SUVA Fiji – Di atas kapal rumah sakit KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 yang bersandar di Walu Bay Port, Suva, ratusan warga Fiji mengantre sejak pagi. Mereka datang bukan untuk melihat kapal perang, melainkan untuk berobat. Dua hari, 11–12 Oktober 2026, tim kesehatan Satgas Gabungan Terpadu Port Visit 2026 melayani 504 pasien mulai dari pemeriksaan umum, gigi, hingga tindakan operasi impaksi gigi .
Pemandangan itu bukan kebetulan. Ia adalah buah dari sebuah visi yang ditanam dua tahun sebelumnya oleh Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali.
Pada April 2024, di Hanggar Kapal Selam Koarmada II Surabaya, Kasal Muhammad Ali meluncurkan buku berjudul “Diplomasi Sang Hiu Kencana” . Buku itu bukan biografi. Ali sendiri menyebutnya sebagai “analisis mendalam tentang kompleksitas diplomasi Angkatan Laut di tengah dinamika perkembangan lingkungan strategis kawasan”.
Dalam buku itu, Ali menuangkan gagasan tentang bagaimana Angkatan Laut khususnya korps kapal selam yang dikenal sebagai Hiu Kencana harus memainkan peran diplomasi, bukan sekadar kekuatan tempur . Ia menegaskan bahwa Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan 10 perbatasan laut, membutuhkan pendekatan diplomasi yang aktif untuk mencegah konflik di laut.
“Buku ini berisi perspektif dan gagasan untuk membangun Decisive Naval Power serta membangkitkan kembali DNA bangsa Indonesia sebagai bangsa maritim melalui pendekatan naval diplomacy,” ujar Kasal Muhammad Ali saat itu.
Dua tahun berselang, gagasan itu berlayar ke Pasifik Selatan.
Satgas Gabungan Terpadu Port Visit 2026 dilepas dari Dermaga 106 Tanjung Priok pada 14 September 2026, dengan membawa 318 personel dari TNI, Polri, kementerian, akademisi, hingga jurnalis . Misi ini mengusung tema “Health, Humanity, and Diplomacy” dengan semangat “Bridging Nations, Serving Humanity” .
KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 bukan kapal biasa. Ia adalah kapal bantu rumah sakit TNI AL yang dilengkapi fasilitas medis modern ruang operasi, laboratorium, ruang perawatan, dan farmasi . Dalam pelayaran 60 hari, kapal ini singgah di empat negara: Vanuatu, Fiji, Kepulauan Solomon, dan Papua Nugini.
Di Fiji, Menteri Kesehatan dan Layanan Medis Republik Fiji, Ratu Atonio Rabici Lalabalavu, meninjau langsung fasilitas kapal. Ia mengaku terkesan. “Kesan pertama saya adalah Anda memiliki kapasitas pelayanan kesehatan yang luar biasa di dalam kapal ini,” ujarnya . Fiji bahkan berharap dapat mengadopsi model serupa untuk melayani masyarakat kepulauannya yang tersebar.
Di Fiji, kehadiran KRI WSH-991 bertepatan dengan perayaan Hari Kemerdekaan ke-56 negara itu. Satgas diundang menghadiri upacara kenegaraan di Albert Park, Suva sebuah kehormatan yang jarang diberikan kepada misi asing.
Duta Besar RI untuk Fiji, Dupito D. Simamora, menyebut momen itu sebagai “kebanggaan” karena Indonesia diakui sebagai bagian dari keluarga Pasifik. “Kunjungan dari kapal rumah sakit ini adalah untuk menjembatani persahabatan, kerja sama antarnegara, dan melayani masyarakat Pasifik melalui misi kemanusiaan dan kesehatan,” ujarnya.
Selain pelayanan kesehatan, Satgas juga melaksanakan bakti sosial: membagikan sembako, menyerahkan karpet dan Alquran ke masjid, serta mengecor jalan di depan gereja. Pendekatan ini mencerminkan apa yang Ali tulis dalam bukunya bahwa diplomasi maritim sesungguhnya adalah tentang membangun kepercayaan melalui sentuhan humanis, bukan sekadar kekuatan.
Langkah ini bukan gerakan tunggal. Pada Agustus 2026, Kasal Muhammad Ali memimpin delegasi Indonesia dalam 20th ASEAN Navy Chiefs’ Meeting (ANCM) di Bangkok, dengan tema “One ASEAN, One Maritime Vision” . Ia menegaskan komitmen TNI AL dalam memperkuat arsitektur keamanan maritim kawasan melalui dialog dan kerja sama.
Ali juga mengarahkan pengadaan kapal induk ITS Giuseppe Garibaldi bukan untuk invasi, melainkan untuk mendukung diplomasi, port visit, dan bantuan kemanusiaan. Semua bermuara pada satu konsep: Blue Water Navy yang hadir sebagai kekuatan untuk kemanusiaan, bukan ancaman.
Ketika 504 warga Fiji meninggalkan dek KRI WSH-991 dengan obat di tangan dan senyum di wajah, mereka mungkin tidak tahu siapa Muhammad Ali. Tapi mereka merasakan apa yang Kasal Muhammad Ali percaya, bahwa Angkatan Laut yang hebat tidak diukur dari seberapa banyak peluru yang dibawa, melainkan dari seberapa banyak nyawa yang bisa diselamatkan.
Di Selat Malaka, Hiu Kencana adalah simbol kekuatan bawah laut. Di Pasifik Selatan, ia menjelma menjadi kapal rumah sakit yang membawa harapan.
(GRD/pen)














