LABUAN BAJO — TNI Angkatan Laut melalui Komando Armada II (Koarmada II) mengerahkan KRI Pulau Fani-731 beserta prajurit Satuan Komando Penyelam dan Penyelamatan Bawah Air (Satkoppeba) Koarmada II untuk memperkuat operasi pencarian korban kecelakaan laut KM Feronia di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur.
Pengerahan ini merupakan tindak lanjut perintah Pangkoarmada II Laksda TNI I G. P. Alit Jaya, S.H., M.Si., guna menemukan satu korban yang hingga kini masih dinyatakan hilang.
KM Feronia dilaporkan tenggelam pada Selasa, 13 Oktober 2026, sekitar pukul 14.30 WITA saat dalam perjalanan wisata dari Labuan Bajo menuju Pulau Rinca.
Kapal tersebut mengangkut 30 orang, terdiri atas 25 penumpang dan lima awak kapal. Dalam operasi hari pertama, sebanyak 29 orang berhasil diselamatkan, sementara satu penumpang, Veronica Beatrix Jessica Vashty (23), seorang dive guide, masih dalam pencarian.
Dalam pelaksanaan operasi pencarian, KRI Pulau Fani-731 dikerahkan untuk mendukung pencarian di laut. Kapal perang jenis Mine Counter Measure Vessel (MCMV) ini memiliki kemampuan deteksi bawah air yang mumpuni, termasuk peralatan sonar untuk mendeteksi dan mengidentifikasi kontak di dalam air. Sementara itu, prajurit Satkoppeba Koarmada II mengoptimalkan kemampuan dan keahlian khusus di bidang penyelaman serta pencarian bawah air.
Selain unsur laut, TNI AL juga mengerahkan Pesawat Udara (Pesud) CN-235-220 guna memperkuat operasi pencarian dari udara. Pesawat patroli maritim ini memiliki kemampuan pengawasan yang dapat memantau area pencarian secara lebih luas dan cepat.
Upaya pencarian dilakukan dengan memanfaatkan teknologi Side Scan Sonar untuk mendeteksi keberadaan bangkai kapal di dasar laut. Teknologi ini diharapkan dapat mempersempit area pencarian dan membantu proses penemuan korban. Berdasarkan laporan sebelumnya, bangkai KM Feronia diduga berada di kedalaman sekitar 30 hingga 40 meter.
Penggunaan Side Scan Sonar memungkinkan tim pencari memetakan kondisi bawah laut secara lebih akurat, terutama mengingat kondisi arus dan jarak pandang bawah air yang menjadi tantangan utama dalam operasi penyelaman.
Wujud Kesiapsiagaan dan Profesionalisme TNI AL
Pengerahan unsur KRI dan prajurit Satkoppeba tersebut merupakan wujud kesiapsiagaan dan profesionalisme TNI Angkatan Laut dalam merespons kecelakaan laut, khususnya dalam pelaksanaan operasi kemanusiaan.
Dengan dukungan personel terlatih, kemampuan khusus penyelaman, serta peralatan pencarian bawah air, Koarmada II berupaya memberikan dukungan secara optimal guna mempercepat proses pencarian korban.
Sebelumnya, Pangkoarmada II telah menerima penghargaan East Java Maritime Awards 2026 di bidang Penjaga Kedaulatan Laut Nusantara, sebuah pengakuan atas dedikasi Koarmada II dalam menjaga keamanan maritim wilayah Indonesia Tengah.
Pangkoarmada II menegaskan bahwa TNI Angkatan Laut senantiasa berkomitmen untuk hadir membantu masyarakat, khususnya dalam situasi darurat dan musibah di laut.
“Kami mengerahkan seluruh kemampuan yang dimiliki untuk mendukung proses pencarian secara maksimal. Saya berharap upaya ini segera membuahkan hasil sehingga dapat memberikan kepastian bagi keluarga korban. Laksanakan tugas dengan penuh tanggung jawab, tetap utamakan keselamatan, dan tunjukkan bahwa TNI Angkatan Laut selalu hadir untuk rakyat,” tegas Pangkoarmada II.
Operasi pencarian bersama Tim SAR Gabungan akan terus dilanjutkan dengan mempertimbangkan kondisi perairan dan keselamatan personel. Koordinasi antarunsur menjadi prioritas utama guna memastikan seluruh upaya pencarian berjalan efektif dan optimal.
(Pen/2)














