VANUATU — Saat rantai jangkar raksasa itu merobek birunya Samudra Pasifik, yang tercium bukanlah bau mesiu, melainkan semerbak obat dan hangatnya pelukan persahabatan dari garis khatulistiwa.
Pada Sabtu, 3 Oktober 2026, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 (KRI WSH-991) bersandar dengan gagah di dermaga Port Vila.
Antrean panjang warga Vanuatu dengan kulit gelap khas Melanesia bukanlah untuk menonton atraksi militer, melainkan untuk berobat. Mereka menanti sebuah keajaiban yang datang dari laut.
Ini adalah bagian dari misi kunjungan pelabuhan (Port Visit) 2026 Satgas Gabungan Terpadu TNI AL. Namun, lebih dari sekadar rutinitas diplomasi, kehadiran kapal ini adalah manifestasi paling nyata dari doktrin yang diusung Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr. Muhammad Ali: menghadirkan TNI AL yang humanis, yang kehadirannya dirasakan langsung manfaatnya oleh rakyat, bukan sekadar kekuatan tempur di atas kertas.
Bagi sebagian besar angkatan laut di dunia, kunjungan kapal perang kerap diasosiasikan dengan pesan kekuatan. Namun, TNI AL di bawah komando Laksamana Muhammad Ali memilih narasi yang berbeda. Di Vanuatu, “Wahidin” bukanlah simbol intimidasi, melainkan simbol harapan.
Duta Besar RI untuk Australia dan Vanuatu, Dr. Siswo Pramono, yang hadir mendampingi Athan RI Laksma TNI Novera Budi L., menyaksikan langsung bagaimana ratusan warga Vanuatu memanfaatkan pelayanan kesehatan yang diselenggarakan di atas kapal. Bukan hanya konsultasi, tetapi juga tindakan medis yang selama ini sulit mereka jangkau.
“Kehadiran kami di sini adalah wujud diplomasi maritim yang mengedepankan nilai persahabatan, kemanusiaan, dan saling menghormati,” ujar Dubes Siswo di sela peninjauan.
Komandan KRI WSH-991, Kolonel Laut (P) Benedictus Hery Murwanto, memastikan seluruh fasilitas medis kapal mulai dari poliklinik hingga kamar operasi difungsikan secara maksimal. Antusiasme warga Vanuatu menjadi bukti bahwa bantuan ini tepat sasaran. Di tengah keterbatasan fasilitas kesehatan di negara kepulauan Pasifik tersebut, kehadiran “rumah sakit terapung” milik Indonesia bagaikan oase di padang gurun.
Kemanusiaan tidak berhenti di atas geladak kapal. Satgas melangkah lebih jauh ke daratan. Di Klinik Saint Camile De Lellis, Lini Highway, Anambrou Area, prajurit TNI AL bahu-membahu melakukan renovasi terbatas dan menyerahkan bantuan alat kesehatan. Ini adalah investasi jangka panjang: memastikan layanan kesehatan di klinik tersebut tetap berdenyut setelah kapal perang meninggalkan pelabuhan.
Bantuan material dan sembako juga mengalir bagi masyarakat yang membutuhkan. Namun, ada satu momen simbolik yang menyentuh hati: penyerahan Al-Qur’an kepada komunitas Muslim di Vanuatu.
Di negara yang mayoritas penduduknya beragama Kristen ini, gestur tersebut bukanlah upaya mengubah keyakinan, melainkan cermin dari komitmen Indonesia terhadap keberagaman dan penghormatan terhadap minoritas. Sebuah pesan damai yang universal.
Di George Pompidou Area, Opposite Public Works Department, suasana berubah menjadi semarak. Alunan musik dan tarian tradisional Indonesia memukau warga Vanuatu yang hadir. Di sini, diplomasi budaya berbaur dengan diplomasi pendidikan.
Satgas tidak hanya memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara, tetapi juga gencar mensosialisasikan program beasiswa pendidikan bagi pemuda-pemudi Vanuatu untuk melanjutkan studi di Indonesia. Ini adalah bentuk diplomasi paling strategis: membangun jembatan antar-manusia (people-to-people contact) yang akan mengikat kedua negara jauh melampaui generasi saat ini.
Langkah TNI AL ini bukan tanpa alasan strategis. Di tengah dinamika geopolitik kawasan Pasifik yang semakin panas, Indonesia melalui Laksamana Muhammad Ali memilih pendekatan yang khas: tidak ikut arus ketegangan, melainkan mengisi ruang kosong dengan kemanusiaan.
Bagi Indonesia, Vanuatu dan negara-negara Pasifik lainnya adalah tetangga dekat yang secara geografis dan kultural memiliki kedekatan dengan Indonesia bagian timur.
Kehadiran KRI WSH-991 adalah pesan bahwa Indonesia adalah sahabat yang bisa diandalkan, bukan hanya dalam forum-forum internasional, tetapi juga dalam aksi nyata di lapangan.
Rangkaian kegiatan Port Visit 2026 ini sejalan dengan arahan Kasal untuk terus memperkuat hubungan persahabatan dan kerja sama dengan negara-negara sahabat. Ini adalah wajah TNI AL yang tidak hanya kuat dalam pertempuran, tetapi juga lembut dalam mengayomi.
Saat matahari terbenam di Port Vila, dan warga Vanuatu kembali ke rumah masing-masing dengan senyum dan obat di tangan, satu hal menjadi jelas: di bawah komando Laksamana Muhammad Ali, TNI AL telah menemukan formula diplomasi maritim yang elegan menyembuhkan, membangun, dan merangkul. Bukan dengan ancaman, tetapi dengan ketulusan.
(GRD/pen)














