Belajar Ilmu Kesehatan Maritim di Atas Geladak Perang, Pengalaman Eksklusif Mahasiswa UHT

mahasiswa Universitas Hang Tuah (UHT).
mahasiswa Universitas Hang Tuah (UHT).

SURABAYA – Dentuman ombak dan semilir angin laut menjadi latar pembelajaran yang tak terlupakan bagi mahasiswa Universitas Hang Tuah (UHT). Dalam sebuah langkah terobosan pendidikan, mereka tidak hanya belajar tentang kemaritiman dari buku teks, tetapi langsung menginjakkan kaki, menyerap ilmu, dan melakukan simulasi di atas kapal perang aktif, KRI Banjarmasin-592.

Kegiatan bertajuk Wisata Edukasi Maritim ini sukses menjembatani teori kelas dengan realita operasi militer laut yang sesungguhnya.

Dipandu langsung oleh para perwira kapal dan tim medis dari Dinas Kesehatan Komando Armada II (Diskes Koarmada II), mahasiswa mendapatkan kuliah lapangan eksklusif tentang Ilmu Kesehatan Maritim. Ini bukan sekadar tur, melainkan inkubasi pengalaman yang mengubah perspektif mereka tentang dunia kesehatan di lingkungan ekstrem.

Cerita dimulai saat para mahasiswa menaiki tangga kapal. Rasa antusiasme langsung terpancar. Mereka diajak menyusuri setiap sudut strategis kapal perang berjenis Landing Platform Dock (LPD) ini.

Dimulai dari anjungan otak kapal tempat navigasi dan komando berlangsung hingga ke geladak helly dan tank deck yang luas, yang biasa digunakan untuk operasi amfibi dan logistik.

Namun, puncak pembelajaran terjadi saat sesi pemaparan materi kesehatan. Di sinilah alur cerita edukasi mencapai klimaksnya. Para mahasiswa dibekali pengetahuan vital tentang bagaimana sistem pelayanan kesehatan beroperasi di tengah keterbatasan dan gelombang tinggi. Materi yang diberikan meliputi:

Prosedur Penanganan Medis Darurat di Laut: Bagaimana memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan kerja atau luka tempur saat kapal sedang berlayar jauh dari rumah sakit.

Manajemen Evakuasi Pasien: Teknik dan prosedur evakuasi medis menggunakan helikopter dari geladak kapal ke fasilitas kesehatan darat.

Fasilitas Kesehatan Kapal Perang: Pengenalan mendetail terhadap ruang medis, peralatan bedah, dan kemampuan stabilisasi pasien yang dimiliki KRI Banjarmasin-592.

BACA JUGA :  Dari Glasgow, Presiden Lanjutkan Lawatan ke Abu Dhabi

Sorak sorai kecil dan keheningan serius silih berganti, terutama saat sesi simulasi penanganan pasien dimulai. Para mahasiswa tampak begitu antusias mempraktikkan cara membalut luka dan mengevakuasi korban menggunakan tandu di koridor kapal yang sempit. Ini adalah laboratorium hidup yang tidak bisa didapatkan di daratan.

Kegiatan ini bukanlah sekadar perjalanan lapangan biasa. Ini adalah manifestasi dari visi besar Angkatan Laut dilaksanakan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Kasal), Laksamana TNI Dr. H. Muhammad Ali, S.E, M.M, M.Tr.Opsla., selaku Pembina Yayasan Universitas Hang Tuah. Dalam berbagai kesempatan, Kasal selalu menekankan bahwa Universitas Hang Tuah adalah kampus yang membawa tradisi nilai-nilai kemaritiman dan kebaharian.

Bahkan, dalam momentum peresmian Gedung Graha Samudra Ganesa Kampus Laut Bitu UHT Surabaya, Kasal secara khusus memberikan apresiasi. Beliau menyampaikan bahwa UHT telah secara konsisten menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan keunggulan di bidang kelautan dan kemaritiman secara nasional.

Pesan ini menjadi roh yang menyatukan antara angkatan laut dan dunia akademisi. “Kami ingin mahasiswa tidak hanya mengerti teori, tetapi juga memiliki jiwa pelaut sejati dan siap berkontribusi dalam sistem pertahanan maritim, khususnya di bidang kesehatan,” ujar seorang perwira terkait esensi kegiatan ini.

Kegiatan ship tour edukatif ini sekali lagi membuktikan bahwa metode pembelajaran experiential learning adalah kunci mencetak sumber daya manusia unggul. Dengan menggabungkan teknologi kapal perang modern milik TNI AL dan kurikulum kesehatan mutakhir UHT, acara ini menjadi benchmark pendidikan tinggi maritim di Indonesia.

Para mahasiswa pulang dengan membawa lebih dari sekadar pengetahuan; mereka membawa pengalaman, inspirasi, dan kebanggaan sebagai bagian dari bangsa maritim. Siapa tahu, di antara mereka yang hari ini melakukan simulasi di geladak KRI Banjarmasin-592, kelak akan menjadi pionir dokter kapal selam atau kepala kesehatan armada yang andal.

BACA JUGA :  Meski Mantan Gubernur, Ismeth Abdullah Tak Ditangani Dokter Dari Pemprov Kepri

(Gas/pen)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *