NATUNA – Suasana Kedai Kopi Jhon di Jalan Pramuka, Kecamatan Bunguran Timur, tampak berbeda pada Selasa (21/4/2026) pagi. Aroma robusta bercampur dengan hangatnya obrolan para buruh Penagi yang biasanya sibuk dengan rutinitas bongkar muat.
Pagi itu, mereka tidak sedang berbincang soal target kerja, melainkan berbincang langsung dari hati ke hati bersama Kapolres Natuna AKBP Novyan Aries Efendie, S.H., S.I.K., M.M., M.Tr.Opsla. dalam kegiatan bertajuk “Basembang Barcerite” sebuah frasa lokal yang berarti berbincang sambil bercerita.
Meninggalkan sekat formalitas ruang rapat, Kapolres memilih duduk sejajar dengan para pekerja. Ini adalah wajah lain dari pendekatan Polri Presisi; polisi yang hadir bukan sebagai penguasa, melainkan sebagai sahabat yang siap mendengar denyut nadi masyarakat akar rumput.
Kegiatan ini turut dihadiri jajaran pejabat utama Polres Natuna, di antaranya Kasat Lantas AKP Erwan Toni, Kasat Intelkam AKP Suranta Surbakti, S.H., hingga Kasat Polairud IPDA Guru Kinayan Sembiring.
Kehadiran mereka bukan untuk sekadar seremoni, melainkan untuk menyerap langsung setiap keluhan yang selama ini mungkin terpendam.
Dalam dialog santai penuh makna itu, AKBP Novyan Aries Efendie membuka percakapan dengan pesan persaudaraan. Ia menegaskan bahwa stabilitas keamanan di Kabupaten Natuna adalah harga mati yang harus dijaga bersama, terutama karena menyangkut keberlangsungan aktivitas ekonomi para buruh.
“Kami sengaja menggelar acara di kedai kopi seperti ini agar bapak dan ibu sekalian tidak canggung. Silaturahmi ini adalah sarana untuk memperkuat sinergi. Kami ingin dengar langsung, apa yang menjadi keresahan di lapangan,” ujar Kapolres dengan gaya komunikatif khas pimpinan muda.
Sorotan Utama: Isu Kelangkaan BBM dan Pengawasan Distribusi
Sesi “Basembang Barcerite” memanas namun tetap konstruktif ketika masuk pada isu paling krusial di Natuna: Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Para perwakilan buruh Penagi menyuarakan kegelisahan mereka. Di tengah kondisi geografis kepulauan yang menantang, kelancaran pasokan BBM adalah urat nadi penghasilan mereka.
Menanggapi hal tersebut, Kapolres Natuna memberikan jawaban yang menenangkan sekaligus tegas.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak mudah termakan isu yang tidak jelas sumbernya. Terkait BBM, saya tegaskan, Polres Natuna bersama instansi terkait akan terus melakukan pengawasan ketat. Jangan sampai ada oknum yang bermain-main dengan menimbun atau menyalahgunakan distribusi BBM yang merugikan para buruh,” tegas AKBP Novyan.
Kapolres juga membuka pintu selebar-lebarnya bagi para buruh untuk menjadi mata dan telinga Polri. Jika menemukan indikasi penimbunan atau permainan harga di lapangan, para buruh diminta tidak ragu melapor.
Apresiasi Buruh Penagi: “Kami Merasa Didengar”
Perwakilan Buruh Penagi menyambut baik inisiatif ini. Mereka menilai, dialog langsung ala kedai kopi ini jauh lebih efektif daripada sekadar penyuluhan formal.
Salah satu perwakilan buruh menyampaikan harapannya agar pengawasan distribusi BBM benar-benar menyentuh hingga ke akar rumput, sehingga aktivitas ekonomi mereka tidak tersendat.
“Kami sangat berterima kasih atas kehadiran bapak Kapolres. Ini bentuk kepedulian yang nyata. Kami harap BBM di Natuna bisa lancar dan merata, karena itu menyangkut dapur kami semua,” ungkap salah satu buruh.
Kegiatan “Basembang Barcerite” ini setidaknya menghasilkan tiga dampak positif yang signifikan:
1. Komunikasi Dua Arah: Terjalinnya komunikasi yang lebih terbuka dan manusiawi antara Polri dengan komunitas buruh.
2. Kepedulian Kamtibmas: Meningkatnya kesadaran para pekerja untuk ikut menjaga keamanan lingkungan tempat mereka bekerja.
3. Kepercayaan Publik: Semakin kokohnya kepercayaan publik terhadap Polres Natuna sebagai institusi yang melindungi, mengayomi, dan melayani tanpa jarak.
Melalui secangkir kopi di pagi hari, Polres Natuna kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga Kabupaten Natuna sebagai beranda terdepan NKRI yang aman, nyaman, dan sejahtera bagi seluruh elemen masyarakatnya.
(GRD)













