Efisiensi Energi TNI AL: KSAL Siapkan Drone dan Kapal Selam Tanpa Awak Gantikan Patroli Laut

KRI Bima Suci bersama Satgas Operasi Kartika Jala Krida (KJK) 2021 tiba di dermaga Imam Lastory Daruba, Pulau Morotai, Maluku utara
Sorotan Drone KRI Bima Suci bersama Satgas Operasi Kartika Jala Krida (KJK) 2021 tiba di dermaga Imam Lastory Daruba, Pulau Morotai, Maluku utara

JAKARTA – Merespons gejolak energi global dan arahan efisiensi dari Presiden Prabowo Subianto, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali membeberkan strategi revolusioner pengamanan laut. TNI Angkatan Laut akan beralih secara masif dari kapal patroli konvensional ke penggunaan teknologi nirawak (drone) dan Kapal Selam Tanpa Awak (KSOT).

Langkah ini diambil sebagai siasat untuk memangkas konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara drastis tanpa mengorbankan intensitas penjagaan kedaulatan maritim Indonesia.

Dalam keterangannya usai meresmikan armada bus listrik di Markas Besar TNI AL (Mabesal), Cilangkap, Jakarta, Kamis (16/4), Laksamana TNI Dr Muhammad Ali secara terbuka mengakui bahwa gejolak di Timur Tengah telah memberikan tekanan langsung pada logistik operasional TNI AL.

“Gejolak di Timur Tengah berdampak langsung pada pasokan bahan bakar. Drone ini sangat efektif dan sangat efisien, karena dia juga bisa digerakkan dengan jarak yang cukup jauh untuk melaksanakan patroli dari udara maupun dari permukaan,” ujar Laksamana Ali.

Penggunaan Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Unmanned Surface Vehicle (USV) dinilai mampu menghemat puluhan ribu liter BBM per patroli. Satu kapal patroli kelas ringan bisa menghabiskan hingga 1.500 liter solar per hari. Sebaliknya, drone maritim dapat beroperasi selama berjam-jam hanya dengan tenaga baterai atau mesin kecil berkapasitas efisien.

Proyeksi KSOT: Pengawasan Bawah Air Tanpa Batas

Lebih lanjut, Laksamana Ali membocorkan rencana besar TNI AL di masa depan yang akan semakin mengurangi jejak karbon sekaligus jejak anggaran. TNI AL tengah mematangkan rencana pengoperasian Kapal Selam Tanpa Awak (KSOT) untuk patroli bawah laut.

“Bahkan nanti ke depan seperti KSOT yang kalian mungkin tahu juga, itu juga akan kita gunakan untuk di bawah air. Gitu,” imbuhnya.

BACA JUGA :  Ini Alasan Prabowo Naikkan Status Kopassus, Marinir dan Kopasgat Dampaknya Besar Pertahanan Nasional

Penggunaan KSOT ini menjadi krusial mengingat pengoperasian kapal selam konvensional berawak membutuhkan konsumsi solar dan dukungan logistik yang sangat masif. Dengan KSOT, area rawan penyusupan atau pencurian sumber daya alam di bawah laut dapat diawasi secara persistent surveillance dengan biaya operasional yang minimal.

Amanat Presiden Prabowo: Proaktif di Tengah Krisis Global

Perubahan doktrin operasional TNI AL ini merupakan implementasi langsung dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam Sidang Kabinet Paripurna.

Presiden menekankan bahwa meskipun Indonesia relatif aman, langkah proaktif penghematan adalah keniscayaan di tengah konflik Eropa dan Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia.

“Kita tidak ada upaya untuk mengurangi konsumsi BBM kita, ya kita bersyukur kita aman, tapi kita harus lakukan langkah proaktif,” tegas Prabowo.

Dengan arahan tersebut, TNI AL menjadi matra pertama yang secara konkret menyatakan peralihan moda patroli dari fuel-based ke tech-based. Hal ini diproyeksikan tidak hanya menghemat anggaran negara hingga miliaran rupiah per tahun, tetapi juga meningkatkan radius pengawasan secara eksponensial.

(HRD)

 

Editor: Riky Rinovsky

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *