Tertinggal, Terluar, dan Terpencil (3T) yang ditingkatkan dari Kelas D ke Kelas C, realisasinya sebagai berikut:
· 2025: 20 dari 22 RSUD selesai dibangun, 10 di antaranya sudah beroperasi penuh.
· 2026: 14 dari 20 RSUD dalam tahap konstruksi.
· 2027: 24 RSUD lainnya masih dalam tahap perencanaan.
Selain infrastruktur bangunan, pemerintah juga mendistribusikan 905 alat kesehatan utama ke 258 Kabupaten/Kota. Alat-alat tersebut meliputi Cathlab, CT Scan, Mamografi, MRI, dan Linear Accelerator (Linac) guna memastikan layanan berkualitas tidak lagi terpusat di kota besar.
Dalam pertemuan tersebut, Menkes juga melaporkan bahwa pembangunan fisik Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Jayapura di Papua telah rampung dan siap diresmikan oleh Presiden Prabowo. RS ini dirancang menjadi pusat rujukan (hub) tidak hanya untuk kawasan Timur Indonesia, tetapi juga untuk regional Pasifik dan Oseania.
Sementara itu, progres pembangunan RSUP Riau dilaporkan telah mencapai 85% dan ditargetkan beroperasi pada Desember 2026. Kehadiran RSUP Riau diharapkan dapat menekan arus masyarakat Riau dan sekitarnya yang selama ini memilih berobat ke luar negeri, khususnya Malaysia dan Singapura.
Mengakhiri laporannya, Menkes memaparkan rencana besar jangka menengah, yakni revitalisasi tata kelola dan fisik RSUD di 514 Kabupaten/Kota di seluruh Indonesia.
Tak hanya rumah sakit, pemerintah juga menyiapkan program revitalisasi untuk 10.000 Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat guna memperkuat layanan primer di tingkat kecamatan dan kelurahan.
(Mks/GRD)














