Idul Adha 1447 H Jatuh 27 Mei, Muhammadiyah Natuna Gelar Sholat Ied di Pantai Piwang Geopark

Muhammadiyah di Natuna resmi menyambut 1 Syawal 1447 H, menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan
Muhammadiyah di Natuna resmi menyambut 1 Syawal 1447 H, menandai berakhirnya bulan suci Ramadhan

NATUNA – Umat Islam di Kabupaten Natuna bersiap menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah. Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Natuna telah mengantongi izin resmi untuk menggelar Sholat Id di kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Pantai Piwang, bagian dari Geopark Natuna yang eksotis. Kepastian ini disampaikan langsung oleh Ketua PD Muhammadiyah Natuna, Ilham Kauli, S.Sos., M.Si.

Ibadah akbar tersebut akan digelar pada Rabu, 27 Mei 2026, pukul 07.15 WIB hingga selesai. Tanggal ini merujuk pada Maklumat Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 2/MLM/I.0/E/2025.

Melalui metode Hisab Hakiki Kontemporer dalam Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), PP Muhammadiyah menetapkan 10 Dzulhijjah 1447 H jatuh tepat pada 27 Mei 2026, menjadikannya panduan final bagi seluruh warga persyarikatan. Bertindak sebagai Imam Solat Idil Adha Khairurijal sementara Khatib H.Tarmizi.

Muhammadiyah
Muhammadiyah

Dipilihnya Pantai Piwang sebagai pusat ibadah bukan tanpa alasan. Selain memiliki daya tampung luas untuk ribuan jamaah, lanskap pesisir ini menawarkan suasana spiritual yang unik. Berdasarkan surat balasan pengelola bernomor 05/III.A/H/2026 tertanggal 2 April 2026, manajemen Geopark Natuna resmi memberikan lampu hijau.

“Kami selaku penyelenggara, dan saya pribadi sebagai penanggung jawab penuh, memastikan kegiatan ini tidak hanya khusyuk, tapi juga ketat menjaga prinsip kelestarian alam,” tegas Ilham Kauli.

Penekanan ini selaras dengan amanat pengelola yang mewajibkan penerapan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Regulasi ini memaksa panitia menerapkan sistem zero waste, di mana setiap jamaah dan petugas wajib mengurangi serta menangani sampah secara berwawasan lingkungan. Tidak ada toleransi untuk sampah plastik atau residu yang mengotori kawasan Geopark.

Penggunaan aset Geopark untuk peribadatan menjadi simbol harmoni antara dakwah dan konservasi. Pihak pengelola menitipkan dua syarat mutlak: menjaga kebersihan total serta melindungi seluruh infrastruktur di Pantai Piwang dari risiko kerusakan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa syiar Islam bisa berpadu dengan kecintaan terhadap alam. Natuna diberkahi bentang laut yang indah, sudah menjadi tugas kami untuk meninggalkannya tetap lestari seusai ibadah,” lanjut Ilham Kauli.

Dengan terbitnya izin ini, PD Muhammadiyah Natuna segera bergerak cepat. Koordinasi teknis sedang dimatangkan, mulai dari penandaan area shaf, pengaturan arus parkir, hingga penyediaan titik-titik pemilahan sampah organik dan anorganik. Ini adalah bukti bahwa momen Idul Adha di perbatasan Indonesia bisa menjadi teladan bagi green worship di ruang publik.

Bagi warga Natuna yang hendak bermalam atau merencanakan perjalanan dari luar kota, kepastian jadwal ini menjadi panduan penting. Ibadah kurban pasca-Sholat Ied pun siap dimobilisasi untuk memperkuat solidaritas sosial masyarakat pesisir.

(Grd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *